Tag: berita tinju dunia

  • Dillian Whyte Mundur, Joe Joyce Naik Ring Hadapi Filip Hrgovic

    Dillian Whyte Mundur, Joe Joyce Naik Ring Hadapi Filip Hrgovic

    Ligapedianews.com Duel tinju kelas berat antara Joe Joyce dan juga Dillian Whyte yang mana dijadwalkan pada 5 April 2025 mengalami pembaharuan setelahnya Whyte terpaksa mundur akibat cedera tangan. Sebagai penggantinya, Joyce saat ini akan menghadapi petinju Kroasia, Filip Hrgovic, di area Co-op Live Arena, Manchester.

    Keputusan ini diinformasikan oleh promotor Queensberry pada 4 Maret 2025, hanya sekali beberapa jam pasca kabar mundurnya Whyte dikonfirmasi. Pertarungan ini sekaligus menjadi turnamen reuni bagi Joyce lalu Hrgovic, yang dimaksud pernah berhadapan pada level amatir di kompetisi World Series Boxing 2013. Saat itu, Joyce mengundurkan diri dari sebagai pemenang pasca pertarungan sengit lima ronde.

    Baik Joyce maupun Hrgovic memiliki rekam jejak cemerlang di tempat level amatir kemudian sempat menjadi petinju nomor satu di area dunia sebagai profesional—Joyce dengan WBO lalu Hrgovic dengan IBF. Namun, keduanya juga sempat mengalami keterpurukan setelahnya kehilangan penghargaan pengganti mereka.

    Hrgovic harus merelakan statusnya sebagai penantang wajib IBF setelahnya kalah dari Daniel Dubois, yang mana sebelumnya pernah ditaklukkan oleh Joyce. Sementara itu, Joyce kehilangan peringkat sementara WBO-nya pasca dua kali kalah dari petinju selama Tiongkok, Zhang Zhilei, pada 2023.

    Dengan latar belakang rivalitas dia juga ambisi untuk kembali ke puncak, duel Joyce vs Hrgovic diprediksi akan berlangsung sengit dan juga menjadi salah satu pertarungan yang paling dinantikan dalam awal 2025.

  • Thrilla in Manila: Duel Tinju Paling Brutal yang Nyaris Merenggut Nyawa Muhammad Ali

    Thrilla in Manila: Duel Tinju Paling Brutal yang Nyaris Merenggut Nyawa Muhammad Ali

    Ligapedianews,com TEPAT LIMA PULUH tahun lalu, pada 3 Maret 1975, pertarungan legendaris antara Muhammad Ali serta Joe Frazier III secara resmi diumumkan. Pertarungan yang mana kemudian dikenal sebagai “Thrilla in Manila” ini berlangsung pada 1 Oktober 1975 lalu menjadi salah satu duel tinju paling brutal di sejarah.

    Pada pagi yang panas di area Manila dalam hari pertarungan itu, dunia menyaksikan salah satu pertarungan tinju paling sengit pada sejarah. Duel antara Muhammad Ali dan Joe Frazier , yang dikenal sebagai “Thrilla in Manila”, menjadi kompetisi pembuktian siapa petinju terbaik di dalam era mereka. Namun, tambahan dari sekadar pertarungan bersaing untuk gelar, duel ini meninggalkan jejak tak terhapuskan di dunia olahraga.

    Di bawah sorotan lampu yang mana membakar, suhu di tempat di ring diperkirakan mencapai 49 derajat Celsius. Dalam kondisi yang digunakan hampir tak tertahankan, dua legenda tinju ini bertarung habis-habisan selama 14 ronde sebelum akhirnya Frazier harus menyerah. Pertarungan ini tidaklah belaka mengukuhkan Ali sebagai yang digunakan terbaik, tetapi juga menandai berakhirnya salah satu rivalitas paling legendaris pada sejarah tinju.

    Thrilla in Manila: Duel Tinju Paling Brutal yang mana Nyaris Merenggut Nyawa Muhammad Ali

    Sebelum konferensi ketiga ini, Ali dan juga Frazier telah lama berbagi kemenangan di tempat dua laga sebelumnya. Pertemuan pertama mereka, yang mana dijuluki “Fight of the Century” pada 1971 di dalam Madison Square Garden, dimenangkan oleh Frazier pasca berhasil menjatuhkan Ali dalam ronde terakhir. Dua tahun kemudian, di duel ulang yang tak kalah sengit, Ali berhasil membalas kekalahannya dengan kemenangan nomor mutlak.

