
New York – Majelis Umum PBB mengadopsi resolusi yang digunakan menyokong negara, organisasi internasional, kemudian entitas lain memperluas pengaplikasian proyeksi peta Equal Earth yang dimaksud lebih lanjut akurat menggambarkan ukuran benua, teristimewa Afrika.
"Majelis Umum … menyokong negara-negara anggota, organisasi internasional, kemudian entitas terkait lainnya untuk mengadopsi, menyebarluaskan, kemudian menggunakan proyeksi kartografi Equal Earth juga metode peta berluas sama, yang tersebut tambahan akurat menggambarkan luas sebenarnya benua di mana ukuran wilayah menjadi hal penting," demikian isi resolusi tersebut.
Peta Equal Earth dinilai lebih lanjut akurat di menggambarkan ukuran seluruh benua, khususnya Afrika. Namun, resolusi itu mengakui tiada ada satu pun proyeksi yang dapat memindahkan permukaan bumi yang melengkung ke bidang datar secara sempurna.
Resolusi itu mengatakan proyeksi Mercator, yang digunakan dikembangkan pada abad ke-16 untuk navigasi, masih banyak digunakan pada materi pendidikan, media, digital, juga resmi.
Padahal, proyeksi yang dimaksud secara signifikan mendistorsi ukuran wilayah yang digunakan berada berjauhan dari garis khatulistiwa.
Menurut resolusi itu, keadaan yang dimaksud berkontribusi pada "mengecilkan persepsi terhadap ukuran Afrika, Amerika Latin, juga Asia Selatan dan juga melanggengkan pandangan globus yang dimaksud tidak ada seimbang."
Dokumen yang dimaksud menyampaikan distorsi ukuran benua yang mana diwariskan itu sebagai bentuk bias historis yang digunakan memengaruhi bidang pendidikan, budaya, geopolitik, dan juga sosial ekonomi.
Sebanyak 164 negara, di antaranya Rusia, membantu resolusi berjudul "Correct the Map: Rebalancing Global Cartographic Representation and Promoting Equitable Representation of the World's Regions, Particularly Africa".
Amerika Serikat menolak resolusi tersebut, sedangkan enam negara lainnya memilih abstain.
Resolusi Majelis Umum PBB tidak ada memiliki kekuatan hukum yang dimaksud mengikat.
Sumber: Sputnik
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk Artificial Intelligence ke web web ini tanpa izin tertoreh dari Kantor Berita ANTARA.



