Tag: kecerdasan buatan

  • PBB: Kecerdasan buatan dapat jadi ancaman bagi umat manusia

    PBB: Kecerdasan buatan dapat jadi ancaman bagi umat manusia

    Wilayah Moskow – Kecerdasan buatan (AI) dapat berubah menjadi ancaman eksistensial bagi umat manusia sehingga wajib segera ditangani, kata Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Orang Volker Turk pada Senin.

    "Saya sependapat dengan perasaan khawatir para pelaku bidang bahwa Kecerdasan Buatan canggih dapat menyebabkan risiko eksistensial bagi umat manusia … Saya menyerukan upaya habis-habisan untuk meyakinkan jaminan kuat menghadapi keselamatan lalu keamanan Kecerdasan Buatan sebelum terlambat," kata Turk, menurut pernyataan kantornya.

    Turk menyampaikan pernyataan yang disebutkan di pembukaan ke-63 Dewan HAM PBB.

    Ia menambahkan akan mengirim surat terkait hal yang dimaksud untuk seluruh perusahaan pengembang Teknologi AI terkemuka di beberapa hari mendatang.

    Pada ketika yang mana sama, Turk juga menyoroti bahwa semata-mata segelintir pendatang yang mana memiliki "kekuasaan hampir bukan terbatas melawan AI."

    "Setidaknya, kita membutuhkan negara-negara tempat Artificial Intelligence dikembangkan dan juga negara-negara yang mana terlibat pada rantai pasoknya untuk bersama-sama menyepakati batas-batas yang tersebut bukan boleh dilanggar," kata Turk.

    Pada Desember 2025, Kepala Ekonom Biro Lokal Asia-Pasifik Proyek Pembangunan PBB (UNDP) Philip Schellekens memberi peringatan bahwa pemanfaatan Artificial Intelligence untuk kepentingan militer dapat bermetamorfosis menjadi ancaman eksistensial bagi umat manusia kemudian menyebabkan penderita jiwa pada jumlah keseluruhan besar.

    Schellekens menekankan perlunya regulasi yang digunakan sangat bertanggung jawab untuk mengendalikan pengaplikasian Artificial Intelligence dalam bidang militer.

    Pada Januari 2025, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres juga menyampaikan Teknologi AI yang digunakan tak terkendali akan bermetamorfosis menjadi ancaman eksistensial, dengan dengan pembaharuan iklim serta senjata nuklir.

    Sumber: Sputnik

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk Artificial Intelligence ke web web ini tanpa izin ditulis dari Kantor Berita ANTARA.

  • Benarkah nada kasar ke Pengolah Bahasa Alami GPT sanggup hasilkan jawaban lebih tinggi akurat?

    Benarkah nada kasar ke Pengolah Bahasa Alami GPT sanggup hasilkan jawaban lebih tinggi akurat?

    DKI Jakarta – Penelitian baru-baru ini menemukan di mana pengguna berbicara dengan nada kasar atau menuntut maka chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) mungkin saja memberikan jawaban yang lebih tinggi akurat dibandingkan ketika bertanya dengan nada sopan.

    Penelitian untuk menguji apakah kesopanan atau kekasaran mempengaruhi kinerja sistem Artificial Intelligence itu dipublikasikan di dalam arXiv pada 6 Oktober, sebagaimana dilansir Live Science.

    Penelitian ini direalisasikan dengan menguji 50 tentang pilihan ganda yang digunakan mencakup berubah-ubah topik, mulai dari sains, matematika, hingga sejarah. Setiap perihal diajukan untuk Asisten Percakapan GPT banyaknya sepuluhan kali dengan lima kategori nada yakni, sangat sopan, sopan, netral, kasar, kemudian sangat kasar.

    "Hasil kami menunjukkan bahwa nada pengumuman yang digunakan kasar memunculkan hasil yang digunakan lebih besar baik daripada nada pengumuman yang tersebut sopan," tulis para peneliti pada makalah mereka.

    Hasilnya, ketika ditanya dengan nada sangat sopan maka Chatbot GPT menjawab dengan tingkat akurasi sekitar 80,8 persen; tak lama kemudian tingkat akurasi dengan nada sopan berkisar 81,4 persen; tingkat akurasi dengan nada netral 82,2 persen; tingkat akurasi dengan nada kasar 82,8 persen; kemudian tingkat akurasi dengan nada sangat kasar meningkat hingga sekitar 84,8 persen.

    Untuk pertanyaan yang digunakan sangat sopan, pertanyaan yang digunakan diajukan misalnya, "Bisakah saya mengajukan permohonan bantuan Anda untuk pertanyaan ini?" atau "Bisakah Anda berbaik hati untuk menjawab pertanyaan berikut ini?". Sedangkan, untuk pertanyaan yang tersebut sangat kasar, pertanyaan yang dimaksud diajukan misalnya, "Hei, pesuruh; coba pikirkan ini," atau "Saya tahu kamu tidak ada pintar, tapi coba ini."