    Namun, pertarungan ketiga di area Manila ini berbeda. Hal ini bukanlah cuma sekadar duel biasa—ini adalah pertempuran fisik lalu mental yang mana akan mengubah hidup kedua petinju selamanya.

    Saat memasuki ring, Ali tampak percaya diri mengenakan jubah putih beraksen biru muda, sementara Frazier mengenakan jubah biru tua yang dimaksud mencerminkan keteguhan hatinya. Ali, dengan keangkuhan khasnya, memilih mengenakan celana tinju Everlast putih polos—sesuatu yang dimaksud jarang dilaksanakan petinju di laga sekeras ini. Pilihannya seakan menjadi simbol keyakinannya bahwa ia akan menang tanpa cela.

    Namun, dalam di ring, segalanya berubah. Bel pertandingan berbunyi, kemudian duel segera berubah menjadi pertempuran tanpa ampun. Ali mencoba mengontrol jarak dengan jab panjangnya, sementara Frazier terus merangsek maju, menghantam tubuh Ali dengan pukulan yang digunakan mengguncang.

    Biasanya dikenal dengan gaya bertinjunya yang lincah, kali ini Ali justru lebih banyak berbagai bertahan lalu memilih bertukar pukulan segera dengan Frazier. Ritme pertandingan begitu cepat kemudian intens. Setiap pukulan yang mana mendarat tiada semata-mata mengguncang tubuh, tetapi juga menguras tenaga dia sedikit demi sedikit.

    Di berada dalam panas ekstrem juga kelelahan yang dimaksud semakin parah, keduanya tetap memperlihatkan bertahan. Tak ada yang mana mau menyerah. Ali sesekali bersandar ke tali, mencoba meredam serangan Frazier, tetapi sang lawan tak memberi ruang untuk bernapas. Ronde demi ronde berlalu, serta keduanya mulai menunjukkan tanda-tanda keletihan yang mana luar biasa.

    Pada ronde ke-14, wajah Frazier telah tak mampu dikenali. Matanya membengkak hingga nyaris tertutup sepenuhnya. Kondisinya yang tersebut semakin buruk menghasilkan pelatihnya, Eddie Futch, mengambil tindakan sulit: menghentikan pertandingan. Frazier bersikeras ingin melanjutkan, tetapi Futch menegaskan, “Tak ada yang mana akan melupakan di malam hari ini. Tapi aku juga tak akan membiarkanmu meninggal di area ring.”

    Di sudut lainnya, Ali juga tak berjauhan lebih lanjut baik. Begitu kemenangan diumumkan, ia segera roboh di area lantai ring lantaran kelelahan. Dalam wawancara setelahnya laga, Ali mengakui, “Rasanya seperti mati. Hal ini pengalaman paling dekat dengan kematian yang mana pernah saya rasakan.”

    Kemenangan yang tersebut Dibayar Mahal

    Thrilla in Manila: Duel Tinju Paling Brutal yang tersebut Nyaris Merenggut Nyawa Muhammad Ali

    Ali memang benar mempertahankan gelar kejuaraan juara dunia kelas berat, tetapi nilai yang digunakan harus dibayarnya sangat mahal. Pertarungan ini menjadi titik balik di hidupnya. Setelah bertarung enam tahun lagi hingga 1981, Ali akhirnya pensiun. Namun, dampak dari duel brutal ini tak bisa jadi dihindari—hanya tiga tahun setelahnya gantung sarung tinju, ia didiagnosis menderita Parkinson, penyakit yang tersebut berbagai diyakini dipicu oleh pukulan bertubi-tubi yang mana diterimanya selama bertahun-tahun.

  • Gervonta Davis Terancam Kehilangan Gelar, WBC Wajibkan Rematch Lawan Lamont Roach

    Gervonta Davis Terancam Kehilangan Gelar, WBC Wajibkan Rematch Lawan Lamont Roach

    Ligapedianews,com Gervonta Davis menghadapi tekanan besar pasca hasil imbang kontroversial melawan Lamont Roach di area Barclays Center, New York, Hari Sabtu (1/3/2025). WBA pada masa kini berada dalam mempertimbangkan untuk memerintahkan pertandingan ulang pasca langkah wasit Steve Willis dinilai merugikan Roach.

