
Ibukota Indonesia (ANTARA) – Kenaikan nilai tukar substansi bakar minyak (BBM) dinilai berpengaruh terhadap minat dan juga perilaku konsumen di membeli mobil.
Chief Operating Officer Mazda Indonesi Ricky Thio tidak menampik adanya dampak kenaikan nilai BBM terhadap perubahan perilaku konsumen di menghasilkan kebijakan mengenai pembelian mobil.
"Ya, ada, beberapa pelanggan kami ada yang tersebut tanya, ada yang mana jadi berpikir-pikir, tapi, tugas kita adalah memberikan jawaban, menjelaskan dari segi nilai-nilai yang mana beda," katanya ke Jakarta, Rabu.
"Jadi, saya rasa bohong kalau misalnya ada pergerakan yang cukup besar pada pangsa atau ke rakyat tiada memberikan dampak apa-apa," ia menambahkan.
Ia mengemukakan bahwa kenaikan nilai BBM mempengaruhi langkah banyak konsumen di membeli kendaraan, tetapi ia tidak ada menyampaikan data pastinya.
"Ada, satu dua pasti ada. Tidak kemungkinan besar sejenis sekali bukan ada. Kalau saya bilang serupa sekali tiada ada, itu artinya saya bohong. Tapi, bagaimana cara kita mengelolanya saja, dan juga bagaimana kita bisa saja terus stabil," katanya.
Baca juga: Mazda akan datang meluncurkan tiga model mobil baru di GIIAS 2026
Perusahaan menghadapi dampak kenaikan tarif BBM terhadap perilaku pembeli mobil dengan menawarkan item bernilai tambah terhadap konsumen agar perdagangan kendaraan merek sanggup kekal terjaga.
Harga minyak mentah Brent pada Mingguan (12/7) diwartakan naik sekitar 3,5 persen menjadi hampir 79 dolar Amerika Serikat per barel.
Kenaikan harga jual minyak mentah tidaklah lepas dari gangguan setelah itu lintas kapal komersial yang digunakan berlangsung di Selat Hormuz setelah Amerika Serikat kemudian Iran kembali saling menyerang, meningkatkan risiko keamanan ke jalur distribusi energi utama dunia.
Baca juga: Jetour tawarkan tarif khusus terhadap 1.000 pembeli pertama T2
Baca juga: Penjualan mobil listrik pada pangsa domestik China menurun



