
Istanbul – Peta energi global diperkirakan akan mengalami pembaharuan besar di beberapa tahun ke depan seiring krisis dalam Selat Hormuz yang digunakan memacu berbagai negara meninjau kembali strategi keamanan pasokan energi, jalur perdagangan, kemudian kemitraan internasional mereka.
Presiden Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA), Fatih Birol, mengungkapkan krisis yang dimaksud akan berubah jadi titik balik bagi sektor energi dunia.
“Terlepas dari bagaimana persoalan Hormuz berakhir, saya pikir peta energi bola akan mulai digambar ulang pada dua hingga tiga tahun ke depan. Kemitraan akan didefinisikan ulang lalu kemitraan baru akan terbentuk,” kata Birol di perjumpaan Dewan Penasihat Tinggi Asosiasi Industri dan juga Bisnis Turkiye di Istanbul, Kamis.
Menurut Birol, krisis energi yang dipicu peperangan dengan Iran telah lama mengubah perhitungan lingkungan ekonomi energi global.
Ia menjelaskan bahwa melimpahnya pasokan energi sebelum peperangan juga pelepasan cadangan minyak membantu membatasi lonjakan harga. Namun, ia menegaskan bahwa solusi jangka panjang hanya sekali dapat dicapai melalui pemulihan jalur pelayaran yang digunakan aman dalam Selat Hormuz.
“Solusi berhadapan dengan permasalahan ini, satu-satunya cara yang tersebut paling penting, adalah membuka Selat Hormuz tanpa kriteria dengan jaminan keamanan yang mana dipercaya oleh semua pihak,” ujarnya.
Birol mengingatkan bahwa hingga empat tahun setelah itu perekonomian bola serta sistem energi global miliki dua jalur vital utama, yakni jaringan pipa yang mengalirkan energi dari Siberia Barat Rusia ke Eropa dan juga Selat Hormuz.
“Keduanya pada waktu ini tertutup,” katanya.
Kepala IEA itu memandang gangguan mental arus energi melalui Selat Hormuz, juga risiko terulangnya gangguan jiwa sejenis di masa depan, sudah pernah menempatkan isu kepercayaan juga diversifikasi pasokan sebagai prioritas utama di rencana energi global.
“Kepercayaan akan berubah menjadi factor yang dimaksud sangat penting pada bermacam kesepakatan ke planet energi. Saat ini negara-negara semakin memperhatikan diversifikasi pasokan kemudian berupaya mencegah ketergantungan pada satu sumber saja,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa krisis yang disebutkan juga mempercepat minat terhadap konstruksi jalur pipa alternatif, pemanfaatan sumber energi domestik, juga pencarian tujuan penanaman modal baru di dalam sektor energi.
Birol juga menyoroti bahwa planet pada waktu ini menggerakkan cepat menuju “era listrik”, dengan pertumbuhan permintaan listrik yang digunakan mencapai tiga kali tambahan cepat dibandingkan perkembangan permintaan energi secara keseluruhan.
“Pertumbuhan sektor listrik pada masa kini mendominasi segalanya,” katanya.
Menurutnya, perasaan khawatir terhadap keamanan energi akan semakin memacu pembangunan ekonomi pada energi terbarukan, pembangkit listrik tenaga nuklir, kemudian teknologi penyimpanan energi berbasis baterai.
Terkait penyelenggaraan Pertemuan Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP31) yang digunakan akan dijalankan ke Turkiye tahun ini, Birol menafsirkan kompetisi yang disebutkan merupakan potensi besar bagi negara tersebut.
Ia mengatakan banyak prioritas utama yang mana diperlukan didorong, antara lain meningkatkan tingkat elektrifikasi global dari 25 persen berubah menjadi 35 persen pada 2035, menghurangi limbah hingga setengahnya di 10 tahun melalui program nol limbah Turkiye, dan juga memperkenalkan metode memasak yang mana lebih banyak bersih di dalam Afrika.
“COP31 merupakan prospek yang dimaksud sangat besar. Saya pikir COP31 adalah kesempatan untuk menunjukkan perhatikan kemanusiaan kita untuk dunia,” ujarnya.
“Bagi Turkiye, ini adalah prospek bersejarah sekaligus tanggung jawab bersejarah. Mengangkat kembali isu iklim yang tersebut belakangan semakin turun pada program global merupakan langkah yang mana sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang tersebut kita junjung,” kata Birol.
Sumber: Anadolu
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk Kecerdasan Buatan di dalam portal web ini tanpa izin ditulis dari Kantor Berita ANTARA.



