Tag: suriah

  • Trump: Peran Hormuz akan berkurang, digantikan jalur pipa Suriah

    Trump: Peran Hormuz akan berkurang, digantikan jalur pipa Suriah

    Washington – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan peran Selat Hormuz akan berkurang pada masa mendatang seiring beroperasinya jaringan pipa baru dan juga berkembangnya jalur alternatif pengangkutan minyak di Timur Tengah.

    "Pipa-pipa sedang dibangun sekarang. Jalan melalui Suriah, yang luar biasa, sedang dibangun serta sebenarnya telah terbuka. Orang-orang menyebabkan minyak dengan truk melalui Suriah, truk-truk besar yang mengangkut minyak," kata Trump untuk wartawan, Jumat.

    "Sejumlah alternatif untuk Selat Hormuz sedang dibuat. Selat Hormuz tiada seperti dulu lagi … merekan (Iran) pada akhirnya akan miliki Selat Hormuz yang tidak ada lagi terlalu diperlukan. Pipa-pipa sedang dibangun pada seluruh Timur Tengah sehingga mereka tidaklah penting melalui Hormuz," katanya.

    Pada Kamis, Trump mengunggah gambar di Truth Social yang mana menunjukkan sekitar 18 jt barel minyak per hari ketika ini melintasi selat tersebut. Angka itu turun dari sekitar 20 jt barel sebelum konflik dengan Iran dimulai.

    Pada 18 Agustus, Trump menyatakan Selat Hormuz terbuka bagi pelayaran. Namun, blokade angkatan laut terhadap Iran masih diberlakukan.

    Selat Hormuz permanen menjadi jalur penting bagi perdagangan energi global. Di berada dalam ketegangan regional, kemudian lintas pelayaran melalui selat yang dimaksud turun secara signifikan.

    Dalam beberapa hari terakhir, jumlah total kapal yang melintas hanya sekali tersisa segelintir. Kapal tanker minyak berukuran besar juga pengangkut gas juga nyaris berhenti menggunakan jalur tersebut.

    Sebelum eskalasi, sekitar seperlima pengiriman minyak juga gas alam cair bola menyeberangi Selat Hormuz.

    Sumber: Sputnik

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk Kecerdasan Buatan di laman web ini tanpa izin tercatat dari Kantor Berita ANTARA.

  • Pakar Turki: Jalur pipa Suriah tak mampu gantikan peran Hormuz

    Pakar Turki: Jalur pipa Suriah tak mampu gantikan peran Hormuz

    Antakya – Seorang pakar Turki menganggap pengiriman minyak mentah melalui jalur darat Suriah tak dapat menggantikan peran strategis Selat Hormuz akibat tingginya biaya proyek, ketiadaan jaminan keamanan internasional, dan juga tiada adanya korporasi yang bersedia mendanai.

    Mantan Kepala Pengadaan BOTA (perusahaan energi negara Turki), Ali Arif Akturk, mengkaji wacana pengerjaan maupun pemulihan jalur pipa melintasi Suriah mengabaikan realitas teknis pada lapangan.

    "Pembicaraan bahwa pipa darat dapat menggantikan Selat Hormuz mengabaikan realitas teknis. Pembangunan kembali serta perawatan pipa Kirkuk-Baniyas diperkirakan menelan biaya hingga 15 miliar dolar Negeri Paman Sam (sekitar Rp245 triliun), tambahan mahal daripada mendirikan jalur baru dari awal," ujar Akturk pada wawancara khusus dengan RIA Novosti.

    Ia menambahkan penyelenggaraan jalur pipa baru akan memakan waktu empat hingga lima tahun. Jangka waktu yang dimaksud dinilai terlalu lama mengingat dinamika konflik di dalam kawasan yang dimaksud terbentuk sangat cepat.

    Menurut Akturk, konflik di dalam Selat Hormuz diproyeksikan akan datang selesai lebih lanjut cepat dari lima tahun. Jika tidak, planet dipastikan akan menghadapi bencana sektor ekonomi global yang mana sangat lebih besar besar.

    Selain itu, situasi keamanan ke Suriah pada waktu ini dinilai belum kondusif untuk pembangunan ekonomi strategis, yang mana pada akhirnya justru akan membengkakkan biaya operasional dan juga pengamanan jalur pipa.

    "Proyek lintas negara semacam ini membutuhkan komitmen internasional kemudian jaminan dari negara penerima," tegas Akturk.

    Menurutnya, ketika ini Suriah tak miliki pemerintahan dengan otoritas yang tersebut memadai untuk memberikan jaminan tersebut. Lagi pula, tiada ada lembaga keuangan internasional yang berani mengambil risiko berinvestasi miliaran dolar tanpa adanya kepastian keamanan.

    Ia juga menyoroti aspek keekonomian proyek, di dalam mana biaya pengiriman minyak via Suriah diperkirakan akan membengkak setidaknya dua kali lipat dibandingkan melalui jalur pipa Kirkuk-Ceyhan.