    Dalam duel tersebut, Roach yang tersebut berstatus underdog mampu menahan Davis hingga hasil majority draw. Salah satu momen krusial terjadi pada ronde kesembilan ketika Davis sempat berlutut setelahnya menerima pukulan jab dari Roach. Namun, Willis tidak ada menghitungnya sebagai knockdown, sehingga Davis tetap memperlihatkan unggul secara perhitungan poin.

    Davis mengklaim bahwa ia kehilangan keseimbangan akibat minyak rambut yang tersebut menetes ke matanya, sehingga terpaksa mengambil jeda untuk membersihkan wajahnya di area sudut ring. Namun, berdasarkan aturan tinju, apabila seseorang petinju menyentuh kanvas setelahnya menerima pukulan, wasit seharusnya memberikan hitungan knockdown. Keputusan Willis untuk melanjutkan pertandingan tanpa hitungan menciptakan Roach kehilangan kesempatan menang.

    Salah satu juri mencetak skor 115-113 untuk Davis, sedangkan dua lainnya memberikan skor imbang 114-114. Jika knockdown itu dihitung, Roach kemungkinan besar akan mengundurkan diri dari sebagai pemenang juga merebut penghargaan WBA lightweight dari tangan Davis.

    Setelah laga, Davis menyatakan bahwa ia tak tertarik untuk segera mengadakan rematch. Namun, WBA melalui presidennya, Gilberto Mendoza, mengisyaratkan bahwa mereka itu dapat memaksakan pertandingan ulang demi menjaga kredibilitas olahraga ini.

    “Saya rasa tiada ada keraguan bahwa pertandingan ulang harus terjadi. Hal ini bukanlah belaka masalah hasil pertandingan, tetapi juga persepsi masyarakat terhadap olahraga tinju dan juga bagaimana kita menegakkan aturan,” ujar Mendoza terhadap The Ring.

    Jika WBA secara resmi menginstruksikan rematch serta Davis menolak, merek miliki wewenang untuk mencabut gelar kejuaraan juara darinya. Padahal, pada kontrak duel pertama, telah lama disertakan klausul pertandingan ulang, yang mana seharusnya mempermudah negosiasi.

    Kini, tindakan ada di area tangan Davis. Jika ingin mempertahankan sabuk juaranya, ia harus kembali menghadapi Roach di duel ulang yang diperkirakan akan menarik perhatian besar dunia tinju.

  • Profil Lamont Roach: Petinju yang dimaksud Membuat Gervonta Davis Berlutut

    Profil Lamont Roach: Petinju yang dimaksud Membuat Gervonta Davis Berlutut

    Ligapedianews,com Lamont Roach Jr mencuri perhatian dunia tinju setelahnya pertarungannya melawan Gervonta Davis di Barclays Center, Brooklyn, pada Hari Sabtu (1/3/2025). Dalam laga yang tersebut penuh kontroversi, Roach sukses menciptakan Davis berlutut dalam ronde kesembilan, sebuah momen yang tersebut seharusnya dinilai sebagai knockdown namun diabaikan oleh wasit.

    Lamont Roach Jr lahir pada 18 Agustus 1995 di area Washington, DC, Amerika Serikat. Ia mulai mengenal tinju sejak usia sembilan tahun, mengikuti jejak sepupunya yang berlatih di tempat No XCuse Boxing Club, Maryland. Di bawah bimbingan ayahnya, Lamont Roach Sr, dan juga pamannya Bernard ‘Boogaloo’ Roach, Roach berprogres menjadi petinju amatir berbakat.

    Sebagai petinju amatir, Roach mencatatkan rekor impresif dengan 125 kemenangan serta 15 kekalahan dan juga dua kali meraih kemenangan Kejuaraan Junior National Golden Gloves. Ia kemudian memulai karier profesionalnya pada usia 18 tahun, dengan kemenangan melawan Victor Galindo melalui langkah mutlak pada laga empat ronde pada 19 April 2014.

    Roach pertama kali bertarung untuk perebutan peringkat juara dunia pada 9 November 2019, menghadapi Jamel Herring untuk sabuk kelas bulu super WBO. Namun, ia harus menerima kekalahan mutlak pasca 12 ronde. Kekalahan ini tiada menyurutkan semangatnya. Ia bangkit kemudian berhasil menjadi juara dunia kelas bulu super WBA pada 25 November 2023 pasca mengalahkan Héctor Luis García.

