Tag: tuberkulosis

  • Mengayuh ontel demi jemput pasien TBC di tempat Pela Mampang

    Mengayuh ontel demi jemput pasien TBC di tempat Pela Mampang

    Ligapedia.news DKI Jakarta – Ontel bukanlah belaka sekedar ontel, namun ternyata kendaraan ini juga memiliki nilai bagi sekitar.

    Menyusuri gang-gang sempit RW 01 Kelurahan Pela Mampang, DKI Jakarta Selatan dibalik itu ternyata ada satu misi mulia, yakni menjemput pasien tuberkulosis (TBC) agar tidaklah putus berobat.

    Bagi Kelurahan Pela Mampang, ONTEL merupakan singkatan dari Ojek Pasien TBC yang Telat Ambil Obat. Inovasi ini tak lepas dari strategi untuk mewujudkan Kampung Siaga TBC yang sedang digencarkan otoritas Provinsi DKI Jakarta.

    ONTEL ini hanya saja singkatan, sebetulnya dia menggunakan kendaraan beroda dua motor untuk bisa saja menjemput pasien secara sukarela.

    Nantinya layanan antar-jemput ini secara langsung mendatangi pasien yang dimaksud membutuhkan lantaran terhalang jarak maupun biaya transportasi untuk sanggup mendapatkan obatnya.

    Kader Tuberkulosis (TBC) Kelurahan Pela Mampang memberikan layanan antar jemput pasien bernama Ojek Pasien TBC yang mana Telat Ambil Jalan keluar (ONTEL) untuk mendapatkan pengobatan, Jakarta, Rabu (18/6/2025). ANTARA/HO-Kelurahan Pela Mampang.

    Salah satu kader TBC Kelurahan Pela Mampang, Yamiyati mengungkapkan pihaknya siap mengantar jemput pasien jikalau dihubungi merekan melalui nomor WhatsApp yang tersedia.

    Gratis tanpa biaya, pasien yang tersebut miliki keterbatasan mampu mengawaitu pada rumah sembari dijemput. Layanan ini bisa saja diakses sesuai jadwal pemeriksaan pasien.

    Menurut Yati, respon pasien sangat baik kemudian merasa terbantu lantaran pasien yang bukan punya akomodasi akan dengan mudah menjangkau layanan kondisi tubuh ataupun mendapatkan obatnya.

    Tak hanya sekali antar jemput pasien, RW ini juga memacu acara bedah rumah untuk pasien TBC yang digunakan membutuhkan perbaikan rumah agar memenuhi standar kesehatan. Proyek ini bekerja identik dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Bazis Ibukota Selatan.

    Dikatakan satu rumah itu terbilang tak layak dihuni penderita TBC yakni lembap, sempit kemudian minim ventilasi sehingga dikhawatirkan kurangnya sirkulasi udara maupun cahaya sinar matahari.

    Bahkan, ketika melaksanakan kegiatan bedah rumah pun terlihat kondisi rumah sangat tidaklah baik dan juga berbahaya oleh sebab itu kayu-kayu terbilang keropos. Jika salah bergerak, maka akan merobohkan bangunan.

    Dengan bedah rumah ini membuktikan pasien TBC tak belaka perlu obat, namun juga mempunyai tempat tinggal yang mana layak huni.

    Arsip – eksekutif Daerah Perkotaan Administrasi Ibukota Selatan memberikan bantuan bedah rumah terhadap pasien tuberkulosis (TBC) dalam Pela Mampang, Jakarta, Hari Sabtu (19/10/2024). ANTARA/HO-Kelurahan Pela Mampang.

    Rumah yang tersebut sehat kemudian layak menjadi faktor penting pada penanganan TBC akibat mampu menghindari penyebaran penyakit juga menggalang proses penyembuhan pasien. Selain itu, juga berdampak bagi anggota keluarga lainnya untuk mendapat tempat tinggal aman serta nyaman.

    Kemudian, dia juga menunjuk duta TBC yang digunakan bekerja sejenis dengan karang taruna RW, melakukan investigasi kontak serumah, memberikan makanan tambahan hingga penyuluhan pada setiap posyandu untuk mempercepat target eliminasi.

    Tak lupa turut menyediakan hotline Kampung Siaga TB RW 01 untuk melayani pasien yang digunakan mengalami kendala psikologis pada menjalani perawatan serta efek samping obat yang digunakan berat.

    Kini, dipastikan warga RW 01 Pela Mampang telah dilakukan terbebas dari penyakit TBC.

