
Ibukota – Anggapan bahwa warga kidal lebih banyak cerdas daripada pendatang yang menggunakan tangan kanan telah cukup lama beredar. Bahkan, pemukim kidal kerap dikaitkan dengan kreativitas, kemampuan berpikir berbeda, hingga kecerdasan yang lebih tinggi tinggi.
Namun, benarkah pemanfaatan tangan kiri berkaitan dengan tingkat kecerdasan seseorang?
Jawabannya ternyata bukan sesederhana itu. Sejumlah penelitian justru menunjukkan bahwa tiada ada bukti kuat yang digunakan menyatakan penduduk kidal secara umum lebih lanjut cerdas dibandingkan penduduk yang dimaksud bukan kidal.
Kidal juga kecerdasan ternyata bukan punya hubungan kuat
Kidal atau left-handedness merupakan status di mana seseorang lebih banyak santai menggunakan tangan kiri untuk melakukan bermacam aktivitas. Preferensi tangan ini berkaitan dengan tahapan perkembangan serta pengorganisasian fungsi otak, tetapi tidak berarti secara otomatis menentukan tingkat kecerdasan seseorang.
Salah satu tinjauan sistematis dan juga meta-analisis yang mana dipublikasikan di jurnal Neuroscience & Biobehavioral Reviews menganalisis 36 penelitian dengan total lebih lanjut dari 66.000 peserta.
Hasilnya menunjukkan sebagian besar penelitian tidak ada menemukan perbedaan IQ antara khalayak kidal juga pemukim yang mana menggunakan tangan kanan. Meta-analisis memang benar menemukan perbedaan secara statistik pada sebagian perbandingan, tetapi besarnya sangat kecil sehingga secara umum perbedaan kecerdasan antarkelompok dianggap tidaklah berarti.
Dengan kata lain, berubah menjadi kidal bukanlah tanda bahwa seseorang pasti mempunyai IQ lebih besar tinggi.
Lalu, dari mana anggapan penduduk kidal lebih banyak pintar?
Salah satu alasannya kemungkinan besar berasal dari penelitian yang tersebut mencoba menghubungkan pemanfaatan tangan dengan cara kerja otak. Karena fungsi otak mempunyai pembagian atau spesialisasi tertentu antara belahan kiri lalu kanan, pemanfaatan tangan rutin dianggap sebagai petunjuk mengenai bagaimana otak seseorang bekerja.
Masalahnya, hubungan yang dimaksud tiada sesederhana "tangan kiri berarti otak kanan lebih lanjut dominan sehingga tambahan pintar".
Kemampuan kognitif manusia merupakan hasil dari berbagai faktor, diantaranya perkembangan otak, lingkungan, pendidikan, pengalaman, kesehatan, juga kesempatan untuk belajar. Preferensi menggunakan tangan kiri tak mampu dijadikan ukuran tunggal untuk menentukan kecerdasan seseorang.
Meta-analisis lain mengenai hubungan handedness dan juga kemampuan kognitif juga menemukan bahwa saat seseorang cuma dikategorikan berdasarkan preferensi tangan kiri atau kanan, tiada terlihat perbedaan kemampuan kognitif yang dimaksud konsisten di dalam antara kedua kelompok.
Bagaimana dengan kreativitas?
Anggapan lain yang cukup populer adalah warga kidal lebih banyak kreatif. Klaim ini juga harus dilihat dengan hati-hati.
Memang terdapat penelitian yang pernah mencoba menghubungkan handedness dengan beragam kemampuan kognitif, termasuk kemampuan spasial serta verbal. Namun, hasil penelitian tak setiap saat konsisten.
Sebuah meta-analisis terhadap beratus-ratus ribu kontestan menemukan tidaklah ada perbedaan kemampuan verbal antara kelompok kidal kemudian tangan kanan secara keseluruhan. Penelitian yang dimaksud justru menemukan efek kecil yang dimaksud menguntungkan pengguna tangan kanan pada kemampuan spasial tertentu.
Temuan yang disebutkan menunjukkan bahwa hubungan antara tangan dominan lalu kemampuan kognitif sangat lebih lanjut kompleks daripada anggapan bahwa khalayak kidal otomatis lebih lanjut kreatif atau tambahan pintar.
Kecerdasan tidaklah ditentukan dari tangan yang digunakan digunakan
Yang harus diingat, kecerdasan sendiri tidak belaka perihal nilai IQ. Kemampuan seseorang dapat terlihat di berubah-ubah bentuk, seperti kemampuan memecahkan masalah, mengerti akan informasi, berpikir kritis, berkomunikasi, belajar, maupun beradaptasi terhadap situasi baru.
Karena itu, seseorang tidaklah bisa jadi dinilai lebih lanjut cerdas atau kurang cerdas cuma berdasarkan apakah ia menggunakan tangan kiri atau kanan.
Bahkan, penelitian mengenai crossed laterality, yakni status pada saat preferensi tangan, mata, kaki, atau bagian tubuh lainnya tak berada pada sisi yang dimaksud sama, juga tiada menemukan hubungan yang digunakan konsisten dengan kecerdasan maupun prestasi akademik.
Jadi, benarkah pendatang kidal tambahan cerdas?
Belum ada bukti ilmiah yang mana cukup untuk menyatakan bahwa pendatang kidal secara umum tambahan cerdas daripada pemukim yang dimaksud menggunakan tangan kanan.
Kidal merupakan salah satu variasi alami pada manusia dan juga tidak ukuran tingkat kecerdasan. Ada pemukim kidal yang digunakan sangat pintar, begitu pula ada pendatang yang dimaksud menggunakan tangan kanan dengan kemampuan akademik atau kognitif yang mana tinggi.
Jadi, kalau selama ini warga kidal kerap disebut lebih lanjut cerdas, anggapan yang disebutkan sebaiknya tidaklah secara langsung dipercaya. Yang lebih tinggi penting adalah meninjau kemampuan seseorang secara menyeluruh, bukanlah dari tangan mana yang mana paling banyak digunakan.
Pada akhirnya, tangan kiri atau tangan kanan hanyalah preferensi pemanfaatan tubuh, bukanlah rapor kecerdasan seseorang.
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk Artificial Intelligence ke laman web ini tanpa izin tertoreh dari Kantor Berita ANTARA.



