
Seoul – Kementerian Defense Korea Utara (Korut) menuduh Amerika Serikat mengganggu stabilitas pada Semenanjung Korea juga kawasan dengan memasok senjata terhadap sekutu-sekutunya di Asia, kantor berita KCNA melaporkan, Hari Minggu (7/6).
Pernyataan itu disampaikan setelahnya Amerika Serikat menyetujui jualan 708 perangkat ekor (tail kits) untuk amunisi udara presisi KMU-557 dan juga 58 sistem pemandu KMU-572 terhadap Korea Selatan (Korsel) dengan nilai total 106 jt dolar Amerika Serikat (sekitar Rp1,9 triliun).
Menurut seseorang perwakilan direktur Biro Persenjataan Umum Kementerian Perlindungan Korut, kebijakan Amerika Serikat itu berkontribusi terhadap meningkatnya ketegangan militer di dalam Semenanjung Korea maupun kawasan yang dimaksud lebih tinggi luas.
"Penjualan senjata Amerika Serikat yang mana sembrono menambah ketidakpastian dalam tingkat regional dan juga internasional dan juga tak terelakkan akan menyebabkan penyalahgunaan kekuatan," katanya untuk KCNA.
Kementerian itu menyatakan Negeri Paman Sam terus meningkatkan kekuatan angkatan bersenjata konvensional Korsel yang mana sekarang ini memainkan peran utama pada menangkal Korut, yang dimaksud menurut mereka itu menunjukkan inovasi peran militer pasukan Negeri Paman Sam pada Semenanjung Korea.
Menurut kementerian tersebut, Amerika Serikat secara konsentris meningkatkan pengiriman senjata ofensif untuk sekutu-sekutunya di Asia.
Dalam beberapa bulan terakhir, Amerika Serikat menyetujui pasokan bom berpemandu jarak sangat jauh GBU-39, helikopter maritim MH-60R, serta komponen helikopter serang AH-64E Apache untuk Korsel, dan juga menunjukkan kesiapan menggalang rencana negara itu untuk menyebabkan kapal selam bertenaga nuklir.
Kementerian itu juga menyebutkan bahwa Amerika Serikat sudah pernah menyetujui pelanggan sistem roket peluncuran ganda HIMARS, rudal anti-tank Javelin, howitzer, amunisi berkeliaran (loitering munition), lalu perlengkapan militer lainnya terhadap Taiwan.
Selain itu, Amerika Serikat disebut-sebut berencana mentransfer senjata serang jarak jauh, termasuk rudal jelajah Tomahawk, ke Jepang.
Korut menegaskan akan terus mengembangkan langkah-langkah militer-teknis, baik secara simetris maupun asimetris, sebagai respons terhadap penumpukan senjata oleh "negara-negara musuh."
Pejabat militer Korut itu menyatakan negaranya akan mempercepat peningkatan kemudian pengembangan kemampuan pertahanan diri dan juga penangkalan guna menghindari upaya apa pun yang mana dapat mengganggu keseimbangan kekuatan ke kawasan.
Menurut dia, langkah yang disebutkan juga untuk menunjukkan bahwa perdagangan senjata yang digunakan bukan bertanggung jawab kemudian penumpukan militer oleh kekuatan yang dimaksud bermusuhan merupakan tindakan yang tidak ada efektif juga tidak ada berarti.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk Artificial Intelligence pada website web ini tanpa izin ditulis dari Kantor Berita ANTARA.