    Laga melawan Gervonta Davis menjadi ujian terbesar bagi Roach. Sebelum duel, ia percaya diri mempunyai kemampuan teknis untuk bertahan selama 12 ronde serta mengalahkan Davis berdasarkan langkah juri. Selama pertarungan, Roach sukses meredam pukulan keras khas Davis lalu bahkan membuatnya berlutut pasca serangan ke tubuh di tempat ronde kesembilan.

    Namun, wasit Steve Willis tak menganggapnya sebagai knockdown lalu membiarkan Davis mundur ke pojokan untuk menyeka wajahnya dengan handuk putih. Davis berdalih bahwa ia terkena sengatan materi kimia rambut di area matanya. Keputusan ini menuai kontroversi, sebab apabila wasit menghitung knockdown, Roach bisa saja sekadar meraih kemenangan laga dengan skor 10-8 pada ronde tersebut.

    Hasil akhir pertandingan berakhir imbang dengan skor 114-114 dari dua juri, sementara satu juri lainnya memberikan keunggulan tipis 115-113 untuk Davis. Roach mengaku kecewa dengan kebijakan yang disebutkan serta menegaskan bahwa apabila aturan diterapkan dengan benar, ia seharusnya meninggalkan sebagai pemenang.

    Biodata Lamont Roach

    Nama: Lamont Roach Jr

    Tempat Lahir: Washington, DC, Amerika Serikat

  • Bryan Acosta Dipermalukan di dalam Kelas 55,3 Kg, Balik ke Kelas 57,1 Kg

    Bryan Acosta Dipermalukan di dalam Kelas 55,3 Kg, Balik ke Kelas 57,1 Kg

    ligapedianews.com Petinju Bryan Acosta yang dimaksud dipermalukan Ramon Cardenas di dalam kelas bantam super 55,3 kilogram memutuskan kembali ke kelas bulu 57,1 kg. Petinju berusia 26 tahun ini kalah bilangan bulat mutlak pada hari Hari Sabtu dari Ramon Cardenas pada pertandingan utama ProBox TV yang dimaksud berlangsung selama 10 ronde.

    Bryan Acosta tertinggal di tempat awal pertandingan dari petinju yang mana lebih besar berpengalaman, namun ia mampu bangkit kemudian menjatuhkan petinju favorit tuan rumah tersebut. Kini, pasca bertarung untuk pertama kalinya pada kelas 55,3 kilogram, Acosta menyatakan bahwa ia akan menghadirkan pengalaman yang dimaksud ke kelas bulu 57,1 kg untuk melanjutkan kampanyenya ke di pertarungan.

    ”Itu memberi saya keyakinan lebih lanjut di karier saya, akibat di divisi yang tersebut tidak divisi saya, saya menyebabkan laga ini melawan [petarung] teratas. Jadi saya rasa pada kelas saya, saya akan melakukan pekerjaan yang dimaksud lebih tinggi baik,” kata Acosta, 20-1 (8 KO), yang digunakan berperingkat No. 14 di dalam IBF dengan berat badan 57,1 kg.

    ”Saya pikir pertarungan ini saya memulai dengan sedikit lambat karena… ini bukanlah kelas saya,” katanya. ”Saat ronde-ronde terus berlanjut, saya mulai mendapatkan ritme tinju saya. Pada ronde ketujuh, saya menjatuhkannya. Saya kira ronde kelima adalah ketika saya mulai bangkit, namun inilah tinju. Saya berbicara dengan promotor saya, Sampson [Lewkowicz], lalu kami akan kembali ke kelas 57,1 kg.”

    Acosta, yang digunakan bertarung di laga profesional pertamanya di setahun – ia juga menjalani laga profesional IBA pada bulan April lalu – menyatakan bahwa untuk naik ke kelas bulu divisi junior tidak ada terlalu sulit, berkat timnya, yang tersebut dipimpin oleh pembimbing Alfredo Caballero. Namun, petinju berpostur 5 kaki 7 inci ini merasa lebih tinggi cocok untuk bertarung di tempat kelas 126.

    Acosta mengungkapkan bahwa rencananya pada waktu ini adalah untuk beristirahat pasca pertarungan yang digunakan berat ini, kembali ke sasana serta mengawaitu jadwal pertarungan berikutnya. ”Kekalahan ini memberi saya lebih banyak dari 20 laga yang digunakan saya menangkan. Kekalahan ini memberi saya lebih banyak banyak pengalaman kemudian kepercayaan diri,” kata Acosta. “Percayalah, saya akan kembali dengan lebih besar baik dalam laga berikutnya.

