Tag: Laut

  • Fenomena Ikan Laut Dalam Bermunculan, Ada Apa dengan Bumi?

    Fenomena Ikan Laut Dalam Bermunculan, Ada Apa dengan Bumi?

    Ligapedianews – JAKARTA – Ikan-ikan yang biasa hidup dalam dasar laut mendadak muncul ke permukaan air laut. Fenomena ini menyebabkan banyak ahli mengaitkan dengan akan adanya bencana besar yang tersebut akan terjadi.

    Seperti dilansir dari Daily Mail, pada tanggal 26 Januari, para peneliti dalam Tenerife menemukan pemandangan langka “setan laut” yang mana perlahan mengapung ke permukaan laut.

    Spesies ikan ini biasanya ditemukan dalam laut dalam, tumbuh biak pada perairan gelap antara 650 dan juga 6.500 kaki di dalam bawah permukaan.

    Dengan daya tariknya yang menakutkan dan juga bersinar dan juga gigi yang tersebut mengancam, ikan ini menguasai laut dalam, menggunakan cahayanya untuk menarik mangsa yang tak menaruh curiga dari kegelapan.

    Fotografer satwa liar laut David Jara Bogunyà dari LSM Condrik Tenerife menggambarkan penampakan itu sebagai “mimpi yang digunakan menjadi kenyataan,” seraya menambahkan: “Ketika saya masih kecil, saya punya buku dengan beberapa makhluk laut dalam, dan juga saya suka ilustrasinya. Bagi saya, ilustrasi itu aneh. Hewan-hewan itu bukan tampak nyata.”

    Seperti dikutipkan di tempat New York Times , Condrik Tenerife mengonfirmasi untuk media lokal Spanyol Marca bahwa ikan anglerfish itu mati. Mereka menduga ikan itu sudah ada terluka juga tidaklah bertahan hidup.

    Berita yang disebutkan memacu para TikToker yang tersebut emosional ke wadah yang disebutkan dengan penghormatan kemudian teori yang dimaksud menyentuh hati – beberapa bahkan ditonton hingga jutaan kali.

    Seorang pengguna TikTok menggunakan Artificial Intelligence untuk menyebabkan animasi bergaya Finding Nemo yang mana memperoleh 14 jt penayangan.

    Sementara itu, pengguna lain berbagi interpretasi puitis kemudian menerima hampir dua jt tampilan.

  • Mengapa Ikan Kiamat Dikaitkan dengan Bencana Alam, Ini adalah Jawaban Ilmiahnya

    Mengapa Ikan Kiamat Dikaitkan dengan Bencana Alam, Ini adalah Jawaban Ilmiahnya

    Ligapedianews – MADRID – Julukan untuk ikan oarfish adalah i kan kiamat lantaran penampakannya dikaitkan dengan gempa bumi, sehingga muncul kepercayaan bahwa ikan dengan panjang lebih besar dari enam meter ini dapat memprediksi gempa bumi atau bencana alam.

    Ini berasal dari cerita rakyat Negeri Matahari Terbit di tempat mana ikan oarfish disebut “Utusan Dewa Laut” atau ryūgū no tsukai.

    Pertimbangan pertama adalah bahwa aktivitas seismik pada bawah dasar laut mungkin saja telah lama mengakibatkan ikan oarfish terdampar pada pantai, itulah yang tersebut menurut para ilmuwan mungkin saja terjadi pada tahun 2013 ketika dua ikan oarfish ditemukan dalam pantai-pantai di tempat California.

    Rachel Grant, dosen biologi hewan di area Universitas Anglia Ruskin di tempat Cambridge yang digunakan sudah mempelajari kejadian ini sebelumnya telah lama berbagi pemikirannya tentang apa yang tersebut kemungkinan besar menjadi penyebabnya.

    “Secara teori hal ini memungkinkan dikarenakan ketika gempa bumi terjadi, dapat terjadi peningkatan tekanan pada batuan yang dapat menyebabkan muatan elektrostatik yang mana menyebabkan ion-ion bermuatan listrik terlepas ke di air,” komentar Dr. Grant mengenai aktivitas seismik tersebut.

