Tag: fadli zon

  • GAYAIN Aceh 2025, Fadli Zon: Festival Budaya Islam Mengalami Pertumbuhan Maju

    GAYAIN Aceh 2025, Fadli Zon: Festival Budaya Islam Mengalami Pertumbuhan Maju

    BANDA ACEH – Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) melalui Direktorat Film, Musik dan juga Seni mempersembahkan Festival Aksi Kebudayaan Tanah Air (GAYAIN) Aceh 2025. Acara akbar ini tak hanya saja bermetamorfosis menjadi panggung bagi kekayaan budaya Aceh, namun juga momen istimewa untuk merayakan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, meneladani akhlak mulia beliau.

    Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, secara dengan segera meresmikan membuka GAYAIN Aceh 2025 di dalam Lapangan Blang Padang, Banda Aceh. Suasana khidmat menyelimuti acara yang mana dihadiri berubah-ubah elemen masyarakat.

    Dalam pidato pembukaannya, Fadli Zon menyampaikan apresiasi mendalam berhadapan dengan terselenggaranya festival ini. Ia menekankan bahwa GAYAIN Aceh 2025 bukanlah sekadar seremonial, melainkan sebuah langkah nyata untuk membangkitkan kembali spirit budaya Islam yang telah terjadi mengakar kuat.

    “Saya mengapresiasi semangat gotong royong dan juga kebersamaan yang mana telah terjadi menjadikan festival ini bisa saja terealisasi pada beberapa hari ke depan. Hal ini merupakan contoh bagaimana kolaborasi antara pemerintah kemudian semua pihak bisa saja berlangsung, teristimewa dengan komunitas, perguruan tinggi, sekolah, serta siswa-siswi yang dimaksud merupakan generasi penerus, penjaga gawang kebudayaan kita, ” ungkap Fadli Zon, Selasa (25/11/2025).

    Lebih lanjut, Fadli Zon menyoroti peran Aceh sebagai simpul penting yang tersebut menghubungkan khazanah budaya Islami dengan keberagaman Nusantara. Kekayaan budaya Aceh yang tersebut sarat nuansa Islami, mulai dari kesenian tari Seudati hingga lantunan shalawat, berubah jadi bukti nyata.

    “Sebagai kota yang mana bersejarah pada budaya serta peradaban, kita berharap kekayaan budaya Aceh dapat terus dijaga, dilindungi, dikembangkan, dimanfaatkan, dibina, sehingga ini bisa saja berubah menjadi warisan budaya yang mana terus berlanjut atau sustainability, ” jelas Fadli Zon.

    Beliau menambahkan bahwa tradisi Islam mempunyai peluang besar untuk menjadi modal utama di biosfer budaya nasional. “Jadi ke depannya, seni Islam atau islamic arts ini juga berubah jadi bagian yang mana sangat penting. Dan kita harapkan, Aceh bisa jadi berubah jadi pionir ke di mengembangkan lalu memajukan seni islami, baik itu di bidang seni pertunjukan, seni musik, tradisi, serta seni rupa maupun seni lainnya, ” imbuhnya.

    Menutup sambutannya, Fadli Zon menekankan pentingnya sinergi antara budaya lalu kegiatan ekonomi kreatif demi kesejahteraan masyarakat. “Ke depannya, budaya tentu bisa jadi menjadi bagian dari dunia usaha lalu sektor budaya. Jika sektor budaya adalah hulunya, maka pada hilirnya ada perekonomian kreatif, pariwisata, UMKM, kuliner, serta lain-lain, ” tutupnya.

    Senada dengan Menteri Fadli Zon, Walikota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, menegaskan bahwa identitas budaya Aceh tak terpisahkan dari agama, nilai, serta kreativitas.

    “Festival GAYAIN 2025 hadir sebagai wadah pelestarian budaya, yang mana menghidupkan kembali tradisi seperti syair, tari, musik etnik serta beraneka seni lisan yang tersebut berubah menjadi warisan leluhur kita, ” tuturnya.