    “Saya harap semua orang pada San Antonio menyukai pertarungan saya lalu merek tidaklah melupakan nama saya, lantaran saya akan terus maju. Saya akan menjadi juara dunia. Ingatlah nama saya.”

  • Kisah Arthur Biyarslanov: Pengungsi Korban Perang Chechnya, Calon Perusak Kelas Ringan Super

    Kisah Arthur Biyarslanov: Pengungsi Korban Perang Chechnya, Calon Perusak Kelas Ringan Super

    ligapedianews.com Arthur Biyarslanov baru berusia empat tahun ketika pertempuran terjadi. Pada Agustus 1999, pemberontak Chechnya menyerbu negara tetangga Dagestan, tempat Biyarslanov dan juga keluarganya tinggal, dengan tujuan mendirikan republik Islam yang dimaksud merdeka.

    Bulan berikutnya, rangkaian pengeboman apartemen di dalam Wilayah Moskow menewaskan lebih tinggi dari 300 orang dan juga melukai lebih lanjut dari 1.000 orang. Presiden Rusia Vladimir Pemimpin Rusia menyalahkan pemberontak Chechnya berhadapan dengan serangan yang disebutkan serta menggunakannya sebagai dalih untuk menghendaki wilayah Chechnya, beberapa tahun setelahnya pasukan Rusia dipaksa mundur dari wilayah yang disebutkan setelahnya perjanjian gencatan senjata yang mana mengakhiri konflik sebelumnya.

    Tak ingin terjebak di kekerasan, keluarga Biyarslanov menyeberangi perbatasan menuju negara tetangga, Azerbaijan.

    “Anda tahu, ketika Anda masih muda, Anda tak mempunyai berbagai kenangan,” kata penantang kelas ringan suler Arthur Biyarslanov, yang digunakan memiliki nama lahir Movladdin, terhadap BoxingScene minggu ini.

    “Saya memiliki beberapa kenangan pada waktu bermain sama-sama keluarga lalu teman-teman, namun satu kenangan terbesar yang mana saya miliki adalah pada waktu kami melintasi perbatasan, pada waktu pertempuran dimulai, belaka ada tembakan lalu pengeboman, lalu para tentara yang tersebut melempar saya, menggendong saya, melarikan diri ke zona aman dengan saya,”kata Biyarslanov mengisahkan kembali kenangan pahit pada waktu perang.

    Enam tahun kemudian, keluarganya pindah lagi – kali ini ke Toronto, Kanada. Biyarslanov mengakui bahwa hal itu merupakan kejutan budaya yang digunakan besar. “Sejujurnya, saya tak tahu di tempat mana tempat ini,” kenangnya.

    “Begitu jarak jauh di tempat Barat. Saya datang ke sini, saya tidaklah tahu bahasa Inggris, saya tak punya teman. Rasanya seperti sebuah keberadaan baru, fase baru, serta kemungkinan besar merupakan bagian tersulit pada hidup saya, akibat saya baru cuma berusia 10 tahun ketika tiba di area sini,”tuturnya.

    Dan lantaran anak-anak pada mana pun hampir secara universal akan mengejek siapa pun yang digunakan sedikit berbeda, anak baru dengan aksen Rusia ini tak terelakkan menjadi sasaran ejekan, walau Biyarslanov – yang baru-baru ini menghadirkan rekornya menjadi 18-0 (15 KO) melalui kemenangan KO pada ronde kedua berhadapan dengan atlet veteran Mohamed Minoune – tidak ada dapat meyakinkan apakah itu adalah hal yang tersebut lebih banyak mendasar yang digunakan membuatnya mengambil tinju.

    “Anda memiliki anak-anak yang jelas-jelas mencoba mengganggu Anda. Anda bukan tahu bahasanya. Tetapi saya setiap saat mempunyai mentalitas yang berbeda. Saya tak terlalu banyak dipukuli,” kenangnya.

    “Saya pikir kemungkinan besar itu sudah ada ada di darah saya. Kami miliki latar belakang suka melawan, Anda tahu. Dan saya dan juga saudara laki-laki saya, kami terus-menerus bergulat ketika kami masih kecil, dan juga belaka bermain-main di tempat rumah. Jadi saya kira saya tahu beberapa dasar-dasarnya.”

