
Yogyakarta – Indonesia's Horse Racing (IHR) Paku Alam Cup 2026 yang dimaksud diselenggarakan Pordasi, Sarga.co, kemudian Kadipaten Pakualaman menghadirkan kompetisi pacuan kuda kelas lokal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebagai upaya membangkitkan antusiasme komunitas terhadap olahraga tersebut.
Ketua Komisi Pacu Pengurus Pusat Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Nusantara (PP Pordasi) Muchammad Munawir mengutarakan terdapat kelas lokal DIY di IHR Paku Alam Cup 2026 yang tersebut merupakan usulan dengan segera dari Kadipaten Pakualaman.
"Tujuan adanya kelas lokal agar habitat pacuan kuda pada Yogyakarta kembali antusias," kata Munawir di dalam Kompleks Lapangan Pacuan Kuda Sultan Agung, Bantul, Yogyakarta, Minggu.
Menurut dia, seluruh partisipan kemudian kuda pada kelas yang dimaksud diwajibkan dari lokal DIY sehingga peluncuran kelas yang disebutkan mampu meningkatkan keterlibatan warga sekaligus menumbuhkan kebanggaan area terhadap olahraga pacuan kuda.
"Pemilik kuda dari DIY, jadinya betul-betul lokal DIY," tegasnya.
Munawir menjelaskan terdapat lima kuda dengan pemilik warga asli DIY yang tersebut berkompetisi pada kelas lokal tersebut.
"Ada Berkah Sari, Tarzan, Masih Rindu 99, Belova, dan juga Putra Audy," kata Munawir.
Selain kelas lokal, Munawir mengumumkan IHR Paku Alam Cup juga bersaing untuk Piala Paku Alam pada kelas terbuka Handicap 2.000 meter yang mana berstatus sebagai piala bergilir.
Piala tersebut, lanjutnya, dapat dimiliki partisipan secara tetap apabila mampu memenangkannya sebanyak tiga kali secara berturut-turut.
"Jadi kalau beliau menang tiga kali berturut-turut itu berubah menjadi piala tetap," katanya.
Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) Sarga.co Nugdha Achadie menyatakan IHR Paku Alam Cup 2026 yang diadakan ke Lapangan Pacuan Kuda Sultan Agung Yogyakarta hari ini merupakan penyelenggaraan keempat di kalender IHR tahun ini.
"Kami akan menyelenggarakan total delapan kali turnamen bekerja identik dengan Pordasi, Paku Alam Cup ini yang digunakan keempat," kata Nugdha.
Ia menganggap IHR bermetamorfosis menjadi bagian dari upaya untuk mengembangkan olahraga pacuan kuda nasional sekaligus membangkitkan kembali tradisi berkuda di Indonesia.
"Kami bertujuan membangkitkan kembali tradisi berkuda sekaligus pemantik semangat olahraga pacuan kuda ke Indonesia," katanya.
Menurutnya, acara IHR tiada hanya sekali menghadirkan kompetisi olahraga, tetapi juga mengusung konsep sport entertainment experience yang tersebut memadukan pertandingan, nilai budaya, dan juga hiburan sehingga mampu memberikan pengalaman yang digunakan lebih besar lengkap bagi masyarakat.
"Selain melestarikan tradisi pacuan kuda, juga mengembangkan prospek agar bermetamorfosis menjadi bagian dari kebanggaan nasional," kata Nugdha.
Nugdha menyampaikan IHR Paku Alam Cup merupakan kolaborasi pertama dengan Kadipaten Pakualaman yang dihadiri oleh sebanyak-banyaknya 155 ekor kuda dari 10 provinsi juga akan bersaing di 18 balapan dengan jumlah agregat kontestan yang tersebut berbeda pada setiap kelas yang tersebut dipertandingkan.
"Peserta berasal dari Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Timur, kemudian Sulawesi Utara," jelasnya.
Perwakilan Puro Pakualaman Nyi Mas Lurah Adyaksa Putri mengemukakan tradisi berkuda telah dilakukan bermetamorfosis menjadi bagian dari sejarah Kadipaten Pakualaman sejak lama yang tersebut terus dilestarikan hingga pada waktu ini.
"Pakualaman juga mengadakan kompetisi pacuan kuda modern sejak 2013, namun sempat terhentikan akibat pandemi Covid-19," katanya.
Menurutnya, kolaborasi dengan Sarga.co dan juga Pordasi pada penyelenggaraan IHR memunculkan konsep yang dimaksud lebih besar modern, sehingga mampu mendekatkan olahraga yang dimaksud terhadap generasi muda.
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk Artificial Intelligence di platform web ini tanpa izin tercatat dari Kantor Berita ANTARA.