    “Hal ini dapat menyebabkan terbentuknya hidrogen peroksida, yang tersebut merupakan senyawa beracun. Ion bermuatan juga dapat mengoksidasi materi organik yang tersebut dapat membunuh ikan atau memaksa merekan meninggalkan laut di kemudian naik ke permukaan,” katanya .

    Dr Grant juga mencatatkan data betapa sejumlah gas karbon monoksida dilepaskan sebelum gempa bumi sehingga kemungkinan lainnya adalah hal ini dapat berdampak pada makhluk laut di seperti ikan oarfish.

    Atau jawabannya kemungkinan besar mesin buatan manusia yang berkeliaran dalam bawah air.

    “Bisa jadi lantaran aktivitas seismik atau mampu juga sebab faktor lain yang bukan terkait dengan gempa bumi, seperti infrasonik yang tersebut disebabkan oleh aktivitas di tempat bawah laut, seperti kapal selam militer, atau polusi,” ujarnya.

    Di tempat lain, lautan besar ditemukan di dalam bawah kerak Bumi , juga ada satu laut pada Bumi yang digunakan tiada menyentuh daratan serupa sekali .

  • Ikan Setan Muncul di tempat Pantai Wisata Tenerife Spanyol

    Ikan Setan Muncul di tempat Pantai Wisata Tenerife Spanyol

    ligapedianews.com LONDON – Seekor hewan laut yang disebut ‘ ikan setan’ yang hidup di dalam kedalaman 1.800 meter dalam laut telah terjadi difilmkan untuk pertama kalinya pada dekat pulau wisata populer.

    Seperti dilansir dari The Sun, ikan itu terlihat berenang dalam dekat permukaan laut, hanya sekali 2 kilometer dari pulau Tenerife Spanyol.

    Sebuah video yang mana dibagikan dalam media sosial menunjukkan ikan dengan gigi tajam seperti belati yang dimaksud memancarkan cahaya.

    Ikan menggunakan cahaya dari aktivitas bakteri untuk memikat mangsa ke di mulutnya.

    Ahli biologi kelautan Valencia, Laia Valor, pertama kali mengamati ikan yang dimaksud di area permukaan laut dekat pantai San Juan.

    Ia menghubungi rekan-rekannya untuk berbagi penemuan langka itu.

    “Ini adalah penampakan yang digunakan sangat langka serta tiada biasa,”

    “Kita tidaklah bisa saja menyatakan hal ini tak pernah terjadi, tetapi ini kemungkinan besar pertama kalinya gambar seperti ini diambil,” kata Valor.

    Ikan Setan Hitam, dengan nama ilmiah Melanocetus johnsonii, biasanya hidup di tempat kedalaman antara 200 meter hingga 2.000 meter di area di laut.

  • DKI Jakarta terancam tenggelam, ini penyebabnya

    DKI Jakarta terancam tenggelam, ini penyebabnya

    Ligapedianews.com DKI Jakarta – DKI Jakarta berada dalam menghadapi ancaman penting terkait prospek tenggelamnya kota ini. Kesulitan yang disebutkan bukanlah lagi sekadar prediksi, namun sudah menjadi kenyataan yang semakin dekat apabila mengawasi dari fenomena dataran Ibukota Indonesia yang dimaksud sudah ada lebih lanjut rendah dari air laut.

    Belum lagi kejadian banjir rob yang digunakan belakangan ini masif terjadi di dalam wilayah utara dengan kondisinya yang memprihatinkan.

    Berbagai studi serta data terbaru juga menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Jakarta, khususnya pada bagian utara, berisiko terendam air di beberapa dekade mendatang.

    Menurut data World Economic Diskusi (WEF) 2024, permukaan tanah di dalam Ibukota Indonesia turun rata-rata 17 cm setiap tahunnya. Hal ini menjadikan Ibukota Indonesia sebagai salah satu kota besar di tempat dunia yang paling rentan tenggelam.