  • Mike Tyson Beli Rumah Mewah Seharga Rp213 Miliar dari Bayaran Duel Lawan Jake Paul

    Mike Tyson Beli Rumah Mewah Seharga Rp213 Miliar dari Bayaran Duel Lawan Jake Paul

    ligapedianews.com Legenda tinju dunia Mike Tyson menerima bayaran fantastis sebesar USD20 jt atau sekitar Rp328 miliar dari pertarungan kontroversialnya melawan Jake Paul. Petinju berjuluk Iron Mike menghabiskan sebagian besar uangnya untuk membeli rumah mewah dalam Florida.

    Menurut laporan Middle Easy, Tyson membelanjakan USD13 jt atau senilai Rp328 miliar untuk membeli sebuah mansion mewah di dalam Tierra Del Rey Estates, Florida. Langkah ini sekaligus menegaskan bahwa sang petinju sekarang mengutamakan kenyamanan keluarga kemudian gaya hidup kelas atas.

    Mansion baru Tyson tidak sekadar tempat tinggal, melainkan simbol kemewahan. Berdiri di dalam menghadapi lahan seluas 2,7 hektare, properti ini mencakup rumah megah seluas 12.286 kaki persegi dengan enam kamar tidur kemudian sembilan kamar mandi, juga pemandangan danau yang digunakan menenangkan. Berbeda jarak jauh dari rumah lamanya di dalam Las Vegas yang “hanya” bernilai USD2,5 juta, properti ini menunjukkan perubahan Tyson di memadukan kenyamanan juga status.

    Keputusan untuk menetap dalam Florida rupanya dipengaruhi oleh putrinya yang digunakan terlibat di dunia tenis. Menurut Matthew Maschler, agen properti Tyson, lokasi mansion ini memudahkan Tyson untuk mengupayakan karier tenis putrinya dalam Delray. “Ia ingin bisa jadi terbang, menonton pertandingan putrinya, lalu kembali ke pesawat juga melanjutkan perjalanannya,” ungkap Maschler di podcastnya.

    Tak belaka mengandalkan bayaran dari pertarungan, Tyson juga memulai pembangunan imperium industri yang digunakan menguntungkan. Sosok yang dimaksud dulu dikenal dengan gaya hidup boros ini sekarang menunjukkan perencanaan keuangan yang matang. Kesuksesannya membuktikan bahwa Tyson bukanlah belaka ikon tinju, tetapi juga seseorang pelaku bisnis ulung.

    Meski pada masa kini fokus pada keluarga juga menikmati kemewahan, prakiraan tentang kembalinya Tyson ke ring tinju terus-menerus menjadi topik menarik. Namun untuk pada waktu ini, tampaknya Tyson lebih tinggi memilih menikmati sesi baru kehidupannya pada Florida sama-sama keluarga. Rumah megah ini adalah simbol transisi yang mana sempurna—dari petarung tangguh pada ring menjadi ayah yang digunakan peduli dan juga menikmati hasil kerja kerasnya.

  • Ryan Garcia Tolak Rematch Devin Haney, Calon Lawan Berikutnya Teofimo Lopez!

    Ryan Garcia Tolak Rematch Devin Haney, Calon Lawan Berikutnya Teofimo Lopez!

    ligapedianews.com Ryan Garcia kembali menjadi pusat perhatian pasca mengisyaratkan pengumuman besar tentang lawan berikutnya melalui unggahannya pada media sosial. Spekulasi mulai mengarah pada Teofimo Lopez , juara WBO kelas ringan super, sebagai kandidat kuat. Pertarungan ini diyakini akan menjadi salah satu duel paling menarik di dunia tinju ketika ini.

    Lopez, dengan rekor 21-1 (13 KO), tetap saja menjadi nama besar walaupun mengalami kekalahan tipis dari George Kambosos Jr. yang dipengaruhi kondisi fisiknya ketika itu. Kemenangan terbarunya berhadapan dengan Steve Claggett memang benar bukan terlalu impresif, namun daya tarik Lopez masih kuat. Duel antara Lopez serta Garcia diperkirakan akan memikat perhatian dunia, khususnya dengan peluang trash talk yang dimaksud akan memanaskan pemasaran pertarungan ini.

    De La Hoya Tolak Rematch dengan Haney

    Ryan Garcia Tolak Rematch Devin Haney, Calon Lawan Berikutnya Teofimo Lopez!