    Proyek pipa Suriah yang disebutkan juga dinilai akan menjadi kompetitor dengan segera bagi jalur Kirkuk-Ceyhan, sehingga pemerintahan Ankara diyakini tak akan memberikan dukungan.

    Wacana pengaplikasian jalur Suriah mengemuka pasca Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan dukungannya untuk menjadikan rute darat itu sebagai alternatif Selat Hormuz.

    Sebelumnya, Menteri Keuangan Negeri Paman Sam Scott Bessent mengeklaim bahwa Selat Hormuz akan datang kehilangan peran vitalnya sebagai rute perdagangan dunia pada dua tahun ke depan lalu berubah menjadi jalur perairan yang mana "tidak bernilai".

    Sumber: Sputnik

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk Artificial Intelligence di platform web ini tanpa izin tercatat dari Kantor Berita ANTARA.

  • Bashar Al-Assad, sosok diktator Suriah yang digunakan akhirnya digulingkan

    Bashar Al-Assad, sosok diktator Suriah yang digunakan akhirnya digulingkan

    Ligapedianews.com DKI Jakarta – Bashar Hafiz Al-Assad (بشار حافظ الأسد) atau Bashar Al-Assad adalah individu politikus, perwira militer, serta dokter bedah dengan syarat Suriah yang dimaksud menjabat sebagai Presiden Suriah sejak Juli 2000 hingga akhirnya digulingkan pada 8 Desember 2024.

    Assad, yang tersebut mewarisi kekuasaan ayahnya, yaitu Hafez al-Assad, menjadi pemimpin negara Suriah selama lebih tinggi dari dua dekade dalam bawah rezim otoriter. Pemerintahannya ditandai oleh berbagai pelanggaran hak asasi manusia, konflik internal yang mana berkepanjangan, juga penindasan terhadap oposisi politik.

    Kehidupan awal dan juga latar belakang pendidikan

    Bashar al-Assad lahir pada 11 September 1965 di tempat Damaskus, Suriah. Ia adalah putra kedua dari Hafez al-Assad, yang mana menjadi Presiden Suriah dari tahun 1971 hingga 2000. Assad menempuh lembaga pendidikan menengah dalam sekolah elit Franco-Arab al-Hurriyet di tempat Damaskus sebelum kemudian melanjutkan studi pada Universitas Damaskus untuk belajar di tempat Fakultas Kedokteran.

    Ia lulus pada tahun 1988, lalu mengawali kariernya dengan bekerja sebagai dokter di dalam Angkatan Darat Suriah. Kemudian, pada 1992, ia melanjutkan studi pascasarjana di tempat bidang oftalmologi di area Rumah Sakit Mata Barat, London.

    Takdir politiknya berubah besar pada tahun 1994 ketika kakak tertuanya, Basil al-Assad, yang mana pada waktu itu dipersiapkan sebagai penerus ayah mereka, meninggal di kecelakaan mobil. Setelah itu, Bashar dipanggil kembali ke Suriah untuk mempersiapkan dirinya sebagai pewaris kekuasaan. Ia memasuki akademi militer serta berpartisipasi pada pendudukan Suriah menghadapi Lebanon di area akhir 1990-an.

    Awal kekuasaan

    Bashar al-Assad menjadi Presiden Suriah pada 17 Juli 2000, menggantikan ayahnya yang mana meninggal sebulan sebelumnya.

    Ia juga mengambil alih kedudukan sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Suriah dan juga Sekretaris Jenderal Partai Ba'ath Sosialis Arab.

    Meskipun awalnya ada harapan bahwa ia akan memodernisasi lalu mereformasi Suriah, namun pada kenyataannya periode awal kekuasaan Bashar yang tersebut dikenal sebagai Damaskus Spring, dengan cepat berakhir dengan tindakan represif lalu otoriter terhadap aktivis serta tokoh oposisi pada tahun 2001-2002.

    Referendum pada tahun 2000 kemudian 2007 mengukuhkan Assad sebagai presiden dengan tingkat dukungan yang tersebut dilaporkan mencapai lebih banyak dari 97%, meskipun proses pilpres yang dimaksud secara luas dianggap tiada demokratis.

    Kepemimpinan otoriter kemudian konflik saudara dalam Suriah

    Banyak analis mengecap rezim Assad sebagai kediktatoran. Assad memerintah Suriah sebagai negara totaliter, dengan mengandalkan aparat keamanan dan juga propaganda yang digunakan masif. Rezimnya banyak kali dieksploitasi ketegangan sektarian untuk mempertahankan kekuasaan.

    Pada tahun 2011, ketika gelombang Arab Spring melanda Timur Tengah, demonstrasi anti-pemerintah di dalam Suriah berubah menjadi konflik bersenjata setelahnya tindakan keras aparat keamanan. Perang saudara yang berkepanjangan mengakibatkan lebih tinggi dari 580.000 orang tewas, dengan mayoritas korban adalah warga sipil. Rezim Assad dituduh melakukan berbagai kejahatan perang, termasuk pengaplikasian senjata kimia pada beberapa serangan mematikan, seperti serangan gas sarin di area Ghouta pada tahun 2013.

