berita viral

6 Presiden Tanah Air yang tersebut pernah berpidato di dalam sidang umum PBB

DKI Jakarta – Sebagai salah satu anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Presiden Prabowo hadir di Sidang Majelis Umum ke-80 ke New York. Kehadiran ini berubah jadi momen penting lantaran Kepala Negara Tanah Air kembali berpidato segera pada forum tahunan yang disebutkan setelahnya 10 tahun terakhir absen.

Selain Presiden Prabowo, ada beberapa mantan pemimpin Indonesi yang mana juga pernah tampil pada mimbar Sidang Umum PBB. Sejak era Presiden Soekarno pada 1960, pemimpin Tanah Air telah terjadi menggunakan panggung globus itu untuk menyuarakan pandangan bangsa.

Pidato-pidato yang dimaksud tidak belaka berubah menjadi catatan sejarah diplomasi, tetapi juga cerminan arah kebijakan pemerintah luar negeri serta kedudukan Tanah Air dalam kancah internasional. Lantas, siapa semata presiden Nusantara yang digunakan pernah berpidato ke Sidang Umum PBB? Untuk selengkapnya, berikut catatan sejarahnya.

Daftar presiden Tanah Air yang digunakan pernah berpidato di Sidang Umum PBB

1. Soekarno

Presiden pertama RI, Soekarno, berubah jadi pemimpin Indonesia yang digunakan pertama kali tampil di dalam panggung PBB pada Sidang Umum ke-15, yaitu pada tanggal 30 September 1960. Saat itu, ia didampingi oleh Ajudan Letnan Kolonel Sabur.

Dalam pidato berjudul To Build the World Anew atau “Membangun Bumi Kembali”, Bung Karno menyoroti pertarungan geopolitik, rasa kemanusiaan, perjuangan anti-kolonialisme kemudian anti-imperialisme, menyerukan solidaritas bangsa-bangsa Asia-Afrika, juga memperkenalkan Pancasila sebagai ideologi alternatif universal.

Pidato yang dimaksud hingga ketika ini dianggap sebagai salah satu orasi paling berpengaruh yang tersebut pernah disampaikan orang pemimpin bola pada forum internasional, dan juga berubah menjadi pondasi pengerjaan kebijakan pemerintah bangsa Indonesia juga luar negeri.

Bahkan, pidato Presiden Soekarno ini sudah pernah dijadikan sebagai warisan inspirasi dunia, sekaligus arsip sejarah “Memory of the World UNESCO” pada tahun 2023

2. Soeharto

Tiga dekade kemudian, giliran Presiden Soeharto yang mana berbicara dalam Sidang Umum ke-47 PBB pada tanggal 24 September 1992. Pidato yang ia bawakan adalah “Pesan Jakarta”, dimana merupakan hasil dari Forum Pergerakan Non-Blok ke-10.

Soeharto menekankan pentingnya kerja sebanding global yang digunakan lebih lanjut adil, khususnya antara negara progresif serta berkembang, dan juga menggerakkan reformasi di tatanan kegiatan ekonomi internasional.

Secara umum, pidato Presiden Soeharto berisi bahwa Pergerakan Non-Blok mendesak PBB untuk menerapkan asas demokrasi yang mana adil, kebersamaan, serta transparan terhadap perwakilan negara anggotanya, juga pengambilan keputusan.

Kemudian, Presiden Soeharto berpidato kembali pada Sidang Umum PBB pada Oktober tahun 1995. Ia menegaskan peran Tanah Air sebagai negara yang bergerak menyuarakan kepentingan negara-negara Selatan.

3. Megawati Soekarnoputri

Memasuki era reformasi, Presiden Megawati Soekarnoputri juga mencatatkan data sejarah ketika berpidato pada Sidang Umum PBB sekitar September 2001. Momen yang dimaksud berlangsung hanya sekali beberapa hari pasca serangan teror 11 September di dalam Amerika Serikat.