    Oscar De La Hoya, bos Golden Boy Promotions, secara tegas menyatakan bukan ada keperluan untuk rematch antara Garcia lalu Devin Haney. Menurut De La Hoya, Garcia telah membuktikan dominasinya dengan kemenangan telak menghadapi Haney tahun lalu.

    “Ryan menghancurkannya, tak ada alasan untuk mengulanginya,” tegas De La Hoya. Sebagai gantinya, ia memacu Garcia untuk menghadapi Lopez, yang dianggap tambahan jual secara komersial serta menjanjikan pertarungan seru.

    Keputusan untuk tidak ada memberi Haney kesempatan rematch juga didasarkan pada upaya menjaga citra Garcia. Haney kemudian timnya terus menyindir hasil tes positif Garcia terkait zat terlarang Ostarine setelahnya pertarungan mereka, yang mana berisiko merusak reputasi sang bintang. De La Hoya mengamati pertarungan melawan Lopez sebagai langkah strategis untuk menguatkan nama besar Garcia tanpa terganggu kontroversi lama.

    Jika pertarungan antara Garcia (24-1, 20 KO) lalu Lopez benar-benar terwujud, ini akan menjadi duel yang dimaksud tidak ada belaka menyuguhkan aksi luar biasa pada menghadapi ring, tetapi juga meningkatkan daya tarik tinju dalam kancah internasional. Dengan karisma juga popularitas Garcia yang mana luar biasa di area media sosial, dan juga reputasi Lopez sebagai petarung tangguh, duel ini diprediksi menjadi salah satu laga yang dimaksud paling ditunggu tahun ini.

  • Petinju Hassan Mgaya Meninggal Planet setelahnya Dipukul KO Lawan Paul Elias

    Petinju Hassan Mgaya Meninggal Planet setelahnya Dipukul KO Lawan Paul Elias

    Ligapedianews.com Hassan Mgaya, manusia petinju profesional jika Tanzania, meninggal dunia pada 30 Desember 2024 akibat cedera parah yang dimaksud dideritanya setelahnya mengalami knockout pada pertandingan melawan Paul Elias. Laga kelas ringan yang dimaksud berlangsung di tempat Global Ndogo Hall, Tandale, Dar es Salaam, pada 27 Desember 2024.

    Menurut laporan, Mgaya mengalami pukulan keras di tempat kepala selama ronde kelima yang menyebabkan dirinya jatuh pingsan di tempat melawan ring. Ia sempat diberikan pertolongan pertama serta dirawat pada Palestina Hospital, Sinza, sebelum dipindahkan ke Mwananyamala Hospital juga akhirnya ke Muhimbili National Hospital. Namun, kondisinya terus memburuk hingga ia menghembuskan napas terakhirnya, menurut laporan yang mana diterbitkan WBC, Hari Jumat (3/1/2025).

    Mgaya dikenal sebagai salah satu petinju yang mana giat pada kancah tinju profesional pada Tanzania. Kendati demikian, ia juga menjadi salah satu dari dua petinju dalam negara yang dimaksud yang meninggal pasca berjuang di waktu dekat. Sebulan sebelumnya, petinju Abbasi Mselem juga wafat akibat cedera di area melawan ring.

    Presiden WBC, Mauricio Sulaiman , bersatu seluruh keluarga besar organisasi tersebut, menyampaikan belasungkawa untuk keluarga kemudian teman-teman Hassan Mgaya. Kepergiannya menjadi pengingat penting akan perlunya keselamatan serta proteksi tambahan di olahraga tinju. Upacara pemakaman berlangsung pada 1 Januari 2025 di dalam Vingunguti, Dar es Salaam

    Ke depan, diharapkan tinju Tanzania dapat terus memperbaiki regulasi keamanan untuk menghindari tragedi serupa.

  • Sunny Edwards: Bam Hancurkan Wajahku, Membuatku Setengah Buta

    Sunny Edwards: Bam Hancurkan Wajahku, Membuatku Setengah Buta

    Ligapedianews.com – Sunny Edwards mengungkapkan Jesse Rodriguez menghancurkan wajahnya dan juga membuatnya setengah buta pada pertarungan yang mana spesial. Ketika individu petarung yang digunakan kurang ajar, blak-blakan dan, terkadang, tak kenal ampun pada media sosial seperti Sunny Edwards terjatuh, kerap kali ada berbagai orang yang mengantisipasi untuk menendangnya.