    Kegiatan ini menjadikan RW 01 Pela Mampang sebagai duta Ibukota Indonesia Selatan pada lomba Kampung Siaga TB tingkat Provinsi DKI DKI Jakarta pada 2024.

    Wujud konkret Pela Mampang memperlihatkan sebuah perjuangan kecil dari kampung yang digunakan selalu berpartisipasi dan juga ingin bermanfaat bagi sekitarnya. Para warganya mampu miliki harapan baru dengan lingkungannya yang saling mendukung.

    Ribuan pasien Jaksel ditangani

    Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit menular yang tersebut disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis serta dapat menular melalui percikan ludah/air liur ke orang sekitar seperti batuk, bersin atau ketika berbicara dengan orang lain.

    Gejala juga tanda seseorang menderita TB, yaitu gejala pernapasan batuk lebih besar dari 14 hari lalu beberapa gejala di tempat luar pernapasan, yakni keringat malam, demam, lemas, penurunan nafsu makan kemudian penurunan berat badan.

    TB dapat disembuhkan asalkan dapat terdeteksi secara dini kemudian penderita TB melakukan terapi dengan benar.

    Yang harus dijalankan oleh keluarga atau kontak erat pasien TB, yaitu melakukan investigasi kontak (skrining kesehatan) yang digunakan mampu dijalankan oleh puskesmas atau infrastruktur pelayanan kondisi tubuh terdekat.

    Suku Dinas Bidang Kesehatan DKI Jakarta Selatan telah lama menangani sebanyak 4.423 pasien Tuberkulosis (TBC) di area wilayah yang disebutkan sejak Januari hingga Mei 2025.

    Angka ini diharapkan semakin merosot jikalau dibandingkan dengan jumlah agregat tindakan hukum TB pada DKI Jakarta Selatan tahun 2024 yang digunakan mencapai sebanyak 13.250 kasus.

    Kemudian, pada tahun 2024 sudah pernah terbentuk 65 "Kampung Siaga TB" yang tersebut tersebar di dalam seluruh kelurahan pada Ibukota Indonesia Selatan (Jaksel).

    Suku Dinas Kesejahteraan Ibukota Indonesia Selatan (Sudinkes Jaksel) membidik sebanyak 130 Kampung Siaga Tuberkulosis (TBC) terbentuk pada 2025 pada upaya mewujudkan Ibukota Indonesia yang dimaksud lebih lanjut sehat.

    Kampung Siaga TBC diinisiasi minimal satu RW per kelurahan sesuai Peraturan Gubernur DKI Ibukota Indonesia Nomor 28 Tahun 2018 tentang Penanggulangan Tuberkulosis (TB).

    Adapun regulasi tingkat kota tercantum pada Instruksi Wali Perkotaan Nomor e-0072/2024 tentang Percepatan Penanggulangan TB Pusat Kota Administrasi DKI Jakarta Selatan.

    DKI Ibukota Indonesia berusaha mencapai penemuan 70.387 tindakan hukum pada tahun 2025. Salah satu pengembangan terbaru adalah pembentukan 274 Kampung Siaga Tuberkulosis pada tahun 2024 dan juga akan dikembangkan hingga menjadi 500 Kampung pada tahun ini.

    Kata "Siaga" bukanlah menandakan kedaruratan terhadap tindakan hukum TBC, melainkan kewaspadaan warga untuk menjaga dari lingkungannya ditemukan kasus.

    "Kampung Siaga TB" merupakan upaya untuk pengendalian TB berbasis kewilayahan. eksekutif Provinsi (Pemprov) DKI Ibukota menggalakkan komunitas yang tersebut paling kecil di area masyarakat, yakni RW untuk miliki kesadaran menjaga wilayahnya supaya tetap saja sehat kemudian bebas dari TB.

    Penting adanya ruang untuk mendirikan kesadaran masyarakat, menghapus stigma kemudian menumbuhkan empati terhadap para penderita maupun penyintas TB.

    Peran RT, RW, lalu aparatur kelurahan sangat diperlukan untuk menjadi garda terdepan menumbuhkan kesadaran juga perhatian warga terhadap penyakit TBC.

    Tahun Anggaran 2025 diusulkan alokasi sebesar Rp65 miliar untuk penanganan TBC. Selain itu, juga masih ada bantuan pembiayaan dari Global Fund sebesar Rp9,1 miliar.

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk Teknologi AI dalam situs web ini tanpa izin tertoreh dari Kantor Berita ANTARA.