    Festival GAYAIN Aceh 2025 secara resmi dibuka dengan tabuhan rapai, alat musik perkusi tradisional Aceh, yang mana dikerjakan oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon beserta jajaran. Kemeriahan dilanjutkan dengan persembahan Tari Kolosal yang mana melibatkan 400 siswa dari seluruh penjuru Aceh, hasil kolaborasi inisiatif Inisiatif Seniman Masuk Sekolah (GSMS). Grup musik Sukamosa juga pembacaan sajak Cakra Donya oleh Illiza turut memeriahkan acara. (PERS)

  • Fadli Zon: Tradisi Islam, Modal Budaya Nasional dari Aceh

    Fadli Zon: Tradisi Islam, Modal Budaya Nasional dari Aceh

    BANDA ACEH – Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menekankan betapa berharganya tradisi Islam sebagai fondasi kuat bagi kekayaan budaya bangsa Indonesia. Ia mengawasi prospek luar biasa dalam Tanah Air, khususnya dalam Aceh, yang mana dijuluki ‘Serambi Makkah’, untuk bermetamorfosis menjadi pusat pengembangan habitat budaya Islami.

    “Jadi ke depannya, seni Islam atau Islamic arts ini juga bermetamorfosis menjadi bagian yang sangat penting. Dan kita harapkan, Aceh dapat menjadi pionir pada di mengembangkan dan juga memajukan seni Islami, baik itu pada bidang seni pertunjukan, seni musik, tradisi, serta seni rupa maupun seni lainnya, ” kata Menbud pada informasi yang diterima di Jakarta, Selasa (25/6/2025).

    Saat membuka Festival Pergerakan Kebudayaan Nusantara (Gayain) Aceh 2025, Fadli Zon menegaskan bahwa perhelatan ini lebih besar dari sekadar seremoni. Baginya, festival ini adalah wujud nyata upaya menghidupkan kembali akar budaya Islam yang digunakan kaya serta mendalam.

    “Sebagai kota yang tersebut bersejarah pada budaya juga peradaban, kita berharap kekayaan budaya Aceh dapat terus dijaga, dilindungi, dikembangkan, dimanfaatkan, dibina, sehingga ini bisa saja berubah menjadi warisan budaya yang digunakan terus berlanjut atau sustainability, ” ungkapnya dengan penuh harap.

    Lebih lanjut, Fadli Zon turut mengingatkan pentingnya jalinan sinergi antara pelestarian budaya dan juga geliat sektor ekonomi kreatif. Ia meyakini kolaborasi ini akan membuka jalan bagi kesejahteraan penduduk setempat, sebuah visi yang digunakan ia pegang teguh di setiap gerakannya dalam bola kebudayaan. (PERS)

  • Menteri Kebudayaan Fadli Zon Kunker ke Sulut, Fokus Pengembangunan Budaya

    Menteri Kebudayaan Fadli Zon Kunker ke Sulut, Fokus Pengembangunan Budaya

    MANADO menyambut hangat kedatangan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, pada Rabu (26/11/2025). Tepat dalam Bandara Internasional Sam Ratulangi, Pemimpin wilayah Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, secara pribadi menyambut rombongan menteri. Momen ini berubah menjadi awal dari kumpulan diskusi penting yang dimaksud telah terjadi dinanti.

    Gubernur Selvanus dan juga Menteri Fadli Zon segera terlibat di perbincangan mendalam mengenai agenda-agenda strategis yang digunakan berorientasi pada kemajuan kebudayaan pada tanah Nyiur Melambai. Pembicaraan ini memfokuskan pada beberapa aspek krusial, salah satunya penguatan sistem pengelolaan warisan budaya yang digunakan kaya, revitalisasi ruang-ruang rakyat agar tambahan berakar pada nilai-nilai kebudayaan, juga peningkatan kapasitas lembaga-lembaga yang dimaksud memiliki peran vital di melestarikan sejarah kemudian kebudayaan daerah.

    “Sulawesi Utara dianugerahi kekayaan tradisi, sejarah, kemudian artefak yang luar biasa. Semuanya membutuhkan pengelolaan yang digunakan sangat tambahan profesional agar dapat memberikan dampak nyata, bukan belaka bagi lembaga pendidikan masyarakat, tetapi juga untuk memacu peningkatan sektor ekonomi kreatif di tempat kita, ” terang Pengurus Yulius Selvanus, penuh keyakinan.

    Gubernur menambahkan bahwa kunjungan Menteri Kebudayaan seperti ini adalah sebuah anugerah juga momen yang dimaksud sangat penting. “Kehadiran beliau bermetamorfosis menjadi dorongan kuat untuk menantang perhatian lebih lanjut besar dari pemerintah pusat terhadap segala prospek budaya yang mana dimiliki oleh Sulawesi Utara, ” ungkap Yulius.