    Runtuhnya rezim Assad

    Setelah bertahun-tahun bertahan dari berbagai tekanan internasional dan juga konflik internal, rezim Assad akhirnya runtuh pada Desember 2024. Serangan besar-besaran oleh oposisi Suriah, yang digunakan dipimpin oleh koalisi kelompok Hayat Tahrir al-Sham (HTS) serta didukung oleh Tentara Nasional Suriah (SNA) yang tersebut didukung Turki, berhasil merebut kota Damaskus pada 8 Desember 2024. Assad dan juga keluarganya kemudian melarikan diri ke Rusia, dalam mana ia diberikan suaka urusan politik oleh pemerintah Moskow.

    Kejatuhan Assad menandai berakhirnya kekuasaan keluarga al-Assad yang digunakan sudah pernah memerintah Suriah selama lebih banyak dari lima dekade sejak ayahnya, Hafez al-Assad, mengambil alih kekuasaan pada tahun 1971.

    Kehidupan pribadi

    ​​​​​​​Bashar al-Assad menikah dengan Asma al-Akhras, seseorang ekonom yang digunakan lahir dan juga besar di area Inggris. Pasangan ini memiliki tiga anak. Assad juga dikenal fasih berbahasa Inggris dan juga Prancis, dan juga mempunyai latar belakang akademis pada bidang kedokteran mata.

    Kontroversi

    Warisan Bashar al-Assad sebagai pemimpin Suriah dipenuhi kontroversi. Meskipun ia memulai masa jabatannya dengan janji reformasi, pemerintahannya justru ditandai oleh pengabaian hak asasi manusia, konflik brutal, dan juga kehancuran ekonomi. Kejatuhannya memberikan harapan baru bagi rakyat Suriah untuk memulai era kebijakan pemerintah yang digunakan lebih besar demokratis juga inklusif, meskipun tantangan besar masih menanti negara yang disebutkan dalam masa transisi.

    Runtuhnya rezim Assad juga membuka putaran baru di geopolitik Timur Tengah, dengan dampak signifikan terhadap hubungan internasional Suriah kemudian stabilitas regional.

  • Sejarah kota Damaskus sebagai salah satu pusat peradaban dunia

    Sejarah kota Damaskus sebagai salah satu pusat peradaban dunia

    Ligapedianews.com Ibukota Indonesia – Damaskus sebagai ibu kota Suriah adalah salah satu kota tertua di area dunia yang digunakan terus dihuni oleh manusia.

    Terletak dalam dataran subur dekat Sungai Barada, kota ini telah terjadi menjadi pusat peradaban selama lebih besar dari empat milenium.

    Dengan sejarah yang digunakan sangat beragam, Damaskus sudah pernah menyaksikan naik turunnya kekaisaran, percampuran budaya, kemudian perubahan besar yang menjadikannya simbol peradaban yang abadi.

    Awal mula dan juga peran sebagai pusat peradaban kuno

    Damaskus pertama kali muncul di catatan sejarah pada abad ke-15 SM, pada arsip Mesir yang tersebut merujuk pada kota ini sebagai pusat perdagangan.

    Namun, bukti arkeologis menunjukkan bahwa kawasan yang disebutkan telah lama dihuni sangat sebelumnya, kemungkinan sejak 8.000 tahun yang lalu.

    Keberadaan Sungai Barada yang mana mengalir melalui kota menjadi faktor utama yang dimaksud memperkuat peningkatan awal Damaskus, menyediakan air bagi irigasi juga hidup sehari-hari.

    Pada masa Kekaisaran Aram pada abad ke-11 hingga ke-8 SM, Damaskus menjadi pusat kebijakan pemerintah juga budaya yang penting.

    Aram Damaskus, kerajaan yang tersebut berpusat di tempat kota ini, memainkan peran strategis pada Timur Dekat, berinteraksi dengan bangsa-bangsa seperti Asyur, Babilonia, lalu Israel. Bahasa Aram, yang mana menjadi lingua franca kawasan yang disebutkan turut mengalami perkembangan kemudian menyebar dari kota ini.

    Damaskus pada sejarah kekaisaran besar

    Setelah periode Aram, Damaskus menjadi bagian dari Kekaisaran Asyur serta kemudian Kekaisaran Babilonia.

    Pada abad ke-6 SM, kota ini jatuh ke tangan Kekaisaran Persia Akhemeniyah, yang tersebut memberikan otonomi relatif untuk Damaskus sebagai kota penting di jalur perdagangan mereka.

    Namun, Damaskus mulai bersinar di skala internasional setelahnya penaklukan oleh Aleksander Agung pada abad ke-4 SM.

