otomotif

Pakar: Industri otomotif terdampak imbas naiknya nilai tukar dolar

DKI Jakarta (ANTARA) – Meningkatnya nilai tukar dolar pada ketika ini diproyeksikan memberikan tekanan terhadap bidang otomotif nasional, seperti diutarakan pakar  bidang otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Agus Puwadi.

Agus mengkaji dampak terbesar akan dirasakan pada biaya produksi, margin industri, hingga nilai tukar kendaraan yang digunakan berkemungkinan mengalami kenaikan.

“Biaya produksi akan melonjak oleh sebab itu komponen kemudian material baku otomotif masih memiliki isi impor yang tinggi,” ucapannya dihubungi dari Jakarta, Rabu.

Baca juga: Jepang sebut lapangan usaha otomotif jadi pembangunan ekonomi menjanjikan dalam Indonesia

Menurut peneliti pusat penelitian multidisiplin teknologi terapan untuk sistem transportasi NCSTT ITB yang mana kerap meneliti perihal bidang otomotif, diantaranya mobil listrik lalu ekosistemnya tersebut, mengatakan, bidang otomotif Nusantara masih miliki ketergantungan yang digunakan tinggi terhadap komponen lalu unsur baku impor.

Kondisi yang dimaksud menghasilkan meningkatnya nilai tukar dolar langsung berdampak pada kenaikan biaya operasional ke lini perakitan kendaraan.

Selain meningkatkan biaya produksi, pelemahan kurs rupiah juga berisiko menggerus margin industri. Agus menjelaskan, kenaikan nilai barang impor akibat imported inflation akan menambah beban pelaku usaha otomotif.

Di sisi lain, kenaikan nilai tukar kendaraan dinilai tidaklah dapat dihindari. Hal itu akibat nilai komponen yang mana digunakan pada proses produksi sangat dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Akademisi penghargaan doktor Teknik Tenaga Listrik ITB itu memperkirakan tekanan terhadap bidang otomotif akan semakin terasa di waktu dua hingga tiga bulan ke depan.

Khusus untuk kendaraan buatan di negeri, Agus menafsirkan model yang digunakan masih miliki komposisi impor lebih tinggi akan berubah menjadi kelompok yang tersebut paling rentan terdampak. Kondisi ini berpotensi memunculkan polarisasi yang tersebut tajam ke bursa otomotif.

Selain itu, ketidakpastian kurs juga menciptakan produsen menghadapi kesulitan pada menyusun target produksi, menentukan biaya jual, juga merancang strategi promosi.

Meski demikian, Agus mengumumkan pelaku bidang yang dimaksud tergabung di Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) relatif permanen optimistis. Mereka memandang keadaan ini tidak akan berlangsung lama sehingga bukan berdampak buruk terhadap bidang otomotif di jangka panjang.

"Namun Gaikindo relatif cukup optimistis kondisi ini tiada akan berlangsung lama sehingga bukan berdampak buruk di jangka panjang," ia menambahkan.

Baca juga: Gaikindo optimis pemasaran otomotif tetap meningkat pada 2026

Baca juga: Kemnaker siapkan SDM terampil untuk sektor "green jobs" termasuk EV

Baca juga: Wamenekraf soroti peluang bidang kustom otomotif untuk ekspor

Related Articles