berita viral

Korporasi teknologi kaji ulang strategi penggantian pekerja oleh Teknologi AI

Ankara/Istanbul – Perusahaan-perusahaan teknologi sedang menyesuaikan kembali tujuan merek untuk beroperasi dengan grup yang digunakan lebih lanjut kecil dan juga memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) alih-alih mempekerjakan tenaga kerja manusia.

Raksasa teknologi Meta, misalnya, baru-baru ini menunda rencana restrukturisasi lanjutan setelahnya gagal mencapai target efisiensinya.

Meta sempat berencana melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap hingga 60 persen karyawan di beberapa grup lalu melimpahkan sebagian besar tugas untuk agen AI.

Namun perusahaan memutuskan untuk membatalkan rencana yang disebutkan dikarenakan target yang dimaksud diharapkan tidak ada tercapai.

Meta menghentikan rencana pengurangan karyawan lebih tinggi lanjut, menyusul gelombang PHK pertama, setelahnya data internal menunjukkan bahwa sistem Teknologi AI tak memberikan hasil yang diharapkan serta hambatan teknis justru meningkat, begitu pula dengan waktu yang diluangkan karyawan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.

CEO Meta, Mark Zuckerberg, kemudian menyatakan bahwa tak akan ada lagi PHK massal dalam seluruh perusahaan pada tahun ini.

Hal sama muncul pada perusahaan fintech selama Swedia, Klarna, yang digunakan kembali merekrut staf manusia akibat kesulitan kualitas layanan, setelahnya sebelumnya mengeklaim bahwa sistem layanan pelanggan berbasis Teknologi AI merekan mampu menangani pekerjaan beratus-ratus karyawan sehingga merek sempat menghentikan perekrutan.

CEO Klarna, Sebastian Siemiatkowski, menyatakan bahwa perusahaan sebelumnya terlalu fokus pada pemangkasan biaya; kini, model baru perusahaan melibatkan Kecerdasan Buatan untuk terus menangani tugas-tugas rutin, namun kekal memungkinkan pelanggan untuk berbicara dengan perwakilan layanan pelanggan manusia apabila diperlukan.

Perusahaan-perusahaan tak sepenuhnya meninggalkan AI, namun ekspektasi bahwa teknologi akan menggantikan tenaga kerja manusia mulai bergeser.

Laporan ketenagakerjaan sektor teknologi tahun 2026 dari SignalFire menunjukkan bahwa total perekrutan pada perusahaan-perusahaan teknologi besar turun 25 persen dibandingkan dengan tahun 2019.

Sementara penurunan perekrutan insinyur perangkat lunak belaka sebesar 11 persen, proporsi insinyur perangkat lunak pada total perekrutan justru meningkat dari 46 persen bermetamorfosis menjadi 55 persen.

Lapangan kerja pada bidang rekayasa Artificial Intelligence kemudian pembelajaran mesin mengalami pertumbuhan, namun sikap dalam bidang desain, pemasaran, dan juga manajemen produk-produk justru mengalami penurunan yang digunakan lebih tinggi tajam.

Stanford Digital Economy Lab bukan menemukan bukti adanya hilangnya pekerjaan secara luas akibat Artificial Intelligence di seluruh sektor ekonomi.

Namun, laporan laboratorium tersebut, yang digunakan didasarkan pada data penggajian AS, menemukan bahwa tingkat penyerapan tenaga kerja bagi kelompok usia 22-25 tahun tambahan rendah pada jenis pekerjaan yang dimaksud sangat terdampak oleh AI.

Para peneliti yang menyusun laporan yang disebutkan menyatakan bahwa sebagian besar dampak itu disebabkan oleh perusahaan yang dimaksud menurunkan perekrutan karyawan tingkat pemula, bukanlah akibat PHK massal secara luas.

Sementara itu, pengurangan skala tenaga kerja di dalam sektor teknologi terus berlanjut seiring dengan meningkatnya pembangunan ekonomi pada bidang AI.

Contoh terkini dari Meta dan juga Klarna, dan juga data perekrutan terbaru, menunjukkan bahwa perusahaan tak terlalu mengandalkan Artificial Intelligence untuk sepenuhnya menggantikan tenaga kerja manusia, melainkan untuk membentuk regu yang tersebut lebih tinggi ramping juga lebih tinggi teknis yang dimaksud memanfaatkan Ai.

Contoh-contoh yang dimaksud juga memperlihatkan adanya batasan yang mana jelas di upaya meningkatkan produktivitas melalui Kecerdasan Buatan dengan cara menghurangi total pekerja.

Sumber: Anadolu

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk Artificial Intelligence di laman web ini tanpa izin tertoreh dari Kantor Berita ANTARA.

Related Articles