    Pernyataan yang disebutkan semakin menguatkan prediksi akan prospek tenggelamnya Jakarta, yang digunakan disebut-sebut dapat terjadi pada tahun 2050.

    Apa yang tersebut menyebabkan DKI Jakarta terancam tenggelam?

    Beberapa faktor utama yang berkontribusi pada hambatan ini:

    1. Pengambilan air tanah yang mana berlebihan

    Selama bertahun-tahun, Ibukota Indonesia sangat bergantung pada air tanah untuk memenuhi keperluan air bersih. Akibatnya, lapisan tanah di area bawah permukaan menyusut secara signifikan, kemudian menyebabkan penurunan muka tanah.

    2. Pembangunan yang digunakan masif

    Pertumbuhan penduduk lalu pembangunan infrastruktur yang pesat pada DKI Jakarta menyebabkan beban berat pada tanah. Pembangunan gedung-gedung tinggi juga jalan raya juga semakin memperparah penurunan muka tanah.

    3. Kenaikan muka air laut

    Pemanasan global dan juga inovasi iklim yang dimaksud parah ketika ini menyebabkan es di area kutub mencair. Hal ini menyebabkan naiknya permukaan air laut di area perairan dunia.

    Kondisi ini semakin memperparah ancaman bagi kota-kota pesisir seperti Jakarta.

    4. Sistem drainase yang digunakan kurang memadai

    Sistem drainase di tempat Ibukota belum optimal pada menampung ukuran air hujan yang semakin besar akibat inovasi iklim. Akibatnya, rutin terjadi banjir di dalam berbagai wilayah.

    Data dari berbagai lembaga penelitian juga menunjukkan bahwa penurunan muka tanah di tempat DKI Jakarta terus berlanjut dengan kecepatan yang dimaksud mengkhawatirkan. Beberapa wilayah di area Ibukota Utara bahkan telah terjadi mengalami penurunan hingga beberapa meter di beberapa dekade terakhir.

    Badan Investigasi serta Inovasi Nasional (BRIN) bahkan sudah pernah melakukan simulasi yang dimaksud menunjukkan bahwa pada tahun 2050, sekitar 160,4 km² wilayah Ibukota akan terendam air.

    Sementara itu, laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) juga memberi peringatan bahwa kenaikan muka air laut akan semakin cepat di beberapa dekade mendatang, mengancam wilayah pesisir dalam seluruh dunia, termasuk Daerah Perkotaan Jakarta.

    Upaya Mitigasi

    Pemerintah serta berbagai pihak terkait telah lama berupaya untuk mengatasi kesulitan ini. Beberapa upaya yang dimaksud telah terjadi dilaksanakan antara lain:

    1. Pembangunan giant sea wall

    Proyek ambisius ini bertujuan untuk merancang tembok laut raksasa sebagai benteng pertahanan terakhir melawan kenaikan muka air laut.

    2. Pengembangan sistem drainase

    Pemerintah terus berupaya meningkatkan kapasitas lalu efisiensi sistem drainase dalam Jakarta.

    3. Pengurangan pemanfaatan air tanah

    Pemerintah mengupayakan pemanfaatan air permukaan sebagai alternatif sumber air bersih.

    Meskipun berbagai upaya telah dilakukan dilakukan, tantangan untuk menyelamatkan Ibukota dari ancaman tenggelam masih sangat besar. Dibutuhkan komitmen yang tersebut kuat dari semua pihak, baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat, untuk mengatasi permasalahan ini secara berkelanjutan.

    Apa yang digunakan mampu dilakukan?

    1. Menghemat pengaplikasian air

    Setiap individu dapat berkontribusi dengan menghurangi penyelenggaraan air bersih sehari-hari.

    2. Membantu kebijakan lingkungan

    Masyarakat perlu menyokong kebijakan pemerintah yang dimaksud bertujuan untuk melindungi lingkungan lalu mengempiskan dampak inovasi iklim.

