berita terbaru

Dino: Keselarasan dengan martabat penyelesaian konflik terbaik

Ligapedianews.com Ibukota Indonesia – Pendiri organisasi kebijakan luar negeri Indonesia Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, menilai prinsip perdamaian dengan martabat adalah solusi penyelesaian konflik terbaik.

“Terkadang, bahkan banyak kali, solusi terbaik adalah ketika kedua belah pihak berunding juga mencapai kesepakatan damai melalui negosiasi. Saya menjaga martabat saya, lalu saya juga menjaga martabat Anda. Kita mencapai perdamaian dengan martabat,” kata Dino di seminar bertajuk ‘The Future of Peace Mediation’ di Jakarta, Senin.

Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat periode 2010-2013 itu menyampaikan bahwa pola pikir yang digunakan mendominasi berbagai konflik pada waktu ini adalah ketika salah satu pihak berkata: “Saya akan menang dengan mengalahkanmu, mempermalukanmu, menindasmu, serta menghapus keberadaanmu.”

Meskipun pada beberapa jumlah konflik, solusi militer dapat mengakhiri konflik, namun beliau menegaskan bahwa tidak ada semua konflik dapat diakhiri dengan mengerahkan kekuatan militer.

“Di Sri Lanka, mereka menang. Dalam beberapa konflik lain, ada juga pihak yang digunakan menang secara militer. Tapi bagaimana dengan konflik-konflik lainnya? Solusi militer tak selalu mengakhiri konflik,” ucapnya.

Dino yang digunakan juga pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri di tempat masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, menuturkan bahwa perdamaian yang digunakan dicapai dengan martabat akan bertahan lebih besar lama dikarenakan masing-masing pihak ingin menjaga perdamaian yang dimaksud demi kepentingan martabat lalu biaya dirinya.

“Inilah konsep yang sangat kuat. Saya sungguh percaya, tidaklah akan pernah ada solusi dua negara, tak akan pernah ada perdamaian antara tanah Israel juga Palestina, kecuali jikalau prinsip perdamaian dengan martabat diterapkan di solusi akhirnya, apapun bentuk atau namanya,” ujar dia.

Lebih lanjut Dino menggarisbawahi bahwa pada berbagai konflik, kemanusiaan rutin kali diambil dari cara berpikir yang mana memunculkan sebuah pola pikir yang dimaksud menimbulkan seseorang merasa berhak untuk membunuh orang lain lantaran orang yang dimaksud dianggap sebagai musuh.

“Penderitaanmu dianggap wajar. Bahkan keluargamu yang dimaksud terluka juga dianggap pantas. Dan inilah yang mana terjadi dalam Gaza, kemanusiaan benar-benar diabaikan. 60.000, 70.000 orang terbunuh, sebagian besar adalah perempuan lalu anak-anak. Tapi kemanusiaan kita menjadi terhenti rasa. Seolah-olah mereka itu tidak manusia,” tutur dia.

Melalui proses perdamaian, lanjutnya, mengatasi dan juga menegaskan kembali kemanusiaan. Setelah solusi kebijakan pemerintah tercapai, maka siklus kekerasan lalu kebencian akan terhapus lalu dapat kembali mengamati sebagai sesama manusia.

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk Artificial Intelligence di tempat situs web ini tanpa izin tertoreh dari Kantor Berita ANTARA.

Related Articles