Tag: Impor

  • Wamentan: Penghapusan kuota impor agar tak ada monopoli

    Wamentan: Penghapusan kuota impor agar tak ada monopoli

    Ligapedia.news Kebijakan yang disebutkan tidaklah berarti membuka keran impor secara besar-besaran….

    Jakarta – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menjelaskan rencana Presiden Prabowo Subianto menghapus sistem kuota impor komoditas bertujuan menjaga dari monopoli juga tidaklah akan mengancam keberlangsungan lapangan usaha pertanian nasional secara keseluruhan.

    “Bukan berarti kemudian impor besar-besaran, semua diimpor, bukan! Tetap harus melindungi produksi di negeri untuk komoditas pangan, komoditas teknologi, komoditas pakaian, komoditas apa pun, tetap memperlihatkan produksi pada negeri akan diprioritaskan,” kata Wamentan pada keterangan dikonfirmasi dalam Jakarta, Jumat.

    Dia menegaskan rencana Presiden Prabowo Subianto untuk menghapus sistem kuota impor komoditas tidak ada akan mengancam kelangsungan sektor pertanian di negeri.

    Pemerintah tetap memperlihatkan berikrar kuat untuk melindungi kepentingan petani dan juga pelaku usaha domestik, seiring dengan langkah menggalakkan tercapainya swasembada pangan nasional.

    Wamentan Sudaryono yang dimaksud akrab disapa Mas Dar ini menyampaikan, kebijakan itu justru ditujukan untuk menciptakan sistem yang digunakan lebih banyak adil dan juga efisien di rantai pasok pangan nasional.

    "Kebijakan yang disebutkan tidak ada berarti membuka keran impor secara besar-besaran," kata beliau pula.

    Ia juga menuturkan, Indonesia masih mempunyai fokus utama untuk mewujudkan swasembada pangan serta energi. Kuota impor yang mana akan dihapus hanya sekali terbatas pada sektor tertentu.

    "Maksudnya gini, misalnya butuh impor daging beku, yang dimaksud butuh industri, ya sudah ada lapangan usaha cuma yang dimaksud impor. Nggak usah ada pihak tertentu yang mana dikasih kuota, kemudian ia yang dimaksud ngatur jumlahnya, beliau yang dimaksud dikasih hak khusus. Menurut Pak Presiden itu bukan adil," kata Wamentan.

    Lebih lanjut, Wamentan Sudaryono menjelaskan bahwa kebijakan penghapusan kuota impor tidaklah akan mematikan lapangan usaha pada negeri. Bahkan, sektor pertanian pada negeri terus didorong untuk mencapai swasembada pangan kemudian meningkatkan kekuatan daya saing sektor nasional.

    “Kita kan melindungi yang di tempat di negeri, itu pasti harus masih dilindungi. Bukan berarti dibuka seluas-seluasnya kemudian bidang yang pada di negeri mati, enggak. Kita masih harus swasembada,” katanya lagi.

    Kebijakan itu juga diyakini akan memberikan dampak positif bagi penduduk luas. Dengan sistem impor yang mana lebih tinggi terbuka, biaya komoditas pangan seperti daging yang dimaksud mengandung protein tinggi berpotensi menjadi lebih besar terjangkau.

    “Kalau nilai tukar beli impornya murah, maka nilai tukar jualnya akan lebih besar murah. Yang menikmati siapa? Rakyat Indonesia,” kata Sudaryono lagi.

    Terkait skema pelaksanaan, Sudaryono mengatakan bahwa bidang akan dapat mengimpor secara langsung sesuai keinginan tanpa perantara kuota yang tersebut selama ini dimonopoli serta diperuntukkan ke segelintir kelompok.

    “Yang dimaksud dengan tak ada kuota itu maksudnya jumlah keseluruhan ukuran yang tersebut harus kita impor tiada boleh lagi dimonopoli oleh orang-orang tertentu," katanya pula.