    3. Menguatkan kesadaran

    Meningkatkan kesadaran penduduk tentang pentingnya menjaga lingkungan adalah langkah awal untuk mengatasi kesulitan ini.

    Ancaman tenggelamnya Ibukota adalah kesulitan penting yang mana memerlukan perhatian segera. Jika tak segera ditangani, dampaknya akan sangat luas, tak belaka bagi warga Jakarta, tetapi juga bagi Indonesia secara keseluruhan.

  • BRIN Dorong Inovasi untuk Tangani Sampah Plastik di area Laut

    BRIN Dorong Inovasi untuk Tangani Sampah Plastik di area Laut

    Jakarta – Peneliti Pusat Studi Oseanografi Badan Investigasi juga Inovasi Nasional (BRIN) Muhammad Reza Cordova mengungkapkan pada waktu ini tambahan dari 8 jt ton sampah plastik dibuang ke laut setiap tahunnya. Sampah ini mengancam keberadaan laut, sistem ekologi pesisir, serta kemampuan fisik manusia yang bergantung pada hasil laut.

    “Lebih dari 70 persen sampah plastik yang dimaksud berada di dalam perairan berasal dari aktivitas manusia di dalam daratan, termasuk melalui sungai dan juga pantai yang digunakan bukan dikelola dengan baik,” ujar Reza pada diskusi di tempat Gedung BJ Habibie Jakarta, Rabu, 11 September 2024.

    Berdasarkan data BRIN, jenis sampah plastik yang paling sejumlah ditemukan dalam perairan Indonesia adalah plastik sekali pakai seperti plastik sachet, kantong plastik, botol minuman, kemudian sedotan. Menurut Reza, sampah-sampah ini membutuhkan banyak tahun untuk terurai, mencemari laut, dan juga merusak habitat biota laut.

    Reza juga menyoroti bahaya mikroplastik, yakni partikel plastik yang digunakan berukuran kurang dari 5 milimeter. Penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik telah dilakukan terdeteksi pada semua sampel air juga sedimen lalu ditemukan pada berbagai spesies ikan kemudian kerang yang tersebut dikonsumsi masyarakat. “Mikroplastik sangat berbahaya oleh sebab itu dapat dikonsumsi oleh plankton dan juga ikan yang mana menjadi bagian penting dari rantai makanan laut, juga pada akhirnya masuk ke tubuh manusia,” katanya. 

    BRIN terus melakukan penelitian untuk menemukan solusi penanganan sampah plastik di dalam laut, termasuk teknologi inovatif untuk mendeteksi, mengumpulkan, lalu mendaur ulang sampah plastik. Salah satu pendekatan yang mana sedang dikembangkan adalah pemanfaatan teknologi penginderaan jarak jauh, sensor bawah air dan juga kecerdasan buatan untuk memetakan sebaran sampah plastik secara lebih banyak akurat.

    Selain itu, BRIN bekerja mirip dengan komunitas nelayan juga pemerintah wilayah di inisiatif pembersihan pantai juga edukasi masyarakat. “Pendekatan berbasis komunitas menjadi kunci utama di menekan jumlah agregat sampah plastik yang dimaksud masuk ke laut. Perubahan perilaku warga pada menjalankan sampah adalah langkah penting untuk jangka panjang,” kata Reza.

    Sebagai langkah lanjutan, BRIN juga mengupayakan regulasi terkait pengelolaan sampah plastik pada Indonesia. “Kebijakan pembatasan pemanfaatan plastik sekali pakai dan juga penguatan infrastruktur pengelolaan sampah di dalam perkotaan harus segera diimplementasikan untuk menjaga dari pencemaran laut,” kata Reza.

    BRIN mengundang seluruh warga juga pemangku kepentingan untuk bersama-sama menangani hambatan ini melalui aksi nyata di pengelolaan sampah. “Masa depan laut kita sangat bergantung pada upaya kita semua untuk menjaga kebersihannya. Laut yang tersebut bersih tidak hanya saja untuk biota laut, tetapi juga untuk keberlanjutan hidup kita sendiri,” ucap Reza.