    Edwards berselisih dengan berbagai orang di area media sosial, baik yang digunakan ia kenal maupun tidak. Meskipun ia memiliki pertahanan yang tersebut baik dalam berhadapan dengan ring tinju, ada kemungkinan besar ia sudah menangkis lebih lanjut banyak orang pada X daripada pukulannya dalam melawan ring.

    Namun semangat juangnya pada waktu kalah dari Jesse “Bam” Rodriguez yang luar biasa, kemudian kerendahan hati yang digunakan ia tunjukkan pada waktu menerima kekalahannya, antrean yang dimaksud mengantre untuk memasukkan sepatu tinjunya bukan sepanjang yang diperkirakan.

    Bagi Edwards, walau ia tidak ada yakin akan mendapatkan pembalasan yang setimpal, ia selalu cukup realistis untuk mengetahui bahwa suatu hari nanti ia kemungkinan besar akan bertemu dengan lawannya di dalam di ring.

    “Apakah anda tahu? Saya kira satu hal adalah saya selalu menerima kenyataan bahwa suatu hari nanti, hasil yang dimaksud dapat semata terjadi,” kata petinju berusia 28 tahun ini.

    “Saat saya datang, saya setiap saat siap untuk masuk juga berkompetisi dengan siapa pun yang mana dia izinkan, sungguh, namun ketika saya masuk ke pada arena dalam Amerika dengan di malam hari terbesar di satu minggu pada dunia tinju akan berlangsung, atau begitulah yang tersebut saya rasakan, juga masuk ke pada arena dan juga mengamati pertarungan antara dua juara dunia yang masih muda dan juga belum terkalahkan dan juga momen yang disebutkan adalah hal yang sangat saya syukuri, sebab jikalau Anda bertanya untuk saya beberapa tahun yang dimaksud lalu, saya rasa hal seperti ini bukan akan terjadi jikalau saya berada dalam pada pertarungan utama,”paparnya.

    Kekalahan dari Bam membuatnya menderita. “Saya setengah buta di tempat satu mata juga tak dapat mengamati petarung terbaik di divisi ini serta divisi dalam atasnya, saya berada dalam sana semaksimal kemungkinan besar sampai saya bukan dapat melihatnya, juga saya dapat mengangkat tangan saya ke berhadapan dengan bahwa pria yang dimaksud lebih banyak baik yang menang pada waktu malam itu, juga saya tidak ada berpikir tentang diri saya sendiri,”jelasnya.

    “[Namun] bohong jikalau saya mengungkapkan tak ada pertanyaan yang dimaksud harus saya tanyakan juga jawab sendiri [setelahnya].”

    Namun, pertanyaan-pertanyaan itu muncul pada saat-saat yang dimaksud tenang di hidup Sunny, tidak setelahnya. Hal itu cukup kacau, namun di waktu enam bulan, Edwards sudah pernah kembali ke sasana, menjalani pemusatan latihan lalu kembali dengan kemenangan menghadapi Adrian Curiel.

    “Saya kalah dari Bam, wajah saya rusak lantaran pukulannya serta saya berada di tempat Arab Saudi setelahnya terbang dari Amerika beberapa hari kemudian. Saya berhenti dalam Inggris kemudian berada dalam Saudi pada hari Rabu, di dalam sana untuk menggalang Lyndon [Arthur] ketika ia berlaga melawan [Dmitry] Bivol. Saya merasa setengah bertanggung jawab, sebab saya terlibat di perbincangan ketika ia bertanding, maka saya berpikir, ‘Saya tidaklah dapat tidak ada pergi ke sana. Maka, saya berada di dalam sana dengan seluruh memar juga wajah saya hampir tak utuh seminggu kemudian, maka dengan menunjukkan wajah saya, saya bangga pada diri saya. Saya bangga dengan diri saya sebagai seseorang petinju. Itu kemungkinan besar bagian dari hidup saya yang digunakan paling saya banggakan, pada arti, saya telah dilakukan bekerja keras. Saya telah dilakukan melakukan hal-hal yang tersebut orang lain habiskan seumur hidup untuk mencapainya. Apakah saya akan menikmatinya sebanyak yang dimaksud seharusnya? Tidak, oleh sebab itu saya mempunyai ekspektasi yang tersebut tinggi terhadap diri saya sendiri.”