    Salah satu titik penting pada kunjungan Menteri Fadli Zon dalam Sulawesi Utara adalah kunjungannya ke Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara yang berlokasi di Kecamatan Wenang, Perkotaan Manado. Di sana, harapan besar disematkan untuk beragam perbaikan.

    “Kami sangat berharap kunjungan ini akan berubah jadi pemicu percepatan pada peningkatan infrastruktur museum, modernisasi ruang pamer yang digunakan ada, hingga pengembangan program-program edukasi budaya yang digunakan menarik, khususnya bagi generasi muda penerus bangsa, ” harapnya.

    Selain meninjau segera situasi museum, Menteri Kebudayaan juga dijadwalkan untuk terlibat di beragam kegiatan resmi lainnya. Agenda yang dimaksud mencakup dialog budaya yang digunakan interaktif, reuni penting dengan para tokoh adat yang mana merupakan penjaga kearifan lokal, dan juga kunjungan ke beberapa jumlah portal sejarah yang digunakan miliki nilai penting pada beraneka wilayah Sulawesi Utara. Kehadiran Menteri Fadli Zon disambut dengan penuh antusiasme oleh pemerintah daerah, mengingat seluruh program yang mana disusun dinilai sangat selaras dengan visi Pemimpin wilayah Yulius Selvanus. Visi yang disebutkan berfokus pada penguatan identitas budaya wilayah dan juga perluasan akses masyarakat terhadap kekayaan pengetahuan sejarah yang digunakan dimiliki Sulut. (PERS)

  • Fadli Zon: Tedjowulan Solusi Damai Konflik Tahta Keraton Solo

    Fadli Zon: Tedjowulan Solusi Damai Konflik Tahta Keraton Solo

    JAKARTA – Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyuarakan keyakinannya bahwa Maha Menteri Kanjeng Gusti Panembahan Agung (KGPA) Tedjowulan memiliki peluang besar untuk mendamaikan perselisihan mengenai dualisme penerus tahta Keraton Surakarta Hadiningrat, yang dimaksud muncul pasca-wafatnya Pakubuwono (PB) XIII.

    Menurut Fadli Zon, tempat Tedjowulan sebagai sesepuh di lingkungan keraton menjadikannya figur ideal untuk memfasilitasi dialog serta mencari titik temu antara pihak-pihak yang dimaksud berseteru.

    “Dengan adanya Panembahan Agung Tedjowulan bisa jadi berubah jadi pendatang yang digunakan dituakan untuk mungkin saja rembukan sekaligus di waktu ke depan sampai ke depan ada semacam konsensus, ” kata Fadli ketika ditemui dalam Jakarta, Selasa (25/11/2025).

    Ia juga mengungkapkan harapannya agar masa berkabung selama 40 hari pasca-berpulangnya PB XIII dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan konflik internal ini melalui musyawarah keluarga, tanpa berlarut-larut.

    Fadli Zon menekankan arti penting Keraton Solo sebagai penjaga tradisi serta budaya Jawa yang digunakan kaya akan sejarah.

    Lebih lanjut, ia menyampaikan niat untuk berkolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan Kasunanan Surakarta demi melakukan perbaikan kemudian menguatkan peran keraton sebagai pusat budaya ke Daerah Perkotaan Solo.

    Konflik dualisme tahta Keraton Solo bermula dari munculnya dua kubu yang mengklaim hak berhadapan dengan takhta. Putra bungsu mendiang PB XIII, Gusti Purboyo atau KGPAA Hamengkunegoro, sudah mengukuhkan diri sebagai penerus serta diangkat berubah menjadi PB XIV pada Hari Sabtu (15/11/2025). Sementara itu, Lembaga Dewan Adat (LDA) menobatkan putra tertua mendiang PB XIII, KGPH Hangabehi, sebagai penerus tahta pada rapat keluarga besar yang tersebut diselenggarakan dalam Kompleks Keraton Solo pada Kamis (13/11/2025). (PERS)

  • Kemenbud Raih Detik Awards 2025, Pelindung Budaya Tanah Air

    Kemenbud Raih Detik Awards 2025, Pelindung Budaya Tanah Air

    JAKARTA – Baru menginjak usia setahun, Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) sudah pernah menorehkan prestasi gemilang pada melindungi denyut nadi nilai-nilai budaya bangsa. Keberhasilan ini tidak ada hanya sekali diakui secara internal, namun juga diapresiasi luas, salah satunya melalui peraihan Detik Awards 2025 pada kategori Tokoh Penggerak Ekosistem Pelindungan Kebudayaan. Sebuah pencapaian yang digunakan membanggakan, bukan?

