
DKI Jakarta – Menjelang peringatan serius Isra Miraj 2026 yang akan jatuh pada 16 Januari, umat Islam kembali diajak merenungi salah satu perkembangan paling agung di sejarah Islam.
Isra Miraj bukanlah sekadar perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga ke Sidratul Muntaha, tetapi juga kesempatan turunnya perintah shalat lima waktu secara secara langsung dari Allah SWT.
Peristiwa ini menegaskan sikap shalat sebagai ibadah utama yang mana menjadi pembeda antara keimanan serta kelalaian.
Di berada dalam kesibukan lalu tantangan hidup modern, peringatan tegas Isra Miraj bermetamorfosis menjadi pengingat bahwa shalat bukanlah belaka kewajiban ritual, melainkan fondasi spiritual yang mana menjaga hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Berikut ini adalah alasan mengapa umat Islam, sangat penting menunaikan ibadah shalat, berdasarkan informasi yang mana telah lama dihimpun dari berubah-ubah sumber.
Mengapa shalat begitu penting?
Shalat, menurut penjelasannya, memiliki sejumlah bentuk lalu tujuan. Selain shalat wajib lima waktu, terdapat pula shalat sunnah yang dikerjakan sebagai sarana mendekatkan diri terhadap Allah, seperti shalat tahajud, shalat dhuha untuk memohon kelapangan rezeki, shalat istikharah untuk memohonkan petunjuk, hingga shalat hajat pada waktu menghadapi kesulitan dan juga berharap terkabul-nya keinginan.
Lebih dari sekadar mengenang kejadian Isra Miraj sebagai turunnya kewajiban shalat, momen ini juga seharusnya dimaknai sebagai ajakan untuk meningkatkan kualitas amal kebaikan, memperbaiki akhlak, juga mempererat hubungan antarsesama manusia. Adapun alasan mengapa shalat begitu penting, sebagai berikut:
1. Shalat adalah tiang agama
Shalat diibaratkan sebagai tiang penyangga sebuah bangunan. Jika tiang-nya rapuh atau rusak, maka bangunan yang dimaksud akan enteng roboh. Begitu pula dengan shalat yang tersebut bermetamorfosis menjadi fondasi utama di hidup orang Muslim. Seseorang yang mengaku beragama Islam tetapi mengabaikan shalat sejati-nya sudah pernah membinasakan identitas keislaman-nya sendiri.
Hal ini menegaskan bahwa shalat merupakan ciri utama umat Nabi Muhammad SAW. Imam Tirmidzi meriwayatkan sabda Rasulullah SAW yang digunakan berbunyi: “Inti segala perkara adalah Islam lalu tiang-nya adalah shalat.”
Makna dari hadis ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya saja sekadar keyakinan, tetapi juga pedoman hidup untuk mencapai keseimbangan juga kebahagiaan dalam dunia dan juga akhirat.
Shalat menjadi inti dari seluruh ibadah. Tanpa shalat, keberadaan spiritual akan timpang lalu berjauhan dari ketenangan. Tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa shalat adalah jalan paling efektif untuk mendekatkan diri untuk Allah SWT.
2. Shalat adalah amalan pertama yang mana dihisab
Fondasi yang mana kokoh akan menimbulkan bangunan berdiri kuat. Demikian pula shalat. Ketika seseorang mempertahankan shalat lima waktunya dengan baik, ia akan merasakan kenikmatan pada beribadah. Dari situlah ibadah lain seperti puasa, sedekah, kemudian amalan sunnah akan terasa lebih banyak ringan lalu bermakna.
Sebaliknya, jikalau shalat rutin ditinggalkan tanpa alasan syar’i, maka tidak cuma shalat yang tersebut rusak, tetapi juga amalan lain bergabung terdampak. Meski seseorang rajin bersedekah atau berpuasa, mengabaikan shalat dapat menjadikan seluruh amal yang disebutkan kehilangan nilainya dikarenakan fondasi utamanya telah terjadi diabaikan.
Rasulullah SAW bersabda di hadis shahih: “Perkara yang dimaksud pertama kali akan dihisab dari pribadi hamba pada hari kiamat nanti adalah sholat. Kalau shalat-nya baik maka seluruh amal-nya pun baik. Kalau shalat-nya buruk maka seluruh amal-nya juga akan buruk.”
Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin di Syarah Riyadus Shalihin menjelaskan makna hadis tersebut: “Kalau baik shalat-nya, maka beruntung kemudian selamat. Tapi kalau tidak, maka kebalikannya, yaitu kerusakan kemudian rugi.”
3. Meninggalkan shalat dengan sengaja adalah dosa besar
Mengaku beriman namun meninggalkan shalat tanpa alasan yang dibenarkan syariat merupakan perbuatan dosa. Jika direalisasikan terus-menerus, dosanya semakin berat. Bahkan, apabila seseorang menganggap shalat tidak lagi kewajiban, perbuatan yang dimaksud dapat digolongkan sebagai kufur terhadap perintah Allah.
Kufur berarti mengingkari kebenaran serta menolak perintah Allah SWT. Dalam Islam, shalat berubah menjadi pembeda yang tersebut jelas antara keimanan juga kekufuran. Rasulullah SAW bersabda sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim: “(Pembeda) antara orang Muslim serta kesyirikan (kekufuran) juga kekafiran adalah meninggalkan shalat.”
Allah SWT juga mengingatkan ancaman bagi penduduk yang tersebut kufur dan juga tiada mau bertobat, sebagaimana firman-Nya: "Siapa yang digunakan kufur untuk Allah pasca beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali pendatang yang dipaksa (mengucapkan kalimat kekufuran), sedangkan hatinya kekal tenang dengan keimanannya (dia tidak ada berdosa). Akan tetapi, siapa yang tersebut berlapang dada untuk (menerima) kekufuran, niscaya kemurkaan Allah menimpanya kemudian bagi dia ada azab yang digunakan besar." (QS. An-Nahl: 106)
Keutamaan shalat di kehidupan
Shalat miliki banyak keistimewaan yang digunakan berdampak dengan segera pada keberadaan pribadi muslim, pada antaranya:
1. Mencegah perbuatan keji dan juga mungkar
Allah SWT berfirman: “Bacalah kitab (Al-Quran) yang dimaksud telah terjadi diwahyukan kepadamu kemudian tegakkanlah shalat. Sesungguhnya salat itu menjaga dari dari (perbuatan) keji kemudian mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar besar (keutamaannya daripada ibadah yang tersebut lain). Allah mengetahui apa yang digunakan kamu kerjakan.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)
2. Mengoptimalkan ketakwaan untuk Allah SWT
Tujuan utama keberadaan manusia Muslim adalah mencapai ketakwaan. Shalat berperan besar di membentuk kesalehan pribadi kemudian mempertahankan seseorang masih berada pada jalan yang mana lurus. Allah SWT berfirman di Al Quran:
“Kitab (Al-Quran) ini tidak ada ada keraguan di dalam dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang tersebut bertakwa, (yaitu) orang-orang yang mana beriman pada yang tersebut gaib, menegakkan salat, juga mengamalkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan terhadap mereka.” (QS. Al-Qur’an: 2-3)
3. Menghapus dosa-dosa
Shalat lima waktu memiliki keutamaan sebagai penghapus dosa, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Shalat yang digunakan lima waktu, hari terakhir pekan yang tersebut satu ke hari terakhir pekan lainnya, Ramadan yang digunakan satu ke Ramadan lainnya, itu bisa jadi berubah jadi penghapus dosa pada antara keduanya, selama pelakunya menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim)
Konsekuensi meninggalkan shalat
Mengabaikan shalat tak belaka berdampak pada rusak-nya keimanan, tetapi juga menghadirkan ancaman siksa. Salah satunya adalah neraka Saqar, yang mana disebutkan sebagai tempat bagi orang-orang yang tersebut meninggalkan shalat kemudian tak mau bertobat. Allah SWT berfirman:
"Apa yang digunakan menyebabkan kamu masuk ke pada (neraka) Saqar?' Mereka menjawab, 'Dahulu kami tidaklah satu di antaranya orang-orang yang melaksanakan sholat'." (QS. Al-Mudasir: 42-43)
Peringatan ini bermetamorfosis menjadi pengingat kuat bahwa shalat bukanlah sekadar kewajiban ritual, melainkan penentu keselamatan hidup orang Muslim, baik pada dunia maupun ke akhirat.
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk Kecerdasan Buatan dalam website web ini tanpa izin ditulis dari Kantor Berita ANTARA.



