Tag: hamas

  • Tim sepak bola negara Israel tahan 10 anggota organisasi Hamas di dalam Tepi Barat

    Tim sepak bola negara Israel tahan 10 anggota organisasi Hamas di dalam Tepi Barat

    Wilayah Moskow – Pasukan sepak bola tanah Israel IDF pada Akhir Pekan menyatakan telah lama melumpuhkan sebuah sel organisasi Hamas dalam Tepi Barat pada suatu operasi khusus lalu menahan 10 warga Palestina.

    "Pagi ini (Minggu), pasukan ISA [Badan Security Israel], IDF, serta Yamam menyelesaikan operasi antiterorisme ke wilayah Akraba. Selama operasi berlangsung, pasukan keamanan menangkap sel teroris kelompok Hamas yang tersebut terdiri dari 10 teroris yang digunakan berupaya merencanakan serangan teroris terhadap warga sipil Israel," tulis IDF dalam Telegram.

    Sebuah roket tanpa peluncur ditemukan selama operasi yang dimaksud juga secara langsung dijinakkan, tambah IDF.

    "Setelah diinterogasi, salah satu teroris membeberkan posisi penyimpanan senjata yang tersebut berisi sebuah senapan M16 juga beberapa besar komponen peledak yang mana ditujukan untuk pembuatan bom," lanjut pihak IDF.

    Senjata lalu unsur peledak yang disebutkan juga telah dilakukan dijinakkan ke posisi kejadian, tambahnya.

    Sumber: Sputnik/RIA Novosti

    ​​​​​​​

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk Kecerdasan Buatan ke web web ini tanpa izin tertoreh dari Kantor Berita ANTARA.

  • Tajuk: Perundingan gencatan senjata mandek, bagaimana masa depan Gaza? (bagian II)

    Tajuk: Perundingan gencatan senjata mandek, bagaimana masa depan Gaza? (bagian II)

    Ligapedianews.com Daerah Gaza – Perselisihan Terkait Solusi

    Presiden Negeri Paman Sam Donald Trump baru-baru ini mengusulkan relokasi penduduk Palestina di dalam Wilayah Gaza ke negara-negara tetangga, seraya menyatakan bahwa warga Kawasan Gaza yang tersebut sudah pergi tak akan diizinkan untuk kembali. Usulan yang disebutkan memicu berunjuk rasa dalam tingkat regional juga internasional.

    Institut Kebijakan Luar Negeri Lokal tanah Israel menyampaikan proposal Trump sebagai "sebuah ide yang digunakan kacau", sekaligus mengumumkan bahwa proposal Trump "sering kali dilihat sebagai upaya untuk menerapkan prinsip-prinsip bidang usaha pada diplomasi".

    Publik Amerika Serikat (AS) kemungkinan besar akan menentang langkah seperti itu. Hal ini dikarenakan minat Negeri Paman Sam untuk terlibat di berbagai konflik luar negeri sudah berkurang, khususnya pasca kegagalan di tempat Irak, Afghanistan, juga Suriah, kata institut itu.

    Usulan yang disebutkan "ditentang keras oleh semua negara Arab, dikarenakan itu akan memaksa mereka bertindak bertentangan dengan kepentingan mereka sendiri," imbuh institut itu. "Jika mereka itu menerima usulan itu, mereka berisiko merusak legitimasi juga stabilitas rezim mereka."

    Bagi warga Gaza, usulan itu juga tak dapat diterima. "Israel setiap saat berjuang menghapus keberadaan kami, baik melalui pembunuhan maupun pengusiran. Namun, kami akan tetap memperlihatkan bertahan di dalam tanah kami. Meskipun mengalami kesulitan, kami tidak ada akan pergi," kata Sajida Ayesh, individu warga Saftawi di dalam Kawasan Gaza utara, terhadap Xinhua.

    "Kami akan mendirikan kembali apa yang tersebut sudah pernah dihancurkan oleh orang lain," imbuh ibu tiga anak berusia 29 tahun ini.

