Tag: Masyarakat Adat

  • UU Minerba Disahkan, Wakil Ketua DPR Jamin Publik Adat Dilibatkan pada Pertambangan

    UU Minerba Disahkan, Wakil Ketua DPR Jamin Publik Adat Dilibatkan pada Pertambangan

    Ligapedianews.com – JAKARTA – Rancangan Undang-Undang (RUU) Perubahan Keempat menghadapi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral lalu Batubara (Minerba) ditetapkan menjadi Undang-Undang (UU) pada Rapat Paripurna DPR ke-13 Masa Persidangan II, Jakarta, Selasa (18/2/2025). Wakil Ketua DPR Adies Kadir menjamin warga lokal termasuk warga adat akan datang melibatkan pada proses penambangan di dalam bawah ketentuan UU Minerba yang digunakan baru.

    Pemerintah, kata Adies, nantinya akan segera memberikan kendali menghadapi koperasi dan juga Usaha Kecil Menengah (UKM) terhadap publik setempat. Hal yang disebutkan dijalankan untuk mengempiskan konflik antara publik dengan perusahaan-perusahaan besar yang dimaksud melakukan penambangan.

    “Kelompok-kelompok rakyat yang tersebut selama ini dicap sebagai kelompok ilegal, kelompok penambang liar, sekarang dimungkinkan merek untuk membentuk usaha sendiri,” ujar Adies dikutipkan Kamis (20/2/2025).

    Adies menjelaskan, pada di UU Minerba yang dimaksud baru nantinya akan ada pasal yang dimaksud mengatur pemilik izin perniagaan pertambangan (IUP) dan juga izin usaha pertambangan khusus (IUPK) harus menyusun acara penguatan kemudian pemberdayaan masyarakat. Mereka akan datang diwajibkan untuk melibatkan publik lokal pada program-program pengembangan dunia usaha kemudian sosial.

    Dalam prosesnya, lanjut dia, pemilik IUP dan juga IUPK akan diminta melakukan konsultasi dengan menteri terkait, pemerintah daerah, dan juga rakyat setempat. “Jadi melibatkan warga lokal dan juga publik adat di penyusunan program-program pemberdayaan penduduk itu,” kata Adies.

    Dia menuturkan, RUU Minerba diadakan tiada benar tergesa-gesa. Adies menyatakan di pembahasan RUU ini, DPR sudah melibatkan semua unsur penduduk selama proses pembahasan.

    “Kemudian juga adanya transformasi pendapat baru tentang pelibatan publik adat, begitu ya, juga bahkan ada perubahan perguruan tinggi. Jadi tidak ada dan juga merta juga tidak ada tergesa-gesa RUU ini dibentuk,” imbuhnya.

  • UNESCO Hadiahi Sokola Institute Uang 30 Ribu Dolar lewat Confucius Prize for Literacy 2024

    UNESCO Hadiahi Sokola Institute Uang 30 Ribu Dolar lewat Confucius Prize for Literacy 2024

    Jakarta – Sokola Institute dengan programnya ‘Pendidikan Literasi untuk Publik Adat Indonesia’ telah dilakukan terpilih sebagai salah satu pemenang UNESCO Confucius Prize for Literacy 2024. Penghargaan bergengsi ini mengakui upaya luar biasa Sokola Institute pada meningkatkan literasi di tempat kalangan penduduk adat melalui pendekatan inovatif lalu integratif.

    Kemenangan ini disampaikan pada peringatan serius International Literacy Day dalam Yaoundé, Republik Kamerun, pada Senin, 9 September 2024. Peringatan tahun ini mengangkat tema ‘Mempromosikan Pendidikan Multibahasa: Literasi untuk Membangun Kesepahaman Bersama juga Perdamaian’.

    Dengan tema yang disebutkan inisiatif literasi Sokola Institute mendapatkan apresiasi tinggi dari juri United Nations Education, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Metode pengajaran literasi dasar yang mana menggabungkan bahasa ibu komunitas adat setempat dengan pendekatan etnografis, juga memfasilitasi pembelajaran bahasa nasional, dinilai unik. 

