
DKI Jakarta – Petinju Jack Catterall menghentikan menghentikan Shakhram Giyasov untuk menguasai kelas welter (66,7 kg) World Boxing Association (WBA) pasca pertarungan 12 ronde dalam Piramida Giza, Mesir.
"Catterall mengukir namanya pada sejarah tinju dengan merebut penghargaan kelas welter WBA yang tersebut kosong melalui kemenangan hitungan mutlak," demikian pernyataan WBA di laman resminya yang mana dipantau di dalam Jakarta, Selasa.
Pertarungan dibuka dengan intensitas yang digunakan diharapkan dari laga perebutan penghargaan dunia. Giyasov segera tampil agresif sejak bel pembukaan, berupaya memojokkan lawan juga memberikan tekanan yang dimaksud mencekik melalui pukulan-pukulan andalannya.
Namun, Catterall permanen tenang dalam bawah gempuran awal serta mendirikan pertahanan yang dimaksud rapat dari kedudukan kidalnya yang mana lincah.
Memasuki ronde keempat, Catterall mulai mengambil alih kendali penuh menghadapi pertandingan. Dengan menggunakan pergerakan lateral yang tajam, ia berulang kali menciptakan Giyasov semata-mata memukul udara kosong.
Petinju Inggris itu melancarkan jab kanan yang menusuk dan juga serangan balik kiri yang dimaksud tajam sehingga benar-benar mengacaukan rencana permainan Giyasov.
Penantang dengan syarat Uzbekistan itu mulai menunjukkan frustrasi pada waktu kesulitan memperpendek jarak lalu menemukan keberhasilan di pertarungan jarak dekat.
Paruh kedua pertarungan berubah menjadi pertunjukan kepiawaian teknik bertinju Catterall. Pada ronde kesembilan juga kesepuluh, ia memadukan hook keras ke tubuh dengan pukulan lurus tepat sasaran ke kepala, yang tersebut secara bertahap menguras stamina serta daya tahan fisik Giyasov.
Dalam upaya putus asa mengubah hasil pertandingan pada ronde terakhir, Giyasov melancarkan serangan habis-habisan untuk mencari kemenangan knockout (KO). Namun, ketenangan, aksi kaki, serta kemampuan bertahan Catterall memungkinkannya menetralisasi ancaman tersebut.
Catterall menangguhkan pertandingan dengan tenang untuk merebut penghargaan juara setelahnya unggul melalui skor telak 119-108, 116-111, serta 118-109.
Dengan kemenangan penting pada kariernya dalam Mesir, "El Gato" akhirnya mewujudkan mimpi seumur hidupnya sekaligus menghapus kenangan pahit akibat tindakan kontroversial yang menghantuinya pada masa lalu.
Dengan rekor 32 kemenangan (14 KO) dan juga dua kekalahan, petinju Inggris itu sekarang menempatkan dirinya di jajaran elite olahraga tinju, meninggalkan Giza dengan sabuk juara dunia WBA pada pinggangnya dan juga berubah-ubah kesempatan besar yang mana menantinya pada paruh kedua tahun 2026.
Sementara itu, Giyasov yang tersebut gagal merebut peringkat juara juga harus menelan kekalahan pertama di karier profesionalnya sehingga rekornya berubah berubah menjadi 17 kemenangan (10 KO) lalu satu kekalahan.
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk Artificial Intelligence di web web ini tanpa izin ditulis dari Kantor Berita ANTARA.