    Ia menerangkan besar yang telah ditetapkan oleh pemerintah berdasarkan neraca komoditas boleh diimpor, jumlah itu dapat diimpor oleh siapa saja, tidak ada lagi dimonopoli oleh orang-orang tertentu.

    "Supaya lebih banyak adil lalu tidak ada ada lagi praktik monopoli dengan pemberian kuota untuk orang-orang tertentu,” katanya menegaskan.

    Kementerian Pertanian memverifikasi bahwa setiap kebijakan yang mana diambil akan selalu berpihak pada kepentingan rakyat dan juga keberlangsungan lapangan usaha di negeri. Melalui sinergi dan juga kolaborasi lintas sektor, Indonesia diyakini mampu menciptakan sistem pangan yang dimaksud tangguh, adil, lalu berkelanjutan.

  • Pengamat ingatkan ketidakpastian berlanjut seiring tensi AS-China

    Pengamat ingatkan ketidakpastian berlanjut seiring tensi AS-China

    Ligapedia.news Ibukota Indonesia – Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk Reza Priyambada mengingatkan ketidakpastian ekonomi global masih berlanjut seiring terus memanasnya tensi konflik tarif impor antara Amerika Serikat (AS) dan juga China.

    Terbaru, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali meninggal tarif impor Negeri Paman Sam terhadap China menjadi sebesar 145 persen dari sebelumnya 125 persen.

    "Kami meninjau bahwa bukanlah juga merta risiko ketidakpastian hilang begitu semata lantaran kebijakan Trump. Jadi, bisa saja hanya sewaktu-waktu berubah," ujar Reza ketika dihubungi ANTARA di dalam Jakarta, Jumat.

    Gayung bersambut, Presiden China Xi Jinping pun merespons sikap Trump dengan akan mengawasi konferensi kerja pusat mengenai diplomasi dengan negara negara tetangga seperti Vietnam, Malaysia, dan juga Kamboja.

    Selain itu, Utama Menteri China Li Qiang juga meminta-minta adanya perluasan domestik di dalam China demi menjaga daya beli kemudian konsumsi kembali meningkat.

    "Nantinya, pun dari China bisa saja jadi telah mempersiapkan kebijakannya untuk menghadapi hal ini yang digunakan bisa saja belaka akan merubah peta perdagangan global ke depannya," ujar Reza.

    Dari di negeri, Reza mengatakan pelaku lingkungan ekonomi menantikan kebijakan konkret dari eksekutif Indonesia untuk dapat menjaga perekonomian domestik.

    Menurutnya, kebijakan konkret itu tak hanya sekali untuk mengantisipasi konflik dagang, namun, secara keseluruhan juga dapat menopang makro ekonomi, sehingga target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen year on year (yoy) ke depan tercapai.

    "Pemberantasan korupsi serta perekonomian biaya tinggi, kemudahan berinvestasi, keamanan, maupun kemudahan birokrasi paling tidak ada dapat membantu tumbuhnya sektor ekonomi Indonesia lalu ini yang dimaksud tentunya akan disambut positif pelaku pasar," ujar Reza.

    Sementara itu, VP Marketing, Strategy & Planning Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi menjelaskan efek negatif memanasnya Amerika Serikat dengan China, di tempat antaranya prospek berkurangnya permintaan komoditas domestik, seperti batu bara kemudian nikel seiring penurunan aktivitas produksi dalam China.

    Selain itu, kemungkinan terjadinya dumping hasil dari China ke Indonesia, khususnya tekstil juga elektronik.

    Pada awalnya, Trump meningkatkan tarif impor ke China menjadi sebesar 104 persen, yang mana dibalas oleh Xi Jinping dengan penetapan tarif impor sebesar 84 persen terhadap barang AS.

    Kemudian, pada Rabu (10/4/2025), Trump kembali meninggal tarif impor dari China menjadi sebesar 125 persen dalam sedang penundaan tarif resiprokal terhadap berbagai negara.

    Tidak berhenti pada situ, pada Kamis (11/4/2025), Trump merevisi tarif impor ke China menjadi 145 persen, yang merupakan batas bawah atau masih berpotensi meningkat ke depan.