
New York – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Mulai Pekan (26/1) menyampaikan bahwa dirinya akan meninggikan tarif dari 15 persen berubah menjadi 25 persen terhadap beberapa jumlah barang jika Korea Selatan (Korsel), menuding badan legislatif Korsel belum mengesahkan perjanjian perdagangan bilateral dengan AS.
"Mengingat badan legislatif Korsel belum mengesahkan Perjanjian Perdagangan Bersejarah kami, yang dimaksud merupakan hak prerogatif mereka, dengan ini saya meninggal TARIF terhadap barang Otomotif, Kayu, serta Farmasi jika Korsel, juga seluruh TARIF Resiprokal lainnya, dari 15 persen berubah menjadi 25 persen," ujar Trump di media sosial.
"Badan Legislatif Korsel bukan memenuhi Kesepakatannya dengan AS," tutur Trump. "Presiden Lee juga saya telah dilakukan mencapai Kesepakatan Besar bagi kedua Negara pada 30 Juli 2025, serta kami menegaskan kembali ketentuan-ketentuan yang disebutkan ketika saya berada dalam Korea pada 29 Oktober 2025."
Menurut perjanjian yang dimaksud telah lama difinalisasi oleh Trump lalu Presiden Korsel Lee Jae Myung pada Oktober 2025 lalu, Negeri Paman Sam akan memberlakukan tarif menyeluruh sebesar 15 persen terhadap impor dari Korsel, 10 poin persentase lebih tinggi rendah dibandingkan tingkat tarif yang digunakan sebelumnya pernah diancamkan oleh Trump. Sebagai imbalannya, Korsel setuju akan menginvestasikan 350 miliar dolar Amerika Serikat (1 dolar Negeri Paman Sam = Rp16.779) pada AS.
Korsel merupakan mitra dagang penting bagi AS, yang digunakan telah terjadi mengimpor barang senilai 100 miliar dolar Amerika Serikat tambahan dari negara itu ke Negeri Paman Sam pada beberapa tahun terakhir.
Kantor kepresidenan Korsel menuturkan bahwa pihaknya belum menerima pemberitahuan resmi dari Washington terkait kenaikan tarif terbaru tersebut, juga menteri perdagangan Korsel akan mengunjungi Negeri Paman Sam guna mengkaji kesulitan itu.
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk Artificial Intelligence di platform web ini tanpa izin ditulis dari Kantor Berita ANTARA.