Megawati menjadi salah satu pemimpin bumi yang dimaksud menyuarakan pentingnya kerja sebanding internasional pada berhadapan dengan terorisme, inovasi dasar tubuh PBB untuk bekerja lebih tinggi efektif, sekaligus menegaskan komitmen Indonesi terhadap perdamaian global.

Selama masa jabatannya sebagai pemimpin Indonesia, Megawati telah dua kali hadir berpidato di sidang tahunan internasional tersebut, yakni tahun 2001 serta 2003.

4. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Selama satu puluh tahun kepemimpinannya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga tercatat sebagai kepala negara Indonesi yang tersebut paling kerap hadir dalam Sidang Umum PBB, yakni banyaknya 6 kali.

Salah satu momen pentingnya adalah ketika pidatonya pada Sidang Umum PBB ke-69 pada tahun 2014. Saat itu, SBY berbicara mengenai perdamaian bumi dan juga menegaskan bahwa Indonesi akan terus berpegang pada nilai kebebasan, menghargai perbedaan, menggalakkan modernisasi, dan juga menjunjung multikulturalisme.

Dalam sidang PBB lainnya, Presiden SBY juga membawakan isu terkait protokol antipenistaan agama juga mengatasi krisis pembaharuan iklim. Selama menjabat dua periode, ia tegas menunjukkan upaya diplomasi bergerak Negara Indonesia ke kancah internasional.

5. Jokowi

Dalam masa kepemimpinannya, Presiden Jokowi memilih cara yang dimaksud berbeda. Karena keadaan pandemi COVID-19, Presiden Jokowi menyampaikan pidatonya secara virtual pada Sidang Umum ke-75 pada 23 September 2020, lalu kembali pada Sidang ke-76 tahun 2021.

Sebelum kedua sidang tersebut, diperkenalkan Presiden Jokowi diwakili oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla pada Sidang PBB tahun 2015 sampai 2019, kemudian berganti diwakili oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi tahun 2022 sampai 2024.

Meski tidak ada hadir secara langsung, pidato Presiden Jokowi menyoroti hambatan ketidaksetaraan global, pemulihan ekonomi, akses vaksin, hingga urgensi kerja sebanding internasional untuk mengatasi krisis kesehatan, inovasi iklim, terorisme, serta perdamaian.

6. Prabowo Subianto

Saat ini, Presiden Prabowo dijadwalkan akan berpidato secara dengan segera pada Sidang Umum PBB ke-80 pada 23 September 2025, urutan ketiga setelahnya Presiden Amerika Serikat dan juga Brasil.

Kehadiran ini akan berubah jadi yang dimaksud pertama pada tambahan dari satu dekade, pasca sebelumnya presiden Tanah Air cenderung diwakili atau menyampaikan pidato secara virtual.

Salah satu isu yang mana akan dibawa Presiden Prabowo pada pidatonya di dalam Sidang Majelis Umum PBB adalah dukungan Indonesi terhadap rakyat Palestina, dimana Negara Indonesia menegaskan komitmen untuk menggerakkan kebebasan serta kedaulatan penuh bagi Palestina.

Tidak semua presiden Nusantara pernah berpidato dengan segera ke Sidang Umum PBB. Seperti Presiden B.J. Habibie dan juga Abdurrahman Wahid, merekan tiada tercatat pernah menyampaikan pidato dalam forum debat Majelis Umum PBB.

Kehadiran pribadi presiden ke Sidang Umum PBB miliki makna simbolis yang mana kuat. Lebih dari sekadar forum tahunan, podium PBB rutin digunakan untuk menyampaikan instruksi urusan politik yang mana menggambarkan arah diplomasi suatu negara.

Pidato presiden sanggup mempengaruhi persepsi globus terhadap tempat Indonesia, baik pada isu perdamaian, pembangunan, maupun keadilan global. Oleh sebab itu, hal ini menunjukkan bahwa peluncuran presiden dalam forum internasional bersifat strategis pada kebijakan pemerintah luar negeri.

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk Artificial Intelligence pada website web ini tanpa izin tertoreh dari Kantor Berita ANTARA.

Artikel ini disadur dari 6 Presiden Indonesia yang pernah berpidato di sidang umum PBB

Related Articles