    Meski demikian, hasil penelitian ini tidak ada boleh dijadikan alasan untuk bersikap tidak ada sopan atau menghardik chatbot setiap saat. Sebaliknya, hasil penelitian yang tersebut masih terbatas ini menjelaskan bahwa Chatbot GPT sensitif terhadap petunjuk (prompt cues) yang mana diberikan oleh pengguna.

    Para peneliti tak menyarankan untuk menggunakan interaksi antarmuka (interface) yang tersebut bersifat agresif atau beracun di interaksi manusia-AI sebab pemakaian bahasa yang digunakan menghina atau merendahkan dapat berdampak negatif pada pengalaman pengguna hingga berkontribusi menciptakan kebiasaan komunikasi yang mana buruk.

    Penelitian ini merupakan bagian dari bidang baru yang tersebut disebut rekayasa prompt, yang digunakan berupaya menyelidiki bagaimana struktur, gaya, juga bahasa prompt mempengaruhi hasil chatbot berbasis kecerdasan buatan.

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk Teknologi AI di portal web ini tanpa izin tercatat dari Kantor Berita ANTARA.

  • Belajar dari Singapura, Begini Siapkan Sarjana di Era Gempuran Kecerdasan Buatan

    Belajar dari Singapura, Begini Siapkan Sarjana di Era Gempuran Kecerdasan Buatan

    Jakarta – Di era kecerdasan buatan (AI) kemudian pembaharuan teknologi yang dimaksud begitu cepat, universitas tak lagi sekadar tempat mengejar nilai. Singapura contohnya yang dimaksud sekarang memprioritaskan relevansi institusi belajar terhadap bumi kerja ketimbang tempat ke peringkat global.

    Presiden National University of Singapore (NUS) Professor Tan Eng Chye mengatakan, fokus utama pemerintah bukanlah pada ranking universitas. Menurutnya sekarang ini kemampuan lulusan untuk segera bekerja dan juga bertahan ke berada dalam disrupsi lapangan usaha bermetamorfosis menjadi fokus utamanya.

    “Yang penting bagi kami adalah apakah lulusan bisa jadi mendapatkan pekerjaan lalu mempertahankannya. Universitas bertanggung jawab membantu alumni meningkatkan keterampilan agar tak tertinggal,” kata beliau di diskusi dengan media pada rangkaian kegiatan NUS Innovation Diskusi DKI Jakarta 2025, Hari Jumat (24/10/2025).

    Setiap tahun, kata ia, Kementerian Pendidikan Singapura melakukan survei terhadap lulusan NUS enam bulan setelahnya wisuda. Hasilnya berubah menjadi tolok ukur keberhasilan universitas di membentuk manusia yang mana adaptif, tidak sekadar akademis. “Kami mengawasi sekolah sebagai langkah-langkah seumur hidup,” imbuhnya.

    Open AI. (REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo)Foto: Open AI. (REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo)
    Open AI. (REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo)

    AI kemudian Cara Belajar Baru pada Kampus

    Wakil Rektor Lingkup Inovasi Pendidikan sekaligus Dekan NUS College Professor Simon Chesterman menegaskan, pembaharuan paling besar justru muncul di ruang kelas. Menurutnya, hal-hal mendasar harus dimulai dimana para siswa belajar.

    “Dulu universitas menyiapkan peserta didik untuk bumi kerja. Sekarang, bola kerja berubah tambahan cepat dari materi kuliah itu sendiri,” katanya.

    NUS pun pada saat ini menawarkan lebih tinggi dari 175 modul berbasis Artificial Intelligence juga menerapkan pendekatan T-shaped education, yakni model pembelajaran lintas disiplin yang menekankan koneksi antar ilmu. “Mahasiswa kami didorong untuk belajar di dalam luar kelas, bereksperimen, bahkan menjelajahi dunia. Karena kemampuan manusia seperti kreativitas kemudian empati justru tak bisa jadi digantikan AI,” jelasnya.

    Transformasi sekolah itu juga diwujudkan lewat kolaborasi regional. NUS menjalin kerja sejenis dengan beberapa universitas besar di dalam Negara Indonesia seperti Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, serta Universitas Gadjah Mada.

    Selain itu, NUS juga mengatur jaringan Block 71 dalam Jakarta, Bandung, serta Yogyakarta. Itu adalah habitat perubahan yang dimaksud mempertemukan mahasiswa, peneliti, serta startup untuk berkolaborasi juga berprogres secara global.