  • Cara simpel menurunkan risiko TBC di area keberadaan sehari-hari

    Cara simpel menurunkan risiko TBC di area keberadaan sehari-hari

    DKI Jakarta – Tuberkulosis (TBC) masih menjadi ancaman kondisi tubuh yang digunakan serius di dalam berbagai negara, termasuk Indonesia.

    Penyakit ini menyebar melalui udara dan juga bisa jadi menyerang siapa saja, khususnya dalam lingkungan yang tersebut padat juga miliki ventilasi buruk. Meskipun TBC dapat diobati, menjaga dari penularannya sangat lebih lanjut baik serta bisa saja dimulai dengan memulai pembangunan kebiasaan sehat di hidup sehari-hari.

    Banyak yang dimaksud mengira bahwa TBC hanya sekali menular melalui kontak secara langsung dengan penderita. Faktanya, bakteri Mycobacterium tuberculosis bisa jadi tersebar di dalam udara di tempat berbagai tempat tanpa disadari, seperti di tempat transportasi umum, tempat kerja atau dalam rumah dengan sirkulasi udara yang kurang baik.

    Menjaga kemampuan fisik tubuh serta lingkungan bukan belaka mengempiskan risiko tertular TBC, tetapi juga meningkatkan kekuatan sistem imun agar lebih besar tahan terhadap berbagai infeksi. Jadi, apa hanya langkah yang digunakan bisa saja diadakan untuk menurunkan risiko TBC pada hidup sehari-hari? Berikut beberapa cara mudah yang tersebut bisa jadi mulai diterapkan.

    1. Perbaiki kualitas udara di area rumah

    Pastikan rumah atau tempat kerja miliki ventilasi yang digunakan baik untuk menjamin sirkulasi udara berjalan lancar. Atmosfer segar yang dimaksud mengalir membantu mengempiskan kemungkinan penyebaran bakteri di tempat udara. Biasakan membuka jendela secara rutin agar udara di dalam pada ruangan berganti serta memungkinkan sinar matahari masuk, akibat cahaya matahari dapat membunuh bakteri dalam udara.

    2. Jaga kebersihan pribadi juga lingkungan

    Menjaga kebersihan diri juga lingkungan adalah langkah dasar yang tersebut efektif pada mengurangi penularan TBC. Biasakan mencuci tangan secara rutin, teristimewa setelahnya beraktivitas di tempat luar rumah atau sebelum makan. Bagi penderita TBC, disarankan menggunakan masker pada waktu berinteraksi dengan orang lain, teristimewa di area masa awal pengobatan, untuk menjaga dari penyebaran bakteri.

    3. Konsumsi makanan bergizi

    Asupan nutrisi yang baik sangat penting untuk menjaga sistem imun tetap memperlihatkan kuat. Konsumsi makanan yang kaya vitamin, mineral, lalu radikal bebas seperti buah-buahan, sayuran, lalu protein. Hindari makanan yang digunakan mengandung zat adiktif atau pengawet berlebih, dikarenakan dapat merusak kekuatan daya tahan tubuh juga menimbulkan tubuh lebih lanjut rentan terhadap infeksi.

    4. Rutin berolahraga

    Aktivitas fisik secara teratur dapat meningkatkan daya tahan tubuh serta menguatkan organ pernapasan. Pilih olahraga ringan seperti berjalan kaki, bersepeda, atau yoga selama 30 menit sehari untuk menjaga kemampuan fisik tubuh. Sirkulasi darah yang mana baik akibat olahraga juga membantu tubuh melawan infeksi secara lebih tinggi efektif.

    5. Hindari kebiasaan yang mana merusak kekuatan imunitas

    Beberapa kebiasaan buruk seperti merokok, mengonsumsi alkohol, kurang tidur kemudian stres berlebihan dapat merusak kekuatan sistem imun. Usahakan untuk mempunyai pola tidur yang dimaksud cukup, kelola stres dengan aktivitas relaksasi seperti meditasi, lalu hindari paparan asap rokok yang tersebut dapat merusak paru-paru juga meningkatkan risiko tertular TBC.

    6. Tingkatkan edukasi juga kesadaran tentang TBC

    Memahami informasi yang benar mengenai TBC adalah kunci utama di pencegahan. Carilah informasi dari sumber terpercaya lalu jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga medis apabila mengalami gejala seperti batuk berkepanjangan, kelelahan, atau penurunan berat badan tanpa sebab jelas. Semakin banyak kita tahu, semakin mudah kita mengambil tindakan pencegahan yang mana tepat.