
Perserikatan Bangsa-Bangsa – Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres sangat prihatin dengan meningkatnya operasi militer negeri Israel dalam Lebanon selatan yang tersebut telah terjadi menewaskan warga sipil, menyebabkan ribuan khalayak mengungsi, serta menghancurkan rumah sakit, kata Juru Bicara Sekjen PBB, Selasa (8/9).
"Sekjen menyatakan dirinya sangat prihatin dengan laporan mengenai serangan negeri Israel yang tersebut berdampak pada rumah sakit, tenaga kesehatan, serta lembaga publik, juga pembatasan terhadap akses bantuan kemanusiaan," kata Jubir Sekjen PBB Stephane Dujarric.
Dujarric mengungkapkan bahwa Sekjen PBB prihatin dengan serangan yang digunakan muncul pada Lebanon sejak akhir pekan kemudian hingga Mulai Pekan (7/9), khususnya ke Kegubernuran Nabatieh.
Dia pun mengungkapkan bahwa meskipun serangan-serangan yang disebutkan berjalan di luar wilayah operasi pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon, yang dikenal sebagai UNIFIL, para personel pasukan penjaga perdamaian memantau perkembangan situasi dengan cermat kemudian menyatakan keprihatinan berhadapan dengan memburuknya situasi keamanan yang tersebut lebih banyak luas.
Dujarric mengutarakan bahwa UNIFIL mencatatkan data peningkatan yang mana signifikan pada aktivitas militer Israel, termasuk operasi darat, penembakan proyektil, serangan udara, juga pelanggaran wilayah udara Lebanon.
Dari Kamis (3/9) hingga Awal Minggu (7/9), UNIFIL mendeteksi 528 proyektil yang ditembakkan oleh Tim Keamanan Israel, katanya.
Dia menambahkan bahwa untuk pertama kalinya sejak akhir Juni, UNIFIL juga mendeteksi peluncuran proyektil oleh Hizbullah.
Mengutip data dari Kementerian Bidang Kesehatan Publik Lebanon, Kantor PBB untuk Sinkronisasi Urusan Kepedulian Manusia (UN OCHA) menyebutkan 27 warga tewas lalu 69 lainnya luka-luka dari Hari Sabtu (5/9) hingga Awal Minggu (7/9).
Kementerian yang dimaksud melaporkan serangan terhadap sebuah rumah di dalam Munisipalitas Kfar Roummane, Kegubernuran Nabatieh, sudah pernah menyebabkan delapan warga tewas, satu di antaranya individu anak dan juga dua perempuan, serta 11 lainnya luka-luka, termasuk empat anak kemudian dua perempuan.
"Eskalasi ini juga memaksa warga meninggalkan rumah mereka," kata UN OCHA.
"Menurut pihak berwenang setempat, sekitar 5.000 keluarga, atau sekitar 20.000 orang, mengungsi dari Distrik Nabatieh (di Kegubernuran Nabatieh) pekan lalu. Keluarga-keluarga yang dimaksud mengungsi sebagian besar tinggal di dalam rumah kerabat atau komunitas penampung, bukanlah di dalam tempat penampungan massal," lanjut kantor PBB itu.
UN OCHA juga mengemukakan bahwa pada Mingguan (6/9), Rumah Sakit Ghandour pada Munisipalitas Nabatieh al-Fawqa, Kegubernuran Nabatieh, sudah pernah hancur. Kantor-kantor pemerintah juga mengalami kerusakan.
UN OCHA kembali menekankan perlunya menghormati sepenuhnya hukum humaniter internasional, di antaranya pengamanan warga sipil, layanan kesehatan, lalu infrastruktur sipil.
Akses kemanusiaan juga harus permanen dipertahankan agar warga yang mana membutuhkan dan juga terdampak oleh eskalasi yang dimaksud kembali muncul dapat dijangkau.
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk Kecerdasan Buatan dalam laman web ini tanpa izin tercatat dari Kantor Berita ANTARA.