    Di bawah nahkoda Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Kemenbud dinilai telah lama berhasil merancang fondasi yang dimaksud kokoh bagi sistem pelindungan kebudayaan nasional. Tujuannya jelas: menciptakan biosfer budaya yang tersebut tiada hanya saja lestari, tetapi juga hidup kemudian terus tumbuh dinamis. Pelindungan warisan budaya ditempatkan sebagai prioritas utama, layaknya akar yang mana menopang pohon hidup budaya bangsa.

    Fadli Zon, dengan dedikasinya yang tersebut tak kenal lelah, terbukti tegas menggalang sinergi lintas direktorat juga menggandeng berubah-ubah pemangku kepentingan. Upayanya meliputi pemeliharaan, penjagaan, pendataan, hingga pengamanan warisan budaya bangsa yang tersebut tak ternilai harganya. Melalui Direktorat Pelindungan Kebudayaan juga Tradisi, beragam inisiatif strategis terus bergulir, mulai dari pelindungan Cagar Budaya, penetapan Cagar Budaya Peringkat Nasional, hingga pengakuan Warisan Budaya Takbenda (WBTb) juga pewarisan pengetahuan lalu nilai-nilai luhur budaya untuk generasi penerus.

    Penghargaan bergengsi itu sendiri diterima secara langsung oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Ia tak lupa menyampaikan rasa syukurnya berhadapan dengan apresiasi yang dimaksud diberikan.

    “Saya berterima kasih melawan penghargaan yang mana diberikan. Ini adalah menjadi motivasi bagi saya dan juga lembaga. Sebagai Menteri Kebudayaan, saya akan permanen konsisten menyimpan serta merawat nilai‐nilai kebudayaan, ” ucap Fadli Zon.

    Lebih lanjut, mantan Wakil Ketua DPR ini menekankan pentingnya peran warisan budaya, baik yang berwujud maupun tak berwujud, sebagai modal strategis untuk meningkatkan produktivitas dan juga kemajuan bangsa.

    “Saya berupaya menjadikan Kementerian Kebudayaan sebagai penopang utama bagi proses pengembangan kebudayaan yang tersebut dijalankan pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta masyarakat, ” tambahnya.

    Penguatan karakter bangsa yang tersebut berakar pada nilai-nilai luhur budaya, menurut Fadli Zon, harus berubah menjadi kompas utama pada perkembangan nasional. Masyarakat, sebagai pemilik serta pelaku kebudayaan, memegang peranan sentral di tahapan ini. Visi ini selaras dengan cita-cita nasional Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka, yang dimaksud memandang kebudayaan sebagai elemen tak terpisahkan dari perkembangan manusia, penguatan identitas nasional, lalu pengembangan dunia usaha kreatif yang inklusif.

    Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan kemudian Tradisi, dengan data serta upaya pelindungan yang mana terukur, berubah menjadi pilar utama di pengembangan dan juga pemanfaatan kebudayaan pada seluruh penjuru negeri. Rencana pengembangan situs-situs bersejarah seperti Museum Majapahit, Istana Dalam Loka, hingga Gunung Padang bermetamorfosis menjadi bukti nyata upaya menghidupkan kembali sejarah, menggerakkan roda perekonomian lokal, lalu tentunya, melibatkan partisipasi terlibat masyarakat.

    Tahun ini saja, Kemenbud berhasil menetapkan 50 objek Cagar Budaya Peringkat Nasional tambahan, mengakibatkan totalnya bermetamorfosis menjadi 228 objek. Angka ini merupakan capaian tertinggi sejak tahun 2013. Tak kalah membanggakan, 514 Warisan Budaya Takbenda (WBTb) juga sudah ditetapkan tahun ini, menambah daftar sebelumnya menjadi 2.213 WBTb. Hal ini adalah rekor terbanyak sejak 2013, sebuah bukti komitmen kuat pada melestarikan tradisi, pengetahuan, kemudian ekspresi budaya masyarakat.

    Program pewarisan nilai-nilai luhur budaya juga terus digalakkan melalui inisiatif seperti Belajar Bersama Maestro lalu Pergerakan Seniman Masuk Sekolah. Lebih dari 500 seniman dan juga budayawan dari berubah-ubah area turut terlibat aktif, melakukan konfirmasi kekayaan budaya terus mengalir terhadap generasi muda.