    Setelah kematian Aleksander, kota ini menjadi bagian dari Kekaisaran Seleukia, salah satu penerus kerajaan Makedonia. Dalam periode ini, Damaskus berprogres sebagai pusat Hellenistik dengan pengaruh budaya Yunani yang mana kental.

    Pada abad ke-1 SM, Damaskus dikuasai oleh Kekaisaran Romawi. Di bawah Romawi, kota ini tumbuh pesat dengan infrastruktur yang dimaksud maju, seperti jalan raya, pasar, dan juga kuil. Salah satu peninggalan dari periode ini adalah Kuil Jupiter Damascenus, yang dimaksud sisa-sisanya masih dapat ditemukan di dalam lokasi Masjid Umayyah ketika ini.

    Peran Damaskus pada dunia Islam

    Transformasi terbesar di sejarah Damaskus terjadi pada abad ke-7 M, ketika kota ini ditaklukkan oleh pasukan Muslim di tempat bawah Khalid bin Walid pada tahun 634 M. Penaklukan ini menjadikan Damaskus sebagai salah satu pusat utama pada dunia Islam.

    Damaskus mencapai puncak kejayaannya pada masa Dinasti Umayyah (661–750 M), ketika kota ini menjadi ibu kota kekhalifahan Islam.

    Khalifah pertama Umayyah, Muawiyah bin Abu Sufyan, memilih Damaskus sebagai pusat kekuasaan dikarenakan lokasinya yang strategis serta infrastrukturnya yang mana sudah ada mapan.

    Pada masa pemerintahan Khalifah Umayyah, kota ini dihiasi dengan bangunan megah, termasuk Masjid Umayyah yang tersebut menjadi simbol kejayaan peradaban Islam. Damaskus juga menjadi pusat intelektual, menarik para ilmuwan, seniman, lalu penyair dari berbagai penjuru dunia Islam.

    Namun, peran Damaskus sebagai ibu kota kekhalifahan berakhir pada tahun 750 M, ketika Dinasti Abbasiyah menggulingkan Umayyah lalu memindahkan pusat kekuasaan ke Baghdad.

    Meski demikian, Damaskus tetap memperlihatkan menjadi kota penting di dunia Islam, teristimewa sebagai pusat perdagangan serta budaya.

    Periode Mamluk juga Ottoman

    Setelah berakhirnya kekuasaan Abbasiyah, Damaskus berada pada bawah berbagai kekuatan, termasuk Dinasti Fatimiyah, Seljuk, dan juga akhirnya Kesultanan Mamluk pada abad ke-13 M. Di bawah Mamluk, Damaskus kembali berprogres sebagai pusat perdagangan kemudian pendidikan, dengan madrasah-madrasah besar dan juga pangsa yang dimaksud ramai.

    Pada abad ke-16, Damaskus menjadi bagian dari Kekaisaran Ottoman. Selama periode Ottoman, kota ini mempertahankan statusnya sebagai pusat administratif dan juga spiritual.

    Salah satu peran penting Damaskus pada periode ini adalah sebagai titik awal bagi para jamaah haji menuju Mekkah.

    Damaskus pada era modern

    Pada abad ke-20, Damaskus menjadi pusat perjuangan melawan kolonialisme Prancis pasca jatuhnya Kekhalifahan Ottoman.

    Kota ini menjadi simbol perlawanan nasional Suriah selama Mandat Prancis (1920–1946). Setelah Suriah meraih kemerdekaan pada tahun 1946, Damaskus ditetapkan sebagai ibu kota negara.

    Namun, perjalanan modern Damaskus bukan lepas dari tantangan besar, teristimewa selama pertempuran saudara Suriah yang tersebut dimulai pada tahun 2011.

    Konflik ini menyebabkan kerusakan besar pada kota lalu keberadaan penduduknya. Meski begitu, Damaskus tetap saja berdiri sebagai simbol ketahanan lalu identitas nasional Suriah.

    Budaya dan juga warisan yang kekal

    Damaskus bukanlah hanya sekali kota dengan sejarah panjang, tetapi juga pusat kebudayaan yang tersebut kaya. Perkotaan ini dikenal dengan lingkungan ekonomi tradisionalnya, seperti Souq al-Hamidiya, yang dimaksud jual berbagai barang dari kain sutra hingga rempah-rempah.

    Selain itu, Damaskus juga terkenal dengan seni ukir kayu, tembikar, serta masakan tradisionalnya yang digunakan menggambarkan perpaduan budaya dari berbagai era.

    Warisan arsitektural Damaskus, termasuk Masjid Umayyah, Taman Azem, lalu jalan-jalan sempit Perkotaan Tua, menunjukkan keindahan juga kompleksitas sejarah kota ini.

    Pada tahun 1979, UNESCO menetapkan Pusat Kota Tua Damaskus sebagai Portal Warisan Bumi akibat nilai historis dan juga budayanya yang mana luar biasa.

    Damaskus adalah kota yang dimaksud tak tertandingi di hal sejarah lalu pengaruhnya terhadap peradaban manusia.