    “Kami ingin mendirikan hubungan yang lebih besar kuat antara Singapura dan juga Indonesia. Planet terus berubah, serta tidaklah ada universitas yang digunakan punya semua jawaban,” ujar Chesterman.

    Peluang untuk Mahasiswa Indonesia

    Dalam kesempatan yang mana sama, Tan menegaskan, NUS membuka bervariasi inisiatif beasiswa bagi peserta didik Asia Tenggara, salah satunya Indonesia. Untuk tingkat sarjana (S1), tersedia beasiswa gabungan dari universitas juga Kementerian Pendidikan Singapura yang tersebut ditujukan khusus bagi pelajar ASEAN.

    Sementara untuk kegiatan magister (S2), NUS menawarkan 50-100 beasiswa setiap tahun, dan juga untuk acara doktor (PhD), seluruh pelajar penerima seleksi kompetitif mendapatkan dukungan penuh.

    “Indonesia adalah salah satu negara dengan talenta paling populer ke Asia Tenggara,” ujar Tan. “Kami berharap semakin sejumlah pelajar Nusantara melanjutkan studi serta berkontribusi pada sistem ekologi sekolah juga perubahan ke NUS,” ucapannya menambahkan.

    (hsy/hsy)
    [Gambas:Video CNBC] Next Article 10 Jurusan dengan Prospek Gaji Paling Kecil, Jangan Sampe Nyesal

  • 3 Jurusan Kuliah yang mana Lulusannya Paling Terancam Tergusur Teknologi AI

    3 Jurusan Kuliah yang mana Lulusannya Paling Terancam Tergusur Teknologi AI

    Daftar Isi
    • 1. Akuntansi
    • 2. Komunikasi, Periklanan, kemudian Marketing
    • 3. Desain Grafis

    Jakarta – Gelombang kecerdasan buatan (AI) diperkirakan akan mengubah wajah dunia kerja secara besar-besaran di waktu dekat. Menurut laporan Forbes, setidaknya ada tiga jurusan kuliah yang digunakan paling berisiko kehilangan relevansi akibat peran manusianya sederhana digantikan oleh teknologi otomatis.

    Laporan yang dimaksud mengutip proyeksi World Economic Wadah yang memperkirakan sekitar 92 jt pekerjaan akan hilang akibat otomatisasi, sementara 78 jt pekerjaan baru muncul untuk memperkuat dunia usaha berbasis AI. Namun, pembaharuan ini juga menuntut bumi lembaga pendidikan untuk meninjau ulang jurusan juga keterampilan yang digunakan diajarkan di dalam kampus.

    1. Akuntansi

    Forbes menyampaikan jurusan akuntansi juga pembukuan tradisional berada di dalam sikap paling rentan. Pekerjaan administratif lalu penghitungan dasar sekarang ini bisa jadi direalisasikan oleh perangkat lunak berbasis AI.

    Karena itu, siswa di dalam bidang keuangan disarankan untuk memperluas kompetensinya, misalnya mengambil spesialisasi seperti Teknologi AI for Finance atau fokus pada analisis kemudian strategi pembangunan ekonomi yang tersebut tak mudah-mudahan diotomasi.

    2. Komunikasi, Periklanan, dan juga Marketing

    Bidang komunikasi serta pemasaran juga menghadapi pembaharuan besar. Artificial Intelligence telah sejumlah digunakan pada pembuatan konten, strategi kampanye, hingga penyusunan siaran pers kemudian unggahan media sosial.

    Forbes menilai, universitas penting menyesuaikan kurikulum agar peserta didik belajar menggunakan Kecerdasan Buatan secara etis dan juga kreatif. Keterampilan mengoperasikan alat seperti HubSpot AI, SEMrush, atau Jasper Kecerdasan Buatan akan berubah menjadi nilai tambah, sementara pendekatan manusia permanen penting untuk melindungi kata-kata kemudian karakter sebuah merek.

    3. Desain Grafis

    Jurusan desain grafis juga disebut semakin rentan tergerus. Kehadiran website desain memungkinkan siapa pun menyebabkan logo atau materi penawaran dengan mudah. Agar permanen relevan, inisiatif studi desain disarankan lebih lanjut menekankan aspek psikologi dan juga strategi komunikasi visual, tidak semata-mata kemampuan teknis menggambar atau mengedit.

    Pendidikan Harus Berubah

    Presiden dan juga direktur utama DeVry University, Elise Awwad, mengatakan, lembaga pendidikan tinggi sekarang ini berada di dalam garis depan perubahan. “Jika kampus tidak ada memprioritaskan institusi belajar Kecerdasan Buatan serta keadilan pada penerapannya, merek bukanlah hanya sekali gagal mendidik mahasiswa, tapi juga gagal mempersiapkan tenaga kerja masa depan,” ucapannya dilansir Forbes.