    Dengan kerja pelindungan yang dimaksud terukur lalu kolaborasi yang dimaksud erat, Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan lalu Tradisi kokoh berdiri sebagai penjaga fondasi ekosistem kebudayaan nasional. Setiap kebijakan yang mana diambil berangkat dari data yang dimaksud akurat, riset yang digunakan mendalam, kemudian komitmen pelindungan yang digunakan tak tergoyahkan.

  • Menteri Kebudayaan catat cagar budaya nasional capai 228 unit

    Menteri Kebudayaan catat cagar budaya nasional capai 228 unit

    ligapedianews.com Ibukota – Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, hingga sekarang pihaknya mencatat kekayaan keragaman budaya dalam bentuk cagar budaya nasional mencapai sebanyak 228 cagar budaya.

    “Berdasarkan data yang dimaksud terdapat dalam Kementerian Kebudayaan, kekayaan keragaman budaya kita merupakan cagar budaya yang tersebut berperingkat nasional berjumlah 228 cagar budaya, ini sebenarnya masih jarak jauh dari pencatatan kita yang mana begitu sejumlah jumlahnya,” ujar Fadli pada seminar internasional pantun nusantara yang tersebut dipantau secara daring di area Jakarta, Senin.

    Ia menambahkan, warisan budaya tak benda yang digunakan telah lama ditetapkan di level nasional mencapai sekitar 2.213 warisan budaya juga 16 warisan budaya yang mana sudah pernah inskripsi pada UNESCO. “Yang terakhir itu adalah Reog Ponorogo kemudian secara bersama-sama join nomination untuk kebaya juga juga musik kolintang juga tentu semata pantun di dalam tahun 2020,” ungkapnya.

    Pihaknya pun berazam untuk menjaga warisan budaya, termasuk warisan budaya tak benda yakni pantun melalui sosialisasi yang digunakan diperkuat dengan menggandeng berbagai pihak misalnya asosiasi juga komunitas sehingga kelestarian pantun dapat terlaksana.

    Menurutnya, pantun merupakan cerminan kebijaksanaan lokal yang sarat akan instruksi moral, sehingga hal ini menjadi tugas bersatu berbagai lapisan publik untuk memverifikasi keberlanjutan.

    Dalam berbagai kegiatan yang tersebut sekarang ini turut disertasi ekspresi dengan menghadirkan pantun, menurutnya kegiatan ini mampu menumbuhkan kesadaran dari berbagai pihak masalah kekayaan tradisi yang mana telah lama ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO pada 2020 lalu.

    Sementara agar tetap memperlihatkan relevan dengan perkembangan zaman, tradisi lisan ini dapat dilestarikan melalui pemanfaatan teknologi digital. Misalnya pembuatan pantun melalui Artificial Intelligence hingga memperkenalkan pantun di media sosial juga aplikasi mobile digital lainnya.

    “Karena era digital in menawarkan berbagai wadah untuk memperkenalkan pantun di dalam generasi muda termasuk media sosial yang tersebut tak terbatas kita punya media sosial yang digunakan cukup berbagai pilihannya dan juga ini menjadi hidup sehari-hari,” katanya.

    Mempertahankan pantun pada bentuk tradisional menurutnya menjadi hal yang dimaksud penting, namun demikian juga perlu mengonversi budaya tradisional secara modern agar mudah disentuh lapisan masyarakat.

  • Akulturasi dengan Tionghoa beri dampak pada kekayaan budaya Indonesia

    Akulturasi dengan Tionghoa beri dampak pada kekayaan budaya Indonesia

    ligapedianews.com DKI Jakarta – Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan adanya akulturasi budaya Indonesia dengan Tionghoa memberikan dampak yang mana signifikan terhadap kebudayaan Nusantara hingga pada waktu ini.

    “Akulturasi budaya Tionghoa memberi dampak signifikan pada memperkaya keberagaman budaya Indonesia,” kata Fadli Zon pada membuka pameran Kongsi: Akulturasi Tionghoa dalam Nusantara pada Museum Nasional, Jakarta, Senin.

    Fadli mengungkapkan kekayaan budaya Indonesia yang dimaksud terbentang dari Sabang sampai Merauke sebelumnya telah lama mendapatkan pengaruh budaya negara lain. Misalnya seperti Tiongkok, India, Timur Tengah, Eropa hingga Amerika.