    Sebagai salah satu kota tertua yang mana terus dihuni, Damaskus telah lama menjadi saksi dari berbagai fase penting di sejarah dunia, dari era kuno hingga modern.

    Meski menghadapi berbagai tantangan, kota ini tetap memperlihatkan menjadi pusat kebudayaan, spiritualitas lalu ketahanan manusia, yang akan terus menginspirasi generasi mendatang.

  • Keindahan Masjid Umayyah di dalam Damaskus, Suriah

    Keindahan Masjid Umayyah di dalam Damaskus, Suriah

    Ligapedianews.com Ibukota Indonesia – Masjid Umayyah atau dikenal juga sebagai Masjid Raya Damaskus adalah salah satu bangunan paling penting di sejarah arsitektur Islam kemudian warisan budaya dunia.

    Berdiri megah di dalam pusat kota Damaskus, Suriah, masjid ini menjadi saksi perjalanan panjang peradaban yang mana melibatkan berbagai agama, kerajaan, lalu budaya.

    Keindahan arsitekturnya yang dimaksud memukau juga sejarahnya yang kaya menjadikan Masjid Umayyah sebagai simbol spiritual juga intelektual yang dimaksud melampaui zaman.

    Lapisan situs sejarah

    Masjid Umayyah dibangun di tempat berhadapan dengan lahan yang tersebut mempunyai sejarah keagamaan dan juga budaya yang sangat panjang. Ribuan tahun sebelum berdirinya masjid, lokasi ini menjadi pusat spiritual bangsa Aram, yang digunakan memulai pembangunan kuil untuk Hadad, dewa badai di mitologi mereka.

    Pada era Kekaisaran Romawi, tepatnya tahun 64 SM kuil ini digantikan oleh Kuil Jupiter Damascenus, sebuah struktur besar yang mana menjadi pusat keagamaan kota.

    Ketika Kekaisaran Romawi beralih ke agama Katolik, situs ini kembali berubah fungsi menjadi sebuah gereja yang tersebut didedikasikan untuk Santo Yohanes Pembaptis, pribadi tokoh yang mana dihormati pada tradisi Kristen lalu Islam.

    Gereja ini kemudian menjadi salah satu tempat ibadah utama di area Damaskus selama beberapa abad.

    Ketika kaum Muslimin menaklukkan Damaskus pada tahun 634 M, gereja yang disebutkan awalnya digunakan sama-sama oleh umat Muslim juga Kristen untuk beribadah. Namun, pada bawah pemerintahan Khalifah al-Walid I dari Dinasti Umayyah, gereja itu diubah menjadi masjid yang dimaksud monumental.

    Transformasi ini tiada hanya sekali menandai inovasi fungsi keagamaan tetapi juga mencerminkan visi besar Dinasti Umayyah di merancang simbol kejayaan Islam dalam zaman itu.

    Proses pembangunan yang tersebut megah

    Khalifah al-Walid I memulai proyek penyelenggaraan Masjid Umayyah pada tahun 706 M. Proyek ini melibatkan para arsitek lalu seniman terbaik dari berbagai wilayah, termasuk Bizantium, untuk menciptakan sebuah bangunan yang melambangkan kemegahan Islam.

    Pembangunan masjid berlangsung selama sekitar satu puluh tahun, dengan biaya yang mana sangat besar mencapai 600 ribu hingga 1 jt dinar emas.

    Masjid ini dirancang dengan memadukan elemen-elemen arsitektur Romawi, Bizantium, lalu tradisi Islam yang digunakan baru lahir. Hasilnya adalah sebuah bangunan yang digunakan tidaklah belaka indah secara estetika tetapi juga inovatif pada desainnya.

    Keindahan arsitektur

    Masjid Umayyah memiliki desain yang dimaksud mengesankan dengan denah persegi panjang yang tersebut luas. Salah satu ciri khasnya adalah halaman besar yang tersebut dikelilingi oleh deretan arkade dengan kolom-kolom megah.

    Halaman ini menjadi tempat berkumpul kemudian beribadah bagi umat Muslim juga mencerminkan keterbukaan ruang yang menjadi ciri arsitektur Islam.

    Fitur paling mencolok dari masjid ini adalah mosaik-mosaiknya yang indah. Mosaik yang disebutkan menghiasi dinding dan juga kubah masjid dengan gambar-gambar pemandangan surgawi seperti pohon-pohon, sungai, serta bangunan-bangunan yang mana dirancang dengan detail luar biasa.

    Salah satu keistimewaan mosaik ini adalah pengaplikasian kepingan kaca berlapis emas, menciptakan efek visual yang menakjubkan ketika terkena cahaya.

    Masjid ini juga memiliki tiga menara utama, yang mana masing-masing miliki sejarah juga makna tersendiri.

    Salah satu menara yang mana dikenal sebagai Menara Isa, diyakini oleh umat Muslim sebagai tempat Nabi Isa (Yesus) akan turun kembali pada akhir zaman.

