
Istanbul – gerakan Hamas pada Hari Sabtu menyatakan telah dilakukan memulai reuni di Kairo, Mesir, dengan para mediator lalu faksi-faksi Palestina untuk mengeksplorasi penyelesaian implementasi tahap pertama perjanjian gencatan senjata di dalam Kawasan Gaza dan juga pengaturan menuju tahap kedua.
Dalam pernyataan video, juru bicara gerakan Hamas Hazem Qassem menyatakan pertarungan yang disebutkan akan berfokus pada upaya memverifikasi implementasi penuh tahap pertama perjanjian, satu di antaranya mengakhiri apa yang mana disebut sebagai pelanggaran oleh Israel, membuka kembali perlintasan perbatasan, juga mengizinkan masuknya kembali bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.
Pembahasan juga akan mencakup isu-isu terkait tahap kedua perjanjian gencatan senjata, satu di antaranya usulan mengenai penempatan pasukan internasional ke Wilayah Gaza dan juga perlucutan senjata faksi-faksi Palestina.
Qassem menyatakan kelompok Hamas memasuki perundingan dengan rasa tanggung jawab nasional, dengan menempatkan kepentingan rakyat Palestina sebagai prioritas utama di upaya politiknya.
Dia menambahkan bahwa pergerakan yang disebutkan berupaya menghindari kembalinya konflik pada Jalur Daerah Gaza juga melindungi warga Palestina pada wilayah kantong tersebut.
Delegasi senior gerakan Hamas tiba di dalam Kairo, Hari Jumat (5/6), untuk melakukan pembicaraan dengan pejabat Mesir mengenai penyelesaian implementasi tahap pertama perjanjian gencatan senjata juga penyusunan mekanisme untuk beralih ke tahap kedua.
Menurut Hamas, delegasi yang disebutkan dipimpin oleh Khalil al-Hayya, pemimpin gerakan Hamas di Kawasan Gaza sekaligus kepala perunding kelompok tersebut.
Sementara itu, pada September, Donald Trump mengumumkan rencana 20 poin yang menguraikan kerangka gencatan senjata, salah satunya pembebasan sandera Israel, pencabutan pasukan tanah Israel dari Gaza, pembentukan pemerintahan teknokrat, dan juga penempatan pasukan stabilisasi internasional, disertai seruan agar kelompok Hamas melucuti senjatanya.
Tahap pertama perjanjian gencatan senjata mencakup penghentian sementara pertempuran juga pertukaran tahanan antara negara Israel lalu faksi-faksi Palestina.
Namun, sumber-sumber Palestina menyatakan tanah Israel terus melanggar perjanjian yang dimaksud hampir setiap hari.
Dalam tahap kedua, negara Israel diharapkan melakukan pengunduran pasukan lebih lanjut lanjut dari wilayah itu, sementara pasukan stabilisasi internasional akan mengambil alih tanggung jawab keamanan, di antaranya memfasilitasi penyaluran bantuan kemanusiaan lalu material rekonstruksi.
Menurut data Palestina, operasi militer negara Israel ke Daerah Gaza sejak Oktober 2023 telah terjadi menewaskan hampir 73.000 warga Palestina lalu melukai lebih banyak dari 173.000 orang, sebagian besar merupakan perempuan juga anak-anak.
Meski gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, Kementerian Bidang Kesehatan Kawasan Gaza menyatakan militer negara Israel masih menewaskan sedikitnya 947 warga Palestina lalu melukai 2.935 lainnya di serangan yang dimaksud terjadi hampir setiap hari.
Sumber: Anadolu
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk Kecerdasan Buatan ke portal web ini tanpa izin tertoreh dari Kantor Berita ANTARA.