    “Program Sokola Institute telah dilakukan mendidik 1.000 orang sejak dimulainya kegiatan itu, dengan 200 partisipan, termasuk 40 persen perempuan serta anak-anak,” bunyi keterangan yang dilampirkan UNESCO di dalam situsnya.

    Aktivitas Sokola Institute yang tersebut memberi sekolah literasi untuk publik adat Indonesia. FOTO/Kemendikbudristek

    Dua pemenang lainnya berasal dari Mesir dan juga Nigeria. Masing-masing adalah Universitas Mansour dengan acara pemberantasan buta huruf-nya dan juga AREAi dengan kegiatan bertittel FasTrack. Setiap pemenang UNESCO Confucius Prize for Literacy 2024 berhak berhadapan dengan hadiah uang senilai US$30 ribu atau setara lebih besar dari Rupiah 450 juta, selain juga studi banding ke Cina–negara yang mensponsori penghargaan ini. 

    Kata Menteri Nadiem kemudian Butet Manurung

    Dalam keterangannya, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, kemudian Teknologi, Nadiem Anwar Makarim mengungkap kebanggaannya berhadapan dengan penghargaan yang digunakan diraih Sokola Institute. Penghargaan dari UNESCO itu disebutnya bukti komitmen pemerintah  bersama seluruh rakyat Indonesia pada menguatkan literasi. 

    “Kita sudah pernah membuktikan terhadap dunia bahwa kekayaan bahasa wilayah yang tersebut dimiliki Indonesia adalah kekuatan untuk menciptakan perdamaian serta memulai pembangunan peradaban yang mana lebih banyak baik,” ucap Nadiem di keterangan ditulis yang tersebut dibagikan kementeriannya. 

    Direktur lalu pendiri Sokola Institute, Saur Marlina Manurung atau lebih tinggi dikenal Butet Manurung, juga mengungkapkan bahwa penghargaan dari UNESCO membuktikan budaya miliki sumbangan besar pada proses pembelajaran literasi. Menurutnya, melibatkan bahasa lalu fonetik lokal pada literasi sangat penting, tetapi memasukkan budaya warga adat ke pembelajaran jarak jauh lebih banyak krusial. 

    Aktivis Perempuan, Pelopor Pendidikan Alternatif untuk Komunitas Adat, juga Pendiri SOKOLA, Butet Manurung pada Eastern Opulence, DKI Jakarta Selatan, Selasa 25 September 2018 (Tempo/Astari P Sarosa)

    “Pendekatan Sokola ingin membantu menciptakan versi terbaik dari praktik institusi belajar mereka juga meningkatkan determinasi komunitas,” kata Butet Manurung.

    Pentingnya Pendidikan Multibahasa

    Adapun Duta Besar/Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO, Ismunandar, mengumumkan ada sekitar 7.000 bahasa yang digunakan tersebar bukan merata di area sekitar 200 negara, teristimewa di dalam Afrika Sub-Sahara lalu Asia Pasifik. Pendidikan multibahasa, kata dia, bermanfaat sangat besar teristimewa pada membantu anak-anak mengakses lembaga pendidikan dengan lebih tinggi baik, khususnya dalam area pedesaan. 

    “Pendidikan di bahasa ibu terbukti meningkatkan partisipasi sekolah, keterampilan berpikir, serta menunda masa lembaga pendidikan anak perempuan,” tuturnya.

    Di Tanah Air, berdasarkan hasil pemetaan bahasa yang mana diadakan oleh Badan Penguraian kemudian Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek sejak 1991 hingga 2019, terdapat 718 bahasa dalam 2.560 tempat pengamatan. Keberagaman bahasa lokal ini juga dinilai mencerminkan betapa pentingnya pendekatan multibahasa pada pendidikan, tidaklah belaka untuk meningkatkan literasi, tetapi juga untuk menguatkan dialog antarbudaya kemudian kohesi sosial.

    Pilihan Editor: Potensi Gempa Megathrust Selat Sunda, Pemkab Bekasi Ikut Tingkatkan Kewaspadaan