
Ibu Kota Rusia – Para pejabat Eropa meyakini bahwa Uni Eropa dapat menghadapi tarif baru sebesar 10 persen berhadapan dengan ekspor ke Amerika Serikat, namun merek was-was tarif yang dimaksud dapat meningkat berjauhan lebih tinggi tinggi, lapor Politico.
Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat, Selasa (2/6), mengindikasikan bahwa Washington ingin memberlakukan tarif tambahan sebesar 10 persen kemudian 12,5 persen terhadap barang dari tambahan dari 60 negara yang, menurut AS, tak melakukan cukup upaya untuk memerangi pengaplikasian tenaga kerja paksa.
Politico, Rabu (3/6), melaporkan para pejabat Eropa secara tertutup menyatakan Uni Eropa masih dapat bertahan dengan tarif sebesar 10 persen. Namun, merek cemas penyelidikan perdagangan berikutnya yang dijalankan Amerika Serikat dapat berujung pada penerapan tarif yang digunakan berjauhan lebih lanjut tinggi.
Seorang pejabat memaparkan bahwa usulan Washington mengenai tarif 10 persen "kurang lebih" dapat diterima, namun Uni Eropa masih menanti rincian lebih tinggi lanjut.
Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, Rabu, mengungkapkan terhadap wartawan bahwa langkah yang disebutkan memang sebenarnya sudah direncanakan Amerika Serikat di beberapa bulan terakhir.
"Hal itu menempatkan kami pada kedudukan dalam mana, sekali lagi, kami masih akan memiliki kesepakatan perdagangan terbaik dibandingkan mitra dagang Amerika Serikat lainnya," kata Carney.
Pada 2025, Presiden Negeri Paman Sam Donald Trump memberlakukan tarif impor tambahan terhadap barang dari seluruh negara. Namun, Mahkamah Agung Negeri Paman Sam memutuskan bahwa Trump tiada miliki kewenangan untuk melakukan hal yang disebutkan lantaran langkah terkait perdagangan harus dibuat secara eksklusif oleh Kongres.
Akibat putusan tersebut, anggaran federal Negeri Paman Sam pada masa kini diwajibkan memulihkan sekitar 159 miliar dolar Negeri Paman Sam yang digunakan sudah dipungut dari bea masuk tersebut.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk Teknologi AI dalam laman web ini tanpa izin tercatat dari Kantor Berita ANTARA.