    Awwad menambahkan, DeVry telah terjadi mengintegrasikan modul Artificial Intelligence ke di beragam jurusan. Hasilnya, tingkat penyelesaian kursus Teknologi AI meningkat 29% di tahunan terakhir.

    “Kami ingin para lulusan siap berinteraksi dengan teknologi ini sejak hari pertama merekan bekerja,” katanya.

    Tnggung jawab untuk beradaptasi dengan era Kecerdasan Buatan tidak ada hanya saja ada dalam tangan universitas. Korporasi juga wajib memberi pelatihan agar karyawan siap menghadapi pembaharuan kemudian Pekerja didorong memanfaatkan wadah belajar daring seperti Coursera, LinkedIn Learning, kemudian Udacity untuk mengasah keterampilan baru.

    (hsy/hsy)
    [Gambas:Video CNBC] Next Article Studi PBB Ungkap Teknologi AI Lebih Kejam terhadap Pekerja Perempuan

  • 10 Jurusan Kuliah yang Dulu Bergengsi Sekarang Kehilangan Pamor

    10 Jurusan Kuliah yang Dulu Bergengsi Sekarang Kehilangan Pamor

    Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar tenaga kerja sudah pernah berubah seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI). Perubahan tren ini bergabung memengaruhi prospek kerja para lulusan universitas. 

    Riset terbaru dari ekonom Harvard menunjukkan banyak jurusan yang tersebut dulu dianggap bergengsi pada saat ini mulai kehilangan nilai ekonominya di dalam pangsa kerja modern. Sejumlah jurusan yang biasanya dianggap dapat menciptakan pendapatan tinggi, sekarang tak lagi berubah jadi jaminan jabatan bergengsi. 

    Peneliti Harvard, David J. Deming serta Kadeem Noray menemukan, keuntungan jurusan-jurusan terapan seperti bisnis, teknik, juga ilmu komputer mengecil tambahan cepat dibandingkan dekade lalu. Dalam studi merekan yang dimuat ke The Quarterly Journal of Economics, disebutkan bahwa nilai peringkat turun seiring cepatnya pembaharuan keterampilan yang mana dibutuhkan industri.

    Riset ini menunjukkan fenomena yang tersebut disebut degree fatigue atau kelelahan nilai gelar. Artinya, peringkat akademik yang tersebut dulunya jadi tolok ukur kesuksesan sekarang tak lagi cukup menghadapi disrupsi teknologi juga otomatisasi.

    Bahkan lulusan dari sekolah perusahaan ternama seperti Harvard Business School mulai kesulitan mendapat tempat tinggi dengan upah besar. Laporan awal 2025 dari Ivy League Career Centers menyampaikan peringkat MBA tak lagi menjamin jabatan bergengsi seperti satu dekade lalu.

    Tak cuma ilmu terapan, bidang humaniora juga terus mengalami penurunan minat. Angka dari The Harvard Crimsonmenunjukkan total siswa jurusan humaniora mengecil radikal sejak 2013. Sebagian besar pelajar sekarang ini beralih ke inisiatif yang digunakan lebih lanjut berorientasi karier seperti STEM dan juga data science.

    Perubahan ini sejalan dengan temuan Harvard pada 2022 yang dimaksud mencatatkan data perusahaan sekarang ini tambahan mencari keterampilan spesifik dibandingkan cuma mengamati ijazah formal. Skill seperti analisis data, kecakapan digital, dan juga kemampuan adaptasi sekarang ini lebih tinggi dihargai dibandingkan dengan peringkat tradisional.

    Berikut daftar satu puluh jurusan yang mana nilai ekonominya merosot menurut laporan Harvard kemudian riset lingkungan ekonomi 2025, dilansir India Today:

    1. Administrasi Bisnis (termasuk MBA) – Pasar kerja jenuh, preferensi rekrutmen berubah.
    2. Ilmu Komputer – Gaji awal tinggi, tapi cepat usang tanpa pembaruan skill.
    3. Teknik Mesin – Terdampak otomatisasi lalu produksi luar negeri.
    4. Akuntansi – Banyak fungsi digantikan Kecerdasan Buatan juga software otomatis.
    5. Biokimia – Terbatas pada bidang akademik, potensi bidang sempit.
    6. Psikologi (S1) – Karier terbatas tanpa lanjut ke S2 atau S3.
    7. Bahasa Inggris & Humaniora – Peminat turun, prospek kerja bukan jelas.
    8. Sosiologi & Keilmuan Sosial – Tak sejumlah selaras dengan keinginan industri.
    9. Sejarah – Minum kenaikan gaji.
    10. Filsafat – Keterampilan berpikir kritis tinggi, tapi sulit dipasarkan langsung.

