
Tokyo – Amerika Serikat pada hari terakhir pekan akan memberlakukan tarif baru hingga 12,5 persen terhadap barang-barang dari 60 mitra dagangnya, diantaranya Jepang, Korea Selatan, dan juga Uni Eropa, kata para pejabat.
Rencana itu akan diberlakukan dengan alasan bahwa mitranya itu diduga telah dilakukan gagal untuk secara memadai melarang impor barang yang tersebut diproduksi melalui kerja paksa.
Pengumuman pada Kamis disampaikan menjauhi berakhirnya tarif global 10 persen yang tersebut diperkenalkan Amerika Serikat pada Februari, tak lama pasca Mahkamah Agung membatalkan "bea masuk timbal balik" besar-besaran yang digunakan diberlakukan Presiden Trump, dan juga pungutan terkait fentanil yang dimaksud ia terapkan terhadap barang-barang dari China, Kanada, serta Meksiko.
"Presiden Trump menyadari bahwa upaya persuasi moral selama beberapa dekade belum berhasil memberantas kerja paksa dari rantai pasokan global," kata Perwakilan Dagang Amerika Serikat Jamieson Greer di sebuah pernyataan.
"Amerika Serikat telah terjadi menerapkan larangan impor barang hasil kerja paksa selama hampir satu abad, kemudian menegakkannya dengan ketat; telah saatnya mitra dagang kita melakukan hal yang digunakan sama."
Berdasarkan kewenangan hukum yang tersebut berbeda, pemerintahan Trump memberlakukan tarif 10 persen, tetapi tarif yang disebutkan belaka diperbolehkan berlaku selama 150 hari kecuali Kongres menyetujui perpanjangannya.
Tarif sementara berdasarkan Pasal 122 Undang-Undang Perdagangan Tahun 1974, yang digunakan memungkinkan presiden untuk mengenakan pajak impor hingga 15 persen guna mengatasi defisit neraca pembayaran yang digunakan "besar juga serius", akan berakhir pada Jumat.
Sembari memberlakukan tarif menyeluruh, pemerintah telah lama menjajaki kemungkinan penerapan bea masuk yang lebih banyak permanen berdasarkan negara, dengan menggunakan Pasal 301 undang-undang perdagangan.
Greer lalu pejabat senior lainnya menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan Amerika terpaksa bersaing dengan pesaing asing dalam arena yang tidak ada adil akibat sebagian besar mitra dagang Negeri Paman Sam gagal mengatasi tudingan terkait ketenagakerjaan.
Sumber: Kyodo
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk Kecerdasan Buatan dalam platform web ini tanpa izin tertoreh dari Kantor Berita ANTARA.