    Selain itu, masjid ini juga miliki kubah besar yang digunakan disebut Kubah Elang (Qubbat al-Nasr), simbol dari kekuatan lalu kebesaran Islam.

    Makna keagamaan kemudian spiritual

    Masjid Umayyah memiliki arti yang dimaksud mendalam bagi umat Islam di dalam seluruh dunia. Di pada masjid ini terdapat tempat yang mana dipercaya sebagai makam Nabi Yahya (Santo Yohanes Pembaptis).

    Makam ini menjadi pengingat hubungan erat antara Islam dengan agama-agama Abrahamik sebelumnya.

    Masjid ini juga menjadi tempat berlangsungnya berbagai kejadian penting pada sejarah Islam. Khutbah-khutbah yang disampaikan di dalam di tempat ini oleh para khalifah serta ulama terkemuka mencerminkan peran masjid sebagai pusat intelektual kemudian spiritual.

    Peran di sejarah lalu budaya

    Selama berabad-abad, Masjid Umayyah sudah pernah menjadi simbol persatuan dan juga identitas bagi warga Damaskus. Selain menjadi tempat ibadah, masjid ini juga berfungsi sebagai pusat pembelajaran, tempat para cendekiawan berkumpul untuk mengeksplorasi ilmu agama, filsafat, kemudian sains.

    Masjid ini juga menjadi saksi bisu berbagai inovasi kebijakan pemerintah lalu sosial. Ketika Damaskus menjadi pusat kekuasaan Islam pada masa Dinasti Umayyah, masjid ini melambangkan kejayaan kemudian otoritas mereka.

    Di masa-masa selanjutnya, masjid ini terus bertahan melalui berbagai era, termasuk masa Kekhalifahan Abbasiyah, Kesultanan Mamluk, serta Kekaisaran Ottoman.

    Restorasi pada era modern

    Seperti sejumlah bangunan bersejarah lainnya, Masjid Umayyah sudah pernah menghadapi tantangan besar dari gempa bumi, kebakaran, kemudian konflik.

    Selama konflik yang dimaksud melanda Suriah sejak 2011, masjid ini mengalami kehancuran akibat pertempuran dalam sekitar Damaskus. Meski begitu, upaya untuk melindungi juga memulihkan masjid ini terus dilakukan, baik oleh pemerintah maupun rakyat internasional.

    Hari ini, Masjid Umayyah tetap memperlihatkan menjadi tujuan utama bagi para peziarah, wisatawan, lalu pencinta sejarah.

    Keindahan kemudian keagungannya menginspirasi jutaan orang, sementara nilai spiritualnya terus memberikan penghiburan juga harapan bagi umat Muslim di area seluruh dunia.

  • Ini adalah lah sosok Abu Muhammed Al-Golani, sang pemimpin baru Suriah

    Ini adalah lah sosok Abu Muhammed Al-Golani, sang pemimpin baru Suriah

    Ligapedianews.com Ibukota – Pasca runtuhnya rezim Bashar Al-Assad pada 8 Desember 2024 yang tersebut lalu, nama Abu Muhammed Al-Golani mencuat ke rakyat serta dianggap sebagai calon pemimpin baru Suriah.

    Siapa kah Abu Muhammed Al-Golani?

    Memiliki nama asli Ahmed Husseuin Al-Sharaa. Ia lahir di area Riyadh, Arab Saudi tahun 1982 pada waktu ayahnya bekerja sebagai insinyur perminyakan di area sana.

    Al-Golani lalu keluarganya kemudian kembali ke Suriah pada tahun 1989, dan juga menetap pada dekat Perkotaan Damaskus. Selama tinggal dalam Damaskus, tak sejumlah informasi yang digunakan diketahui tentang dirinya.

    Barulah pada 2003, Al-Golani hijrah ke Irak dan juga memutuskan bergabung dengan Al-Qaeda untuk menjadi bagian pada perlawanan terhadap invasi Amerika Serikat pada tanah timur tengah.

    Saat ini, Al-Golani dikenal sebagai sosok sentral di tempat balik pemberontakan yang mana berhasil menggulingkan Presiden Bashar Al-Assad di dalam Suriah.

    Sebagai pemimpin kelompok Hayat Tahrir al-Sham (HTS), ia mengawasi perjuangan panjang dari perlawanan ekstremis hingga merancang narasi baru sebagai individu pembangun negara yang mana pluralis juga toleran.

    Dengan latar belakang yang kompleks, Al-Golani sekarang ini menghadapi tantangan untuk membuktikan perubahan struktural dirinya sebagai pemimpin baru Suriah.

    Dari ekstremis ke pemimpin revolusi

    Al-Golani memulai perjalanan radikalnya pada tahun 2003 di dalam Irak. Saat itu, ia bergabung dengan kelompok pemberontak melawan pasukan Amerika Serikat.