    Percampuran budaya itu terjadi lantaran adanya faktor interaksi antara penjual Tionghoa dengan warga lokal. Misalnya di dunia sastra, para penyair lokal yang tersebut awalnya menuliskan syair-syair menggunakan daun lontar atau lapisan kulit pohon, jadi menggunakan lembaran kertas yang digunakan dibawa orang-orang Tiongkok ke Nusantara kala itu.

    Dari sisi kebudayaan, adanya faktor perkawinan dari dua ras yang dimaksud berbeda menciptakan motif batik baru pada pakaian-pakaian yang dikenakan, seperti kebaya encim, kerah sanghai sampai baju koko.

    Kemudian di area dunia kuliner, muncul makanan sebagai bakmi, teh, lumpia serta bakso. Menurutnya, semua kekayaan yang disebutkan merupakan bukti konkret dari hubungan baik yang tersebut terjalin antara publik Tionghoa dengan warga lokal.

    “Dari rute percobaan maritim dari era Sriwijaya juga Majapahit, ke warisan peranakan yang terus mengalami perkembangan hari ini, legasi ekoliterasi merupakan layanan yang mana menakjubkan pada sejarah kita,” ujar dia.

    Dalam kesempatan itu, Fadli turut menekankan bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan sudah menjadi melting point atau tempat bertemunya berbagai budaya tersebut.

    Dengan demikian, dirinya berharap penduduk dapat menjaga seluruh warisan budaya tersebut. Salah satunya melalui kunjungan ke museum guna menambah wawasan terkait sejarah bangsa baik dari sisi cerita maupun pengetahuan masalah peninggalan sejarah lainnya.

  • Menbud: Penelitian Gunung Padang diperlukan untuk pastikan informasi

    Menbud: Penelitian Gunung Padang diperlukan untuk pastikan informasi

    ligapedianews.com Ibukota – Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, riset serta kajian yang digunakan lebih besar lanjut dan juga menyeluruh diperlukan untuk mengupas informasi yang dimaksud komprehensif pada Laman Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat.

    Lewat diskusi masyarakat bertajuk “Melihat Kembali Nilai-Nilai Penting Website Cagar Budaya Nasional Gunung Padang: suatu Upaya Pelestarian Cagar Budaya Berkelanjutan” yang dimaksud dijalankan Selasa, Fadli mengungkapkan, kajian juga penelitian yang mana yang dimaksud dilakukan dengan dengan beberapa lembaga hingga ahli terkait diharapkan menghadirkan informasi situs budaya lalu sejarah tersebut.

    “Saya kira kita di tahap awal pada penelitian. Tentu kalau kita lakukan riset lebih tinggi lanjut terhadap Gunung Padang ini kita perlu ada kolaborasi dengan berbagai lembaga, pihak kemudian ahli-ahli diperlukan juga mengundang ahli dari luar untuk melakukan riset megalitik Gunung Padang,” jelas Fadli ketika ditemui pada Jakarta, Selasa.

    Dirinya mengakui bahwa beberapa tulisan yang ia simak, situs Gunung Padang miliki usia yang tersebut berbeda-beda. Sementara mengamati jejak sejarah, situs ini menurut beliau merupakan warisan yang mana dibuat oleh tangan manusia bila berdasarkan sisa peninggalan yang dimaksud masuk pada zaman megalitikum ini.

    Sebelumnya, Menteri Kebudayaan menegaskan pemerintah berikrar untuk melanjutkan penelitian lalu kajian ilmiah terkait situs Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat setelahnya sempat terhenti. Dengan mempertemukan para ahli, baik yang dimaksud menggalang maupun yang dimaksud memiliki pandangan berbeda akan menghadirkan titik temu terkait situs megalitik itu.

    “Kami akan segera mengakumulasi para ahli yang tersebut berbeda pendapat juga. Ahli-ahli yang dimaksud pro juga kontra, atau yang tersebut berpendapat berbeda-beda untuk dikumpulkan. Karena tesis, antitesis itu bisa jadi menjadi sintesis kan begitu ya,” kata Fadli (9/1)

    Penelitian terhadap situs bersejarah ini juga akan menjadi salah satu prioritas pemerintah untuk mengungkap tambahan jarak jauh sejarah lalu peradaban bangsa.

    Menurut ia perbedaan pandangan yang tersebut muncul di tempat kalangan arkeolog selama ini adalah bagian dari dinamika ilmiah yang digunakan wajar.

    Menbud menekankan pentingnya forum dialog antar ilmuwan untuk mencari solusi terbaik terkait langkah penelitian serta pelestarian situs tersebut.