berita viral

Korban tewas banjir Nepal-China 1.280 orang, 5.260 masih hilang

Islamabad/Istanbul – Jumlah orang yang terluka tewas akibat banjir bandang dahsyat pada Nepal juga China bertambah berubah menjadi 1.280 per Kamis (3/9), sementara tambahan dari 5.620 penduduk masih hilang pada operasi pencarian dan juga penyelamatan yang memasuki pekan kedua.

Badan Nasional Pengurangan Risiko dan juga Penanggulangan Bencana Nepal menyatakan 1.259 tewas, sementara 5.083 khalayak masih hilang. Jumlah individu yang terjebak hilang yang disebutkan mencakup 583 pemukim asing. Lebih dari 21.400 personel keamanan sudah dikerahkan.

Sejumlah keluarga penderita hilang akibat banjir pada Nepal itu menyelenggarakan upacara pemakaman simbolis untuk kerabat tercinta mereka.

Sementara itu, dalam negara tetangga, China, dilaporkan 21 tewas juga 541 warga masih hilang, satu di antaranya 261 warga asing, menurut pihak berwenang setempat.

Di Rasuwa, salah satu area terdampak paling parah, sebagian keluarga memproduksi patung pemakaman dari kaas-kush atau rumput suci serta melakukan ritual untuk membebaskan jiwa kerabat merek yang tersebut hilang.

Menurut laporan Kathmandu Post, hal itu diwujudkan dikarenakan para keluarga telah lama kehilangan harapan untuk menemukan jenazah kerabat mereka itu yang dimaksud hilang dikarenakan banjir bandang.

Pada Rabu (2/9), puluhan patung yang dimaksud dikremasi pada upacara pemakaman massal di Kuil Pashupati Aryaghat, yang mana terletak ke tepi Sungai Bagmati, Kathmandu.

Sedangkan pada Chitwan, tempat lain yang dimaksud juga terdampak paling parah, otoritas setempat membakar jasad-jasad yang tersebut tak dikenali setelahnya menghimpun sampel DNA mereka.

Hal itu diwujudkan dikarenakan besarnya jumlah keseluruhan orang yang terluka yang mana memproduksi langkah-langkah identifikasi kemudian penyimpanan jasad menjadi amat sulit.

Tak sedikit korban banjir dalam sebagian distrik yang digunakan tak memiliki tempat layak untuk menyelenggarakan ritual pemakaman lantaran banjir bandang menghanyutkan kerabat serta rumah mereka.

Para orang yang terluka yang digunakan kehilangan semuanya kemudian sedang berupaya mencari tempat dalam Kathmandu juga tak dapat menemukan infrastruktur rakyat yang digunakan layak untuk melakukan ritual.

Lebih lanjut, personel militer, kepolisian, dan juga lainnya melanjutkan operasi pencarian juga penyelamatan ke kawasan terdampak banjir. Namun, mereka menghadapi kesulitan sebab masih terputusnya jalan, pasokan listrik, kemudian jaringan komunikasi.

Mereka juga terus berupaya mengantarkan bantuan kemanusiaan juga menyimpan kebersihan dalam tempat-tempat pengungsian demi menekan risiko penyakit menular.

Banjir bandang melanda perbatasan Nepal-China pada 26 Agustus setelahnya sebuah gletser pada ketinggian 5.200 meter pecah dari Gunung Langtang Lirung ke Nepal.

Pecahan gletser itu mengakibatkan longsor es serta bebatuan yang mana mengalir mengakibatkan puing-puing kemudian menyapu lembah-lembah di dalam perbatasan.

Banjir bandang kemudian longsor lumpur menghancurkan distrik Rasuwa, Nuwakot, Dhading, dan juga Kavre, kemudian Lembah Kathmandu, juga mengubur titik lintas batas Gyirong dalam bagian barat daya Kawasan Otonom Xizang atau Tibet.

Sumber: Anadolu

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk Kecerdasan Buatan di dalam laman web ini tanpa izin ditulis dari Kantor Berita ANTARA.

Related Articles