
Istanbul – Uni Emirat Arab (UAE) sedang mengerjakan rencana besar untuk menghilangkan ketergantungannya pada Selat Hormuz pasca penutupan jalur air penting yang disebutkan baru-baru ini mengungkap kerentanan perdagangan juga aliran energi di Teluk.
Menteri Perdagangan Luar Negeri UAE, Thani Al Zeyoudi, mengutarakan negara itu sedang melakukan pergerakan menuju "nol ketergantungan pada Hormuz," menurut laporan Bloomberg, Rabu.
Rencana itu muncul pada saat lingkungan ekonomi global mengawaitu membuka kembali selat sepenuhnya setelahnya kesepakatan perdamaian sementara antara Iran juga AS.
Selat Hormuz, yang tersebut dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak mentah kemudian gas alam cair global sebelum perang, telah terjadi terganggu sejak serangan Amerika Serikat lalu tanah Israel terhadap Iran dimulai pada akhir Februari.
Inti dari rencana UAE adalah perluasan besar-besaran pelabuhan timur Dibba, Fujairah, dan juga Khor Fakkan, yang dimaksud terletak ke luar selat dalam pantai Teluk Oman, menurut laporan tersebut.
Negara itu juga berencana mendirikan setidaknya satu pelabuhan baru di garis pantai yang tersebut sama, bersamaan dengan jaringan pipa, kereta api, dan juga jalan raya baru untuk menghubungkan pelabuhan timur dengan ladang minyak kemudian gas dan juga sarana perminyakan.
UAE telah menggunakan pipa yang mana ada dengan kapasitas 1,5 jt barel per hari untuk mengirimkan minyak mentah ke Fujairah, memungkinkan merekan untuk sebagian menyavoid Selat Hormuz.
Pada pertengahan Mei, dia mengumumkan akan mempercepat pembanguna pipa kedua untuk menggandakan kapasitas ekspor minyak mentah melalui Fujairah pada 2027.
Negara itu juga sedang mempelajari pipa minyak bumi ketiga juga opsi lain untuk membantu ekspor petrokimia, LNG, dan juga barang energi lainnya.
Al Zeyoudi tidaklah memberikan biaya atau jangka waktu, dengan mengungkapkan bahwa proyek-proyek yang dimaksud masih di tahap studi kelayakan, meskipun perluasan infrastruktur diperkirakan akan membutuhkan penanaman modal senilai miliaran dolar.
Mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz tetap sulit, sebab mengalihkan LNG, aluminium, juga komoditas lainnya dari pelabuhan Teluk akan lebih lanjut kompleks daripada mengalihkan minyak mentah dan juga minyak olahan.
UAE juga sangat bergantung pada pelabuhan-pelabuhan di dalam Teluk, khususnya Jebel Ali dalam Dubai, salah satu pusat kontainer terbesar di dalam dunia, untuk impor dan juga redistribusi.
UAE telah dilakukan berulang kali menyerukan tak lama kemudian lintas tanpa gangguan melalui Selat Hormuz, dengan menyatakan bahwa jalur air yang disebutkan sangat penting untuk keamanan, stabilitas, juga kemakmuran kegiatan ekonomi regional juga global.
Rencana itu menandai transformasi strategis yang mana lebih tinggi luas menuju pengurangan paparan terhadap risiko geopolitik pada Teluk dan juga penguatan jalur perdagangan lalu energi alternatif pada luar selat.
Sumber: Anadolu
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk Artificial Intelligence dalam laman web ini tanpa izin ditulis dari Kantor Berita ANTARA.