    Selama masa tersebut, ia menjalin hubungan dengan Al-Qaeda kemudian menjadi bagian dari pembentukan kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang tersebut dipimpin Abu Bakr Al-Baghdadi.

    Pada 2011, ketika revolusi melawan rezim Assad dimulai di dalam Suriah, Al-Golani dikirim oleh Al-Baghdadi untuk mendirikan cabang Al-Qaeda dalam Suriah yang mana dikenal sebagai Jabhat al-Nusra.

    Meskipun Jabhat al-Nusra dianggap sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat, kelompok ini memainkan peran penting pada konflik Suriah. Namun, ambisi Al-Golani untuk mengawasi dan juga membentuk jalannya sendiri membawanya pada konflik dengan Al-Baghdadi.

    Rebranding dan konsolidasi kekuasaan

    Pada 2016, Al-Golani mengambil langkah besar dengan memutus hubungan resmi kelompoknya dengan Al-Qaeda juga mengganti nama Jabhat al-Nusra menjadi Jabhat Fateh al-Sham (Front Penaklukan Suriah). Langkah ini membuka jalan bagi konsolidasi kekuasaannya melawan kelompok-kelompok militan yang dimaksud terpecah dalam Suriah.

    Setahun kemudian, ia kembali melakukan rebranding dengan membentuk Hayat Tahrir al-Sham (HTS), sebuah aliansi kelompok pemberontak yang mana mengukuhkan posisinya sebagai kekuatan dominan pada wilayah Idlib, Suriah barat laut.

    Al-Golani juga mengeliminasi saingan lalu mantan sekutunya di dalam antara kelompok-kelompok ekstremis. Hal ini menguatkan cengkeramannya berhadapan dengan Idlib yang digunakan menjadi pusat kekuatan HTS.

    Dalam upayanya untuk mendapatkan legitimasi internasional, ia mendirikan "pemerintahan penyelamatan" de facto di dalam Idlib lalu memproyeksikan citra sebagai pemimpin yang digunakan mampu merancang institusi negara.

    Upaya perubahan publik

    Dalam beberapa tahun terakhir, Al-Golani sudah mencoba mengubah citra dirinya dari orang militan garis keras menjadi orang pemimpin urusan politik yang tersebut moderat.

    Ia meninggalkan pakaian militernya dan juga memilih mengenakan jas pada wawancara-wawancara media, termasuk dengan jaringan berita Barat seperti CNN juga PBS.

    Dalam wawancara tersebut, ia berbicara tentang pentingnya toleransi beragama juga pluralisme di dalam Suriah.

    Al-Golani juga menunjukkan gestur simbolis untuk merangkul kelompok minoritas. Ia mengunjungi komunitas Druze di dalam Idlib juga keluarga Kurdi yang terdampak konflik.

    Dalam wawancara dengan PBS pada 2021, ia menyatakan bahwa HTS tak miliki niat untuk menyerang Barat, meskipun Amerika Serikat masih menganggap kelompoknya sebagai organisasi teroris serta memberikan hadiah $10 jt bagi siapa belaka yang dimaksud dapat memberikan informasi tentangnya.

    Tantangan baru sebagai pemimpin Suriah

    Setelah keberhasilan pasukannya merebut Damaskus dan juga menciptakan Bashar Al-Assad melarikan diri ke Russia, Al-Golani saat ini menghadapi tantangan besar di membuktikan kemampuannya untuk mengawasi negara yang dimaksud terfragmentasi oleh konflik sektarian, etnis, juga kepentingan internasional.

    Dalam pidatonya di dalam Masjid Umayyah, ia mengumumkan kejatuhan Assad sebagai "kemenangan bagi umat Islam," tetapi ia juga menegaskan bahwa Suriah adalah milik semua rakyatnya, terlepas dari latar belakang agama atau etnis mereka.

    Suriah yang mana terdiri dari berbagai komunitas etnis serta agama, telah terjadi lama menjadi arena persaingan kepentingan asing, termasuk Rusia, Iran, Amerika Serikat, Turki, hingga Israel.

    Sebagai pemimpin, Al-Golani harus mampu menjembatani perpecahan internal ini sembari menjaga stabilitas di dalam berada dalam tekanan internasional.

    Masa depan HTS serta Suriah

    Dalam wawancara terakhirnya, Al-Golani menyatakan kesiapannya untuk membubarkan HTS setelahnya tercapainya transisi kekuasaan pada Suriah.

    Ia juga menyerukan desentralisasi kekuasaan untuk mencerminkan keragaman Suriah. Namun, skeptisisme tetap memperlihatkan tinggi, baik dari komunitas internasional maupun dari kelompok-kelompok minoritas di tempat di negeri yang tersebut masih mengingat catatan masa lalunya sebagai manusia ekstremis.

    Dengan latar belakang yang digunakan penuh dinamika, perjalanan Al-Golani dari orang jihadis ekstremis menjadi pemimpin revolusi adalah salah satu perubahan yang digunakan paling mencolok pada sejarah modern Timur Tengah.