    Dengan penelitian lalu perubahan yang digunakan dijalankan BRIN, diharapkan permasalahan sampah plastik dalam laut dapat diminimalkan lalu lingkungan laut Indonesia tetap memperlihatkan lestari untuk generasi mendatang.

    Pilihan Editor: Daftar HP Tidak Mendapat Pembaruan Android 15 juga Prakiraan Cuaca BMKG di dalam Top 3 Tekno

  • BRIN: Peluang Kerugian Akibat Kebocoran Sampah Plastik ke Laut Hingga Rupiah 225 Trilyun Setiap Tahun

    BRIN: Peluang Kerugian Akibat Kebocoran Sampah Plastik ke Laut Hingga Rupiah 225 Trilyun Setiap Tahun

    Jakarta – Target pemerintah Indonesia pada menurunkan kebocoran sampah plastik dari aktivitas penduduk sebesar 70 persen pada 2025. Namun, faktanya, dari perhitungan tahun 2024, penurunan itu baru mencapai 41,68 persen. 

    Peneliti Ahli Utama Pusat Studi Oseanografi Badan Penelitian serta Inovasi Nasional (BRIN) Muhammad Reza Cordova menyatakan peluang kerugian negara akibat kebocoran sampah plastik ke laut mencapai Rupiah 225 triliun per tahun.

    “Setelah kami hitung dari 2018 sampai 2023 secara kasar, rata-ratanya kurang lebih banyak sekitar 484 ribu ton per tahun (sampah plastik) yang digunakan bocor ke lautan dunia dari kegiatan warga kita. Kerugian kita berkisar Rupiah 125 triliun sampai Simbol Rupiah 225 triliun per tahun,” kata Reza, pada Media Massa Lounge Discussion (MELODI) bertajuk “Kebocoran Sampah Plastik ke Laut Indonesia kemudian Strategi Penanganannya” di tempat Gedung B.J Habibie, Jakarta, Rabu, 11 September 2024.

    “Bisa kita bayangkan secara kasar, dari 2018 sampai 2023 ini sudah ada enam tahun. Sekarang masuk tahun ketujuh. Berarti secara kasar kita sudah ada kehilangan Rupiah 2.000 triliun akibat sampah plastik,” kata dia. Estimasi kerugian tersebut, kata Reza, dilihat dari kerugian secara ekonomi, pariwisata, kesehatan, hingga dari sisi teknis.

    BRIN, kata dia, terus melakukan penelitian dengan memanfaatkan kecerdasan buatan pada mendeteksi jenis sampah plastik, termasuk melibatkan akademisi dari berbagai multidisiplin ilmu. “Karena kalau kita bicara plastik, sampah plastik ini ketika terkena sinar matahari, angin, lalu lain-lain, akan jadi mikroplastik. Semakin kecil ukuran plastik, semakin mudah pula akan masuk ke pada tubuh kita,” katanya.

    Upaya lainnya, menurut Reza, perlu diadakan proses bioremediasi yang membutuhkan waktu panjang. “Ketika sampah telah bocor ke lingkungan, apa yang kita lakukan? Kita coba cari mikroba apa yang dimaksud paling tepat untuk bisa jadi ‘memakan’ sampah plastik itu,” ucapnya.

    Reza juga menyoroti komitmen politis pimpinan tempat pada penyediaan anggaran untuk pengelolaan sampah. Anggaran pengelolaan sampah, kata dia, disebut optimal bila mencapai 3 hingga 4 persen dari total Anggaran Pendapatan dan juga Belanja Daerah (APBD). Namun, yang dimaksud terjadi ketika ini baru mencapai 0,07 persen. “Satu persen belaka enggak sampai. Itu satu problematika besar,” ucapnya.

    Pilihan Editor: Info Terkini Gempa M4,5 Guncang Gunungkidul, BMKG: Gempa Susulan ke-258 di dalam Zona Megathrust