
Bogota, Kolombia – Presiden Luiz Inacio Lula da Silva menyetujui secara resmi dekrit eksekutif pada Rabu (22/7) yang dimaksud membuka jalur kredit darurat sebesar 18,5 miliar reais (sekitar Rp65,1 triliun) untuk melindungi sebagian perusahaan Brasil dari tarif baru sebesar 25 persen yang mana diberlakukan AS.
Berbicara ke Istana Planalto ke Brasilia sama-sama beberapa menteri Kabinet, Lula menggambarkan stimulus yang dimaksud sebagai bukti bahwa kegiatan ekonomi terbesar dalam Amerika Latin dapat menahan sanksi perdagangan terbaru Washington.
"Kami menunjukkan bahwa bukan ada krisis yang dapat menjaga dari Brasil untuk melanjutkan jalur perkembangan ekonominya," katanya.
Disebut "Sovereign Brazil III," inisiatif itu menandai paket bantuan besar ketiga pemerintah yang digunakan bertujuan untuk membantu eksportir mengatasi sengketa perdagangan dengan AS.
Pendanaan untuk langkah itu mengambil 13,5 miliar reais (sekitar Rp47,3 triliun) dari dana Departemen Keuangan yang dimaksud belum dialokasikan yang mana dicadangkan selama peluncuran kredit tahun 2025, dengan sisa tersisa disediakan oleh bank perkembangan negara Brasil BNDES.
Pinjaman bersubsidi tersedia bagi para produsen yang terkena dampak bea masuk 25 persen terbaru, dan juga produsen baja yang tersebut terkena dampak bea masuk Negeri Paman Sam sebelumnya.
Tarif baru Negeri Paman Sam itu berasal dari investigasi oleh Kantor Perwakilan Perdagangan Negeri Paman Sam (USTR), yang mana menyimpulkan bahwa beberapa kebijakan komersial kemudian digital Brasil secara tak adil membebani perdagangan AS.
Perkiraan resmi Brasil menunjukkan bahwa bea masuk yang disebutkan akan berdampak pada sekitar 18 persen dari ekspor negara itu ke AS, walaupun kelompok perdagangan domestik memberi peringatan bahwa kerugian yang disebutkan dapat memengaruhi hampir sepertiga dari semua pengiriman ke AS.
Bea masuk yang dimaksud paling berdampak pada mesin industri, gula, etanol, kayu, serta alas kaki. otoritas Amerika Serikat mengecualikan sekitar 2.100 kategori produk, sehingga komoditas utama Brasil diantaranya daging sapi, kopi, minyak mentah, juga komponen pesawat komersial, tidak ada terdampak.
Meski Lula menegaskan bahwa Brasil akan tetap terbuka untuk negosiasi diplomatik dengan Washington, ia mengisyaratkan bahwa negara yang disebutkan akan secara agresif mencari mitra dagang alternatif pada seluruh Asia, Eropa, dan juga Timur Tengah untuk menerima ekspor yang dialihkan.
"Bahkan dengan kebijakan mendadak pemerintah AS, memberlakukan tarif tanpa berkonsultasi dengan siapa pun, tiada ada yang tersebut menyangka bola akan runtuh," ujarnya.
"Orang-orang belajar untuk terlibat juga mengomunikasikan dengan pemukim lain yang mana sebelumnya tampak tak mampu berkomunikasi, mempelajari bahasa lain, serta membiasakan diri dengan mata uang lain," katanya.
Kebuntuan diplomatik dapat menjadi lebih buruk pada beberapa minggu mendatang lantaran Brasil tetap berada di antara puluhan negara yang digunakan menjadi subjek investigasi perdagangan Negeri Paman Sam terpisah terkait dugaan pelanggaran tenaga kerja di rantai pasokan, sebuah penyelidikan yang dapat menghadirkan tarif tambahan sebesar 12,5 persen.
Sumber: Anadolu
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk Teknologi AI ke web web ini tanpa izin tercatat dari Kantor Berita ANTARA.