    Kini, masa depan Suriah berada di dalam tangan manusia pria yang mana harus membuktikan bahwa inovasi yang digunakan ia klaim bukanlah sekadar retorika, tetapi sebuah kenyataan yang mana dapat menghadirkan perdamaian juga stabilitas bagi negara yang sudah pernah hancur oleh peperangan selama lebih besar dari satu dekade.

  • Simbol bintang ketiga pada bendera terbaru Suriah

    Simbol bintang ketiga pada bendera terbaru Suriah

    Ligapedianews.com DKI Jakarta – Pasca runtuhnya rezim Bashar Al-Assad pada 8 Desember 2024 yang mana lalu, ada satu hal yang unik terjadi pada bendera Suriah. Bendera negara itu memiliki penampilan baru dengan satu bintang tambahan di area tengahnya kemudian menjadi bintang ketiga dalam bendera ini.

    Informasi ini awalnya didapati dari berubahnya foto profil di tempat sosial media kedutaan Suriah di tempat beberapa negara. Pada awalnya bendera Suriah mempunyai warna garis merah, putih, hitam, serta dua bintang hijau pada tengahnya.

    Namun pasca penggulingan rezim diktator yang tersebut diadakan kelompok pemberontak pada 8 Desember yang dimaksud lalu, tampilan bendera Suriah mengalami sedikit pembaharuan menjadi garis hijau, putih, hitam, dan juga simbol tiga bintang merah di area tengahnya.

    Arti bendera baru tersebut

    Tiga bintang merah yang ada pada berada dalam bendera Suriah pada waktu ini merupakan simbol yang tersebut digunakan oleh aktivis oposisi anti-Assad juga pasukan pemberontak di misinya untuk menggulingkan rezim dinasti Assad yang mana telah berkuasa selama lebih lanjut dari lima dekade.

    Seperti yang dimaksud sudah pernah diketahui pemerintahan Bashar Al-Assad di tempat Suriah akhirnya runtuh setelahnya kelompok pemberontak berhasil merebut kota Damaskus.

    Hal ini menandai berakhirnya kekuasaan keluarga al-Assad yang tersebut telah terjadi memerintah Suriah sejak tahun 1971, yang digunakan diawali dengan pengambilalihan kekuasaan oleh Hafez al-Assad, ayah dari Bashar Al-Assad.

    Setelah hal itu terjadi, para kelompok pemberontak kemudian rakyat Suriah yang tersebut selama ini dipimpin oleh rezim diktator akhirnya terbebas lalu menganggap ini adalah suatu kemerdekaan lalu kebebasan bagi mereka. Rasa yang dimaksud digambarkan melalui simbol bintang ketiga atau tiga bintang merah yang digunakan ada di bendera terbaru.

    Di sisi lain, tiga warna persegi panjang berwarna hijau, putih, serta hitam pada bendera yang disebutkan melambangkan kekhalifahan Islam yang digunakan dahulu pernah berkuasa di tempat Suriah, yakni Dinasti Rasyidin, Umayyah, kemudian Abbasiyah.

    Terbebasnya Suriah dari rezim diktator

    Banyak analis mengecap rezim Assad sebagai kediktatoran. Assad memerintah Suriah sebagai negara totaliter, dengan mengandalkan aparat keamanan juga propaganda yang masif. Rezimnya banyak kali dieksploitasi ketegangan sektarian untuk mempertahankan kekuasaan.

    Pada tahun 2011, ketika gelombang Arab Spring melanda Timur Tengah, demonstrasi anti-pemerintah di dalam Suriah berubah menjadi konflik bersenjata setelahnya tindakan keras aparat keamanan.

    Perang saudara yang tersebut berkepanjangan mengakibatkan lebih lanjut dari 580.000 orang tewas, dengan mayoritas korban adalah warga sipil. Rezim Assad dituduh melakukan berbagai kejahatan perang, termasuk pemanfaatan senjata kimia pada beberapa serangan mematikan, seperti serangan gas sarin di dalam Ghouta pada tahun 2013.

    Setelah bertahun-tahun bertahan dari berbagai tekanan internasional juga konflik internal, rezim Assad akhirnya runtuh pada Desember 2024. Serangan besar-besaran oleh oposisi Suriah, yang dimaksud dipimpin oleh koalisi kelompok Hayat Tahrir al-Sham (HTS) kemudian didukung oleh Tentara Nasional Suriah (SNA) yang mana didukung Turki, berhasil merebut kota Damaskus pada 8 Desember 2024. Assad juga keluarganya kemudian melarikan diri ke Rusia, di dalam mana ia diberikan suaka kebijakan pemerintah oleh pemerintah Moskow.

    Masyarakat Suriah pada waktu ini dipimpin oleh kelompok oposisi juga menganggap negaranya telah terjadi terbebas dari pelukan kediktatoran dan juga konflik berkepanjangan yang digunakan terjadi di dalam negaranya selama dipimpin oleh rezim dinasti al-Assad.