
Teheran – Iran menyatakan agar Badan Energi Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) harus menyavoid upaya memberikan tekanan terhadap Teheran apabila ingin berperan pada penyelesaian diplomatik isu nuklir Iran.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, Sabtu, memaparkan bahwa badan pengawas nuklir PBB itu tiada seharusnya mengubah laporan teknis berubah jadi alat tekanan politik.
"Jika badan yang dimaksud ingin bermetamorfosis menjadi bagian dari solusi diplomatik, maka badan itu harus menahan diri untuk tidaklah mengubah laporan teknis bermetamorfosis menjadi alat tekanan politik," tulis Gharibabadi melalui media X.
Ia juga menambahkan bahwa Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, hingga ketika ini belum mengecam serangan Amerika Serikat juga tanah Israel terhadap infrastruktur nuklir Iran.
Menurut Gharibabadi, badan yang disebutkan tidak ada dapat melaporkan dampak serangan tersebut, menuntut Iran menanggung konsekuensi teknis juga politiknya, namun permanen diam mengenai pihak yang dimaksud melakukan serangan.
Sebelumnya pada 28 Februari, Amerika Serikat juga negeri Israel melancarkan serangan bersatu terhadap sebagian sasaran ke Iran, di antaranya dalam Teheran, yang dimaksud mengakibatkan kecacatan dan juga penderita sipil. Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah tanah Israel dan juga infrastruktur militer Amerika Serikat dalam Timur Tengah.
Kemudian pada 7 April, Washington dan juga Teheran mengumumkan gencatan senjata. Namun, perundingan lanjutan yang berlangsung dalam Islamabad berakhir tanpa memunculkan terobosan.
Pada Juni 2025, Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sarana nuklir Iran pada operasi yang digunakan disebut Operation Midnight Hammer.
Untuk mencapai kesepakatan dengan Iran, Washington menuntut pemindahan material nuklir dan juga pengabaian ambisi Teheran untuk mempunyai senjata nuklir, tuduhan yang mana selama ini dibantah oleh Iran.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk Artificial Intelligence ke portal web ini tanpa izin ditulis dari Kantor Berita ANTARA.



