
Wilayah Gaza – Sebagian besar bantuan kemanusiaan yang diperlukan komunitas pada Jalur Wilayah Gaza tiada sampai ke wilayah yang dimaksud akibat terus dihalangi Israel, menurut kantor informasi otoritas Gaza, Selasa.
"Otoritas penjajah tidak ada mengizinkan masuk hingga 65 persen dari pasokan makanan yang digunakan diperlukan, sementara 90 persen lebih banyak populasi Kawasan Gaza tak dapat membeli makanan," kata badan tersebut.
Otoritas Palestina mencatat bahwa lebih besar dari 95 persen warga Kawasan Gaza masih menggantungkan hidupnya dari bantuan kemanusiaan.
Pada 9 Oktober 2025, negara Israel lalu Hamas, melalui mediasi Mesir, Qatar, Amerika Serikat, juga Turki, mencapai kesepakatan mengakhiri konflik dalam Jalur Daerah Gaza yang mana kemudian diresmikan di KTT di dalam Sharm El-Sheikh Mesir pada 13 Oktober 2025.
Kesepakatan yang dimaksud mengatur implementasi gencatan senjata, pembebasan sandera di dalam Kawasan Gaza untuk ditukar dengan tahanan Palestina, peningkatan aliran bantuan kemanusiaan, dan juga pengunduran secara bertahap pasukan militer negeri Israel dari Gaza.
Namun demikian, implementasi kesepakatan gencatan senjata yang disebutkan masih belum rampung oleh sebab itu para pihak berselisih terkait langkah apa yang tersebut harus diambil terlebih dahulu.
Pihak negara Israel menuntut agar pelucutan senjata gerakan Hamas dikerjakan sebelum merek melanjutkan pengunduran pasukan, sementara kelompok Hamas bersikukuh agar tanah Israel menghentikan dulu serangan mereka, menyita perhatian pasukan militer, lalu memenuhi kewajiban bantuan kemanusiaan.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk Teknologi AI pada web web ini tanpa izin tertoreh dari Kantor Berita ANTARA.