    Perselisihan yang terus berlangsung mengenai masa depan Wilayah Gaza mencakup usulan dari pemimpin oposisi negara Israel Yair Lapid, yang menginginkan Mesir memerintah Daerah Gaza selama delapan tahun. Mesir dengan tegas menolak usulan itu, dengan juru bicara Kementerian Luar Negeri Mesir, Tamim Khalaf, menyampaikan usulan yang dimaksud sebagai "solusi setengah matang" yang digunakan belaka akan menunda siklus konflik, bukanlah menyebabkan perdamaian yang abadi.

    "Mengakhiri kekuasaan Hamas… tak dapat dicapai tanpa serangan militer yang tersebut keras, tetapi juga tak dapat dicapai dengan serangan militer saja. Penghapusan kekuasaan organisasi Hamas mengharuskan adanya kekuasaan lain yang tersebut menggantikannya," demikian sebuah artikel opini yang digunakan diterbitkan oleh surat kabar Israel, Haaretz.

    Sajida, warga Gaza, sudah pernah melalui perjalanan yang digunakan memilukan, berulang kali mengungsi di area selatan Wilayah Gaza untuk mencari tempat yang dimaksud lebih lanjut aman bagi keluarganya yang mana terdiri dari lima orang. "Di selatan, kami mengalami penderitaan, ketakutan, lalu kelaparan yang tersebut paling berat… Pernyataan pengamanan dari tentara tanah Israel adalah sebuah kebohongan," katanya.

    "Saya tak akan mengulangi kesalahan itu. Bahkan apabila merekan membunuh kami di area sini, kami akan berakhir dalam tanah kami," imbuhnya.

    Menurut perkiraan PBB pada 4 Februari, lebih banyak dari 565.000 orang sudah pernah mengungsi dari Wilayah Gaza selatan ke Wilayah Gaza utara sejak 27 Januari. Namun, ketika mereka itu yang tersebut mengungsi kembali ke tempat asalnya, merekan mendapati kehancuran masif di area wilayah tersebut. Sebuah laporan PBB menunjukkan bahwa 92 persen rumah pada Daerah Gaza sudah rusak atau hancur.

    Ketika Sajida sampai dalam pesisir Wilayah Gaza City, ia berhenti sejenak untuk mengawasi ombak laut yang mana tenang. "Sayangnya, semuanya telah terjadi berubah. Bahkan laut, yang dimaksud dulu mengingatkan kami akan mimpi-mimpi kami, sekarang bergabung merintih dengan kami," katanya.

    Meskipun gencatan senjata memungkinkan lebih tinggi sejumlah bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza, bantuan yang dimaksud masih belum mencukupi.

    Lebih dari 1.500 titik air sekarang ini beroperasi, tetapi pasokan air hanya saja sekitar seperempat dari level sebelum Oktober 2023. Sementara itu, sekitar 350.000 pasien yang sakit kronis menghadapi kekurangan obat-obatan, lalu antara 12.000 hingga 14.000 orang, termasuk 5.000 anak-anak, sangat membutuhkan evakuasi medis, menurut laporan PBB.

    Badai musim dingin yang mana dahsyat melanda Jalur Daerah Gaza pada awal Februari. "Dengan musim dingin yang mana sedang berlangsung, hampir 1 jt warga Palestina yang dimaksud mengungsi masih sangat membutuhkan bantuan," kata PBB.

    Om Ahmed al-Ramli, individu wanita pengungsi dalam Deir al-Balah di area Daerah Gaza tengah, berjuang mati-matian untuk menyelamatkan barang-barangnya yang mana tersisa setelahnya badai meluluhlantakkan tendanya.

    "Ini tidak rumah, ini hanya sekali potongan kain yang mana hampir tiada melindungi kami," katanya terhadap Xinhua dengan marah. "Kini, bahkan itu pun hilang. Badai sudah pernah merenggut segalanya, termasuk harapan terakhir kami," demikian Xinhua.