lifestyle

Abu vulkanik & cuaca jadi kendala pencarian 5 jurnalis ke Selat Sunda

Ibukota – Upaya pencarian lima jurnalis yang mana hilang kontak pada waktu meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda terus direalisasikan Tim SAR gabungan. Operasi pencarian menghadapi beberapa jumlah kendala, mulai dari abu vulkanik, angin kencang hingga gelombang laut.

Kelima jurnalis yang disebutkan dilaporkan hilang kontak bersatu tiga pendatang lainnya yang berada di satu rombongan speedboat saat melakukan perjalanan menuju kawasan Gunung Anak Krakatau pada Senin, 7 September 2026.

Memasuki hari ketiga operasi pencarian pada Kamis, 10 September 2026, Tim SAR gabungan memperluas area penyisiran menjadi enam sektor dengan total luas sekitar 2.483 mil laut persegi.

Berikut beberapa tantangan yang tersebut dihadapi grup SAR pada mencari para jurnalis serta rombongan tersebut.

1. Abu vulkanik masih memenuhi perairan

Aktivitas Gunung Anak Krakatau berubah menjadi salah satu tantangan pada operasi pencarian. Abu vulkanik masih ditemukan di beberapa wilayah perairan Selat Sunda sehingga kapal harus menyesuaikan jalur pelayaran dengan keadaan angin.

Tim SAR sebelumnya melakukan penyisiran di dalam beberapa orang pulau di dalam sekitar Anak Krakatau, diantaranya Pulau Rakata, Krakatoa dan juga Pulau Panjang. Wilayah yang dimaksud berada di dalam sekitar radius tiga kilometer dari kawah yang tersebut merupakan zona berbahaya di mana gunung berstatus Level III atau Siaga.

Kondisi abu vulkanik menciptakan kelompok harus mempertimbangkan keselamatan personel saat melakukan penyisiran menggunakan kapal.

2. Angin kencang dan juga gelombang laut

Selain abu vulkanik, keadaan cuaca dan juga perairan turut berubah menjadi hambatan. Pada pencarian sebelumnya, kelompok menghadapi angin yang digunakan cukup kencang dengan tinggi gelombang sekitar satu hingga dua meter.

Kondisi yang dimaksud menghasilkan tahapan penyisiran ke laut membutuhkan kehati-hatian sebab pergerakan kapal sangat dipengaruhi kondisi perairan. Tim juga harus memperhitungkan kemungkinan objek atau kapal terbawa arus dari posisi terakhir diketahui.

3. Area pencarian terus diperluas

Tim SAR bukan hanya saja menyisir wilayah dalam sekitar Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan hasil perencanaan pencarian lalu evaluasi operasi, area penyisiran diperluas ke beberapa jumlah sektor dalam perairan Selat Sunda.

Pada hari ketiga, luas area pencarian mencapai sekitar 2.483 mil laut persegi. Perluasan wilayah yang dimaksud dikerjakan untuk meningkatkan potensi menemukan rombongan yang dimaksud hilang kontak.

4. Pencarian dikerjakan melalui jalur laut kemudian udara

Untuk memperluas jangkauan pencarian, operasi tidaklah belaka mengandalkan kapal. Satu unit helikopter Dauphin AS365 N3+ dengan nomor registrasi HR-3604 turut dikerahkan pada Kamis, 10 September 2026.

Helikopter yang disebutkan berangkat dari Lanud Atang Sendjaja sekitar pukul 12.36 Waktu Indonesia Barat untuk membantu pencarian lima jurnalis dan juga tiga khalayak lainnya yang tersebut masih belum ditemukan.

Meski pencarian dari udara telah terjadi dilakukan, Basarnas menyatakan hasil operasi yang dimaksud belum menemukan keberadaan rombongan yang tersebut dicari.

5. Ditemukan jaket pelampung

Harapan baru muncul sewaktu Tim SAR gabungan menemukan sebuah life jacket atau jaket pelampung di operasi pencarian pada Kamis, 10 September 2026.

Benda yang disebutkan ditemukan kapal Angkatan Laut KAL Anyer 1-3-64 sekitar pukul 15.32 WIB. Lokasi penemuan berada sekitar 7,5 mil laut dari sisi barat Suar Tanjung Koneng Anyer atau sekitar 20 mil laut ke sisi timur laut dari Gunung Anak Krakatau.

Di sekitar lokasi yang dimaksud juga ditemukan botol berwarna putih yang digunakan menyerupai pelampung. Namun, hingga laporan yang dimaksud disampaikan, regu masih melakukan verifikasi untuk meyakinkan apakah benda-benda yang disebutkan berkaitan dengan rombongan jurnalis yang dimaksud hilang.

Kepala Basarnas Mohammad Syafii menegaskan operasi pencarian akan dioptimalkan selama tujuh hari. Hingga Kamis malam, keberadaan lima jurnalis serta tiga pemukim lainnya masih belum ditemukan.

Operasi pencarian masih terus direalisasikan dengan melibatkan beragam unsur. Kondisi cuaca, aktivitas vulkanik dan juga luasnya wilayah perairan menjadi faktor yang digunakan harus diperhitungkan regu untuk melindungi keselamatan sekaligus memperbesar kesempatan menemukan rombongan yang tersebut hilang.

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk Teknologi AI di dalam laman web ini tanpa izin ditulis dari Kantor Berita ANTARA.

Related Articles