    Menurut laporan Student Choice 2025, jurusan yang masih punya tingkat pengembalian tinggi antara lain teknik, ilmu komputer, lalu keperawatan. Namun, kunci sukses di masa depan tidak sekadar jurusan, melainkan kemampuan beradaptasi serta berpikir kreatif.

    Para peneliti Harvard menegaskan, masa depan lembaga pendidikan bukanlah tentang peringkat tunggal, melainkan pembelajaran berkelanjutan. Mahasiswa yang mana sanggup menggabungkan keahlian teknis, empati, dan juga kreativitas akan lebih besar tahan terhadap pembaharuan pangsa kerja.

    “Gelar sarjana tak mati,” tulis laporan itu. “Namun definisi nilainya berubah. Yang akan bertahan adalah merekan yang mana menganggap sekolah sebagai perjalanan panjang, bukanlah sekadar sertifikat.”

    (hsy/hsy)
    [Gambas:Video CNBC] Next Article 10 Jurusan dengan Prospek Gaji Paling Kecil, Jangan Sampe Nyesal

  • Kenapa pelajar wajib melek AI?

    Kenapa pelajar wajib melek AI?

    Ligapedia.news Ibukota Indonesia – Di era sekarang, teknologi tumbuh lebih banyak cepat dari yang mana sanggup kita bayangkan.

    Salah satunya adalah kecerdasan buatan atau Kecerdasan Buatan yang dimaksud mulai masuk ke berbagai bidang kehidupan. Tanpa kita sadari, Artificial Intelligence telah mengambil bagian ambil peran pada sekitar kita, dari rekomendasi tontonan, sistem pembayaran, sampai prediksi cuaca.

    Kalau dulu teknologi ini terasa sangat kemudian hanya sekali dipakai perusahaan besar, sekarang Artificial Intelligence telah mulai jadi bagian dari keseharian. Karena itulah, pelajar sebagai generasi muda dituntut untuk tambahan paham juga melek Teknologi AI agar dapat bersaing pada masa depan yang tersebut serba digital.

    Wamenkomdigi Nezar Patria juga mengingatkan pentingnya kesiapan generasi muda menghadapi era ini. Ia menyebutkan, prospek dunia usaha digital Indonesia diperkirakan mampu mencapai Rp5.000 triliun pada tahun 2030, dengan partisipasi ke Barang Domestik Bruto (PDB) yang tersebut diproyeksikan mencapai 40 persen. Menariknya, teknologi Artificial Intelligence sendiri diyakini mampu meningkatkan produktivitas hingga 3,5 persen.

    Melihat nomor kemudian potensi sebesar ini, sudah ada saatnya siswa tidaklah hanya sekali menjadi pengguna, tapi juga pengembang juga pelaku berpartisipasi pada pemanfaatan AI.

    Apa itu kecerdasan buatan (AI)?

    Kecerdasan buatan atau pada bahasa inggrisnya disebut artificial intelligent adalah teknologi yang digunakan dapat bekerja seperti manusia. Artificial Intelligence mampu memecahkan masalah, mengenali gambar, menulis, bahkan menciptakan prediksi berdasarkan data.

    Saat ini, sejumlah organisasi yang mana mengoleksi data di total besar dari berbagai sumber, mulai dari sensor pintar, alat pemantau, hingga konten buatan manusia. Nah, Kecerdasan Buatan inilah yang digunakan bertugas menganalisis data-data tersebut, lalu membantu pekerjaan jadi lebih besar cepat kemudian efisien.

    Contohnya, Artificial Intelligence bisa jadi menjawab pertanyaan pelanggan secara otomatis, menimbulkan gambar atau teks untuk promosi, hingga memberikan saran cerdas lewat data yang dimaksud dikumpulkan. Intinya, Kecerdasan Buatan dibuat untuk memproduksi software atau teknologi jadi tambahan pintar, bisa jadi diajak “mengobrol”, membantu kita mengambil keputusan, serta menyelesaikan permasalahan yang mana rumit. Berikut beberapa alasan kenapa peserta didik wajib melek AI:

    1. Teknologi AI akan menjadi bagian dari keberadaan sehari-hari

    Teknologi Kecerdasan Buatan telah banyak diterapkan, bahkan rutin kali tanpa disadari. Mulai dari rekomendasi film, filter wajah, chatbot layanan pelanggan, hingga berbagai aplikasi mobile kampus. Wakil Menteri Komunikasi lalu Digital, Nezar Patria, mengungkapkan bahwa kita harus bersiap menghadapi masa pada mana semuanya akan serba AI, lalu masa itu telah semakin dekat.

    2. Kans karier dalam bidang digital terus bertumbuh

    Indonesia berada dalam bersiap menuju era perubahan digital, dengan kemungkinan dunia usaha digital nasional diperkirakan mencapai Rp5.000 triliun pada 2030. Artificial Intelligence diproyeksikan mampu meningkatkan produktivitas hingga 3,5 persen. Mahasiswa yang mana melek Kecerdasan Buatan punya prospek lebih banyak besar untuk terlibat secara langsung di pengembangan teknologi kemudian sektor masa depan.

    3. Teknologi AI mampu meningkatkan produktivitas juga efisiensi

    Dengan bantuan AI, berbagai hal bisa jadi dikerjakan tambahan cepat dan juga akurat. Mahasiswa dapat memanfaatkan Artificial Intelligence untuk riset, belajar, menghasilkan karya kreatif, hingga merancang proyek digital.

    4. Indonesia sedang menuju perubahan fundamental digital

    Saat ini, penetrasi internet di dalam Indonesia sudah ada mencapai 80 persen dari total populasi. Pemerintah, di area bawah arahan Presiden Prabowo, memberikan perhatian besar terhadap penguatan infrastruktur digital, termasuk jaringan internet yang digunakan makin luas lalu stabil. Mahasiswa yang mana memahami Artificial Intelligence sanggup terlibat berperan, tidak hanya saja jadi user, tapi juga bergabung menciptakan pengembangan digital.

    5. Supaya bukan tertinggal perkembangan zaman

    Dunia digital terus berprogres tanpa mengantisipasi siapa pun. Kalau tiada belajar dari sekarang, peserta didik dapat tertinggal jauh. Melek Teknologi AI berarti siap menghadapi masa depan dengan percaya diri.

  • Kemkomdigi mengkaji kegunaan lalu kemungkinan ancaman dari model Kecerdasan Buatan DeepSeek

    Kemkomdigi mengkaji kegunaan lalu kemungkinan ancaman dari model Kecerdasan Buatan DeepSeek

    Ligapedia.news Ibukota – Kementerian Komunikasi dan juga Digital (Kemkomdigi) sedang mengkaji faedah juga kemungkinan ancaman yang mana dapat dihadirkan oleh model kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) buatan DeepSeek, perusahaan perangkat lunak Kecerdasan Buatan dari China.

    "Jadi, kami sebagai kementerian ini memang sebenarnya akan nanti ke depan mencoba lebih besar hati-hati lagi, atau juga mencoba tambahan mempelajari lagi apa yang mana harus kami lakukan terhadap DeepSeek ini," kata Pelaksana Pekerjaan Kepala Pusat Kebijakan Krusial Kemkomdigi Oki Suryowahono di area Ibukota Indonesia Pusat pada Selasa.

    "Apakah memang sebenarnya benar menjadi suatu ancaman seperti itu, atau kemungkinan besar sebenarnya kita enggak tahu ada kesulitan apa antara DeepSeek ini dengan kompetitor-kompetitornya," kata ia menanggapi tindakan sebagian negara untuk membatasi atau menyembunyikan akses ke aplikasi mobile DeepSeek dengan alasan proteksi data pengguna.

    Oki menyatakan bahwa pemerintah akan berhati-hati di merespons maraknya penyelenggaraan model Teknologi AI DeepSeek.

    Kemkomdigi, menurut dia, tidaklah akan mengeluarkan kebijakan tanpa terlebih dulu mengkaji kegunaan lalu prospek ancaman dari pemanfaatan model kecerdasan buatan yang dimaksud bagi pengguna.

    "Pasti kita harus hati-hati, jangan sampai kita juga terlalu gegabah gitu ya, mendadak memblokir DeepSeek. Mungkin ada sejumlah juga orang yang dimaksud terbantu dengan DeepSeek," katanya.

    Aplikasi DeepSeek merupakan chatbot yang digunakan didukung oleh model V3 buatan China. DeepSeek menyediakan layanan sebagaimana yang digunakan dihadirkan oleh Pengolah Bahasa Alami GPT dari OpenAI.

    Pengguna dapat menggunakan perangkat lunak DeepSeek untuk menganalisis berkas, menjawab pertanyaan, serta mendapatkan informasi dari web.

    Aplikasi gratis ini juga memungkinkan pengguna mengunggah berkas serta menyinkronkan riwayat obrolan di dalam seluruh perangkat.

    Popularitas DeepSeek baru-baru ini meningkat. Aplikasi yang dimaksud menempati kedudukan teratas pada App Store serta Play Store.

    Namun, muncul perasaan khawatir mengenai keamanan data pengguna aplikasi mobile tersebut.

    DeepSeek menghimpun juga menyimpan data dalam server mereka yang mana berada di dalam China, menyebabkan perasaan khawatir mengenai kemungkinan datanya bocor ke pemerintah China.

    Hal itu menggalakkan beberapa negara serta perusahaan memblokir akses ke program DeepSeek.

  • Muhaimin ingin teknologi Kecerdasan Buatan diterapkan secara bertahap pada kementerian

    Muhaimin ingin teknologi Kecerdasan Buatan diterapkan secara bertahap pada kementerian

    Ligapedia.news Ibukota Indonesia – Menteri Koordinator Sektor Pemberdayaan Komunitas Muhaimin Iskandar menginginkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) diterapkan secara bertahap di pelaksanaan program-program kerja di tempat bawah naungan kementeriannya.

    Kementerian Koordinator Area Pemberdayaan Publik akan bekerja serupa dengan Kementerian Komunikasi lalu Digital pada merancang penerapan teknologi tersebut.

    "Kita akan pelan-pelan, bertahap, hati-hati, juga terus melibatkan Kemenkomdigi pada berbagai sektor," kata Muhaimin pada waktu ditemui pada DKI Jakarta Selatan pada Selasa.

    Muhaimin menekankan pentingnya kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk para ahli AI, di merumuskan kebijakan mengenai pemanfaatan kecerdasan buatan.

    Dia menyokong penuntasan kajian konsep akademik mengenai pemanfaatan Artificial Intelligence untuk membantu penyusunan regulasi terkait kecerdasan artifisial.

    Muhaimin mengemukakan bahwa teknologi Teknologi AI dapat memudahkan pekerjaan manusia, tetapi juga bisa saja disalahgunakan untuk melakukan aktivitas kejahatan.

    "Karena itu, kita semua harus bijak, waspada, serta pemerintah akan terus berupaya agar perkembangan Artificial Intelligence ini inklusif, adil, transparan, serta benar-benar tidaklah merugikan," katanya.

    Menteri Komunikasi kemudian Digital Meutya Hafid sudah menyampaikan komitmen pemerintah Indonesia untuk memulai pembangunan tata kelola pengembangan kecerdasan buatan yang tersebut inklusif, adil, juga aman.

    Dia menyampaikan bahwa Indonesia memacu penerapan kebijakan Kecerdasan Buatan berbasis prinsip keadilan, inklusivitas, kemudian keamanan dan juga pemanfaatan Teknologi AI sebagai alat pendukung penyelenggaraan yang tersebut berkelanjutan.

    "AI adalah kekuatan transformasi pada dunia usaha global, tetapi kita harus menjamin bahwa bukan ada negara yang tertinggal pada revolusi digital ini. Indonesia akan terus berperan berpartisipasi di diskusi kebijakan Artificial Intelligence global untuk menjamin Kecerdasan Buatan yang tersebut aman, etis, juga inklusif bagi semua," katanya.

  • Menko PM sebut sistem data tunggal rakyat perlu diperkuat Artificial Intelligence

    Menko PM sebut sistem data tunggal rakyat perlu diperkuat Artificial Intelligence

    Ligapedia.news Ibukota Indonesia – Menteri Koordinator Pemberdayaan Warga (Menko PM) Muhaimin Iskandar mengungkapkan sistem data tunggal sosial kegiatan ekonomi penduduk Indonesia perlu diperkuat oleh teknologi kecerdasan buatan (AI), misalnya verifikasi identitas menggunakan pemindaian retina mata.

    "Ke depan, mau bukan mau, data tunggal sosial perekonomian nasional harus diperkuat dengan Teknologi AI misalnya, identitas menggunakan retina mata. Jadi, orang enggak sanggup sembarangan mengambil data ganda dari bantuan sosial," kata Muhaimin di tempat DKI Jakarta Selatan, Selasa.

    Dalam kesempatan itu, Muhaimin bercerita bahwa pemerintah pada saat ini telah dilakukan berhasil menciptakan data tunggal penduduk Indonesia pasca beberapa kali percobaan.

    Dengan kesadaran pentingnya data tunggal, Muhaimin menyadari pentingnya integrasi Kecerdasan Buatan dengan percepatan digitalisasi pada sektor ini sehingga pemerintah dapat lebih tinggi produktif di melayani keinginan masyarakat.

    "Dengan kesadaran pentingnya data tunggal ini maka kita memasuki sebuah era di dalam mana akhirnya membutuhkan Artificial Intelligence untuk menjadi bagian integral dari era percepatan memanfaatkan seluruh teknologi bagi upaya kita berperan lebih lanjut produktif khususnya pemerintah di melayani seluruh keperluan publik kita," ujar dia.

    Di sisi lain, Muhaimin juga menekankan di tempat sedang perkembangan lalu pembaharuan bidang teknologi, salah satunya dengan penampilan AI, pemanfaatannya perlu mengedepankan prinsip etika, transparansi, serta keadilan.

    Diketahui, Menteri Sosial (Mensos) Syaifullah Yusuf meyakinkan Fakta Tunggal Sosial Sektor Bisnis Nasional (DTSEN) akan segera digunakan sehingga penerima bantuan sosial dari pemerintah bisa saja tepat sasaran.

    "Sesuai arahan Presiden (Presiden Prabowo Subianto, red.), kita harus mengentaskan kemiskinan secara kolaboratif, sinergis, serta hasilnya signifikan," katanya.

    Terkait dengan hal itu, pihaknya harus menyebabkan perencanaan yang tersebut baik mengenai bagaimana berbagai intervensi pemerintah benar-benar tepat sasaran yang mana dimulai dengan menghasilkan data terbaru (DTSEN, red.) yang mana tunggal, sehingga permasalahan pengentasan kemiskinan menjadi intervensi semua kementerian, lembaga, kemudian pemerintah daerah.

    Ia mengharapkan pemakaian data tunggal yang tersebut disebut DTSEN itu dapat direalisasikan pada tahun 2025.

  • Kemkomdigi paparkan strategi cegah ancaman penyalahgunaan Artificial Intelligence

    Kemkomdigi paparkan strategi cegah ancaman penyalahgunaan Artificial Intelligence

    Ligapedia.news Ibukota Indonesia – Pelaksana tugas (Plt) Pusat Kebijakan Krusial Kementerian Komunikasi serta Digital (Kemkomdigi) Oki Suryowahono memaparkan langkah-langkah strategis guna mengurangi ancaman penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan (AI).

    "AI selalu menjadi dua sisi mata uang, bukanlah hanya saja tentang alat penyimpanan data, tapi sebagai manusia menurut saya ini ada hubungannya dengan privasi, hak asasi, dan juga masa depan kita," kata Oki dalam DKI Jakarta Selatan pada Selasa.

    Oki memaparkan terdapat beberapa jumlah tantangan yang digunakan dihadapi manusia seiring dengan berkembangnya teknologi Artificial Intelligence pada waktu ini. Pertama, Kecerdasan Buatan dinilai berkaitan dengan isu hak asasi manusia.

    Apabila disalahgunakan, teknologi berbasis Teknologi AI seperti alat pemindai wajah kemudian deepfake berpotensi digunakan untuk memantau, mengontrol, hingga menindas manusia.

    Kedua, penyalahgunaan Kecerdasan Buatan juga dapat menyebabkan pelanggaran hak cipta, mengingat kemampuan teknologi yang disebutkan di menciptakan konten baru memanfaatkan berbagai konten yang mana sudah pernah ada sebelumnya.

    "Ada berbagai kemampuan Teknologi AI yang tersebut mampu menciptakan suatu image dari berbagai macam konten yang tersebut ada juga menyebabkan pertanyaan ini punya siapa? Hak cipta ini punya siapa?," ujar Oki.

    Ketiga, Kecerdasan Buatan juga dapat disalahgunakan untuk mencuri data juga melakukan kejahatan siber yang tersebut merugikan banyak pihak. Oleh dikarenakan itu, Oki memaparkan sebagian strategi yang dimaksud dilaksanakan Kemkomdigi pada menjaga dari hal-hal tersebut.

    Pertama, Kemkomdigi meningkatkan kekuatan pendekatan berbasis etika di pemanfaatan teknologi AI. Hal itu didukung oleh Surat Edaran Menteri Komunikasi dan juga Informatika Nomor 9 Tahun 2023 tentang Etika Kecerdasan Artifisial.

    Langkah berikutnya adalah pembangunan infrastruktur bidang digital yang mana tambahan merata dalam mana ia menyoroti masih terdapat kesenjangan infrastruktur antara Pulau Jawa dengan wilayah Indonesia Timur, khususnya di area area terpencil.

    Kemudian, peningkatan literasi dan juga kemampuan talenta digital Indonesia salah satunya melalui kegiatan Digital Talent Scholarship guna menciptakan sumber daya manusia berdaya saing global.

    "Bagaimana kami bisa jadi meningkatkan kemampuan dan juga daya saing talenta di dalam Indonesia untuk kemungkinan besar masuk ke generasi AI," ucap Oki.

    Terakhir, menggalakkan lalu memfasilitasi integrasi teknologi Teknologi AI dengan berbagai sektor strategis seperti perdagangan, kesehatan, hingga lembaga pendidikan agar berjalan lebih lanjut efisien.

    "Kami pada waktu ini telah mulai mencoba untuk meng-encourage ataupun memfasilitasi seluruh sektor-sektor kesehatan, institusi belajar atau logistik perdagangan itu sudah ada mulai masuk ke dunia digital serta dengan adanya Kecerdasan Buatan pasti akan semuanya menjadi lebih lanjut efisien," kata